Hukum Oral Seks dalam Islam

7
8048

BincangSyariah.Com – Hubungan biologis bagi sepasang suami dan istri merupakan salah satu tujuan dalam ikatan pernikahan. Dengan hubungan tersebut, salah satu tujuan pernikahan dapat diusahakan untuk tercapai, yaitu memiliki keturunan. Menurut dokter Aditiya Pratama dalam situs Alodokter, durasi bercinta yang baik antara suami dan istri itu bukan dilihat dari lamanya. Semakin lama durasi bercinta justru akan sering berakibat pada penurunan tingkat kepuasan pasangan. Menurutnya, durasi bercinta pasangan suami dan istri yang normal adalah antara 3 hingga 13 menit.

Dalam melakukan hubungan seks, suami dianjurkan untuk melakukan pemanasan terlebih dahulu agar keduanya mendapat klimaks hubungan biologis sesuai yang diinginkan. Dalam agama, melakukan pemanasan sebelum melakukan hubungan intim memang sangat dianjurkan. Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyah dalam kitabnya Zadul ma’ad fi hadyi khairil ‘ibad mengatakan bahwa hendaknya sebelum melakukan hubungan intim itu harus ada foreplay (pemanasan) terlebih dulu. Menurutnya, hal inipun dilakukan Rasulullah Saw. terhadap istri-istrinya. Istilah foreplay dalam kitab-kitab fikih klasik disebut dengan mula’abah, dan dalam istilah kontemporer disebut dengan muda’abah.

Menurut pendidikan seks, banyak cara foreplay yang bisa dilakukan sepasang suami-istri. Hal itu bisa dilakukan misalnya dengan tiga kategori, yaitu suara, sentuhan, dan oral. Dengan suara, misalnya Anda bisa merayu pasangan, mendesahkan suara mesra di telinga pasangan, dan lain sebagainya. Terkait sentuhan, Anda bisa memulai dengan menyentuh beberapa bagian tubuh pasangan. Misalnya dengan menyentuh perlahan mulai bagian tangan, lengan, leher, wajah, lalu diakhiri dengan ciuman.

Seperti dikutip dari Alodokter, teknik oral bisa begitu menggoda bagi sebagian wanita.  Anda bisa menjadikannya sebagai salah satu cara merangsang wanita yang cukup efektif. Namun demikian, Anda jangan langsung terburu-buru kepada bagian intinya. Mulailah dengan mencium bagian perut, lalu goda bagian intimnya dengan jemari Anda, sambil memberikan ciuman lembut pada paha bagian dalam, dan sampai pada oral seks.

Baca Juga :  Hukum Hubungan Intim dengan Boneka Seks

Mungkin di antara kita umat Islam masih ada yang ragu bahwa oral seks merupakan hal yang terlarang dan ajaran barat yang tidak boleh diikuti sama sekali. Memang secara medis seks oral dapat menyebabkan hepatitis, kanker mulut, dan kanker tenggorokan. Meski demikian, aktivitas seks oral pada pasangan monogami yang tidak berganti-ganti pasangan dianggap memiliki risiko penularan penyakit infeksi menular seksual yang lebih rendah. Bagaimankah pendapat ulama fikih terkait oral seks? Syekh Zainuddin al-Malibari dalam Fathul Muin (Dar Ibn Hazm; 42) membolehkan oral seks bagi pasangan suami-istri dalam perkataannya berikut:

Suami boleh melakukan foreplay apapun selain melakukan anal seks yang dilarang (Baca: Apakah Anal Seks Termasuk Zina?), sehingga melakukan oral seks dengan cara memberi rangsangan pada klitoris istri atau suami meminta dionani (atau dioral seks) oleh istri  itu diperbolehkan. Namun demikian, lelaki tidak boleh melakukan onani dengan tangannya sendiri walaupun ia takut terjerumus dalam zina. Pendapat tersebut berbeda dengan pendapat Imam Ahmad (yang membolehakan onani saat seorang lelaki belum mampu menikah karena mahar yang diminta perempuan terlalu tinggi, sehingga lelaki tersebut masih membujang dan sudah tidak tahan lagi melampiaskan hasratnya).

Imam Ibnu ‘Abidin dalam kitab Raddul mukhtar ‘ala ad-durril mukhtar (Dar al-Fikr: juz 6, 367) menyebutkan riwayat Imam Abu Yusuf yang bertanya kepada gurunya, Imam Abu Hanifah, “Guru, bagaimana hukumnya suami yang melakukan oral seks terhadap istrinya, dan begitupun sebaliknya untuk membangkitkan gairah seksual? Apakah menurut Anda hal itu terlarang?” “Enggak kok, malah saya berharap itu adalah pahala besar untuk amal akhirat,” jawab Imam Abu Hanifah pada muridnya, Abu Yusuf. Namun demikian, ulama mazhab Hanbali dalam kitabnya al-Inshaf fi ma’rifah al-rajih minal khilaf (Dar Ihya al-Turats al-‘Arabiy; juz 8, 33), menyebutkan bahwa melakukan oral seks setelah melakukan hubungan intim itu dimakruhkan. Wallahu A’lam.

7 KOMENTAR

  1. Bagai mana hukumnya,kita sdh pny istri tapi siistri kalau diajak berhubungan intim selalu menolak,lantas sebagai suami melakukan onani sendiri tampa sepengatuan istri.
    Gimana hukumnya menurut pandangan Islam?

    • Kalau istrinya gak mau terus karena tdk ada alasan apa-apa, boleh onani, drpd berzina. Tp klo istri sesekali menolak krn lelah mengurusi rmh tangga atau habis pulang kerja, maka sebaiknya menahan diri dulu. Klo tdk kuat menahan, ya boleh jg onani.

  2. Apabila kita seorang suami jauh dari istri,, dan merasa butuh untuk berhubungan intim, apakah boleh melakukan onani

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here