Hukum “Murajaah” Bacaan Alquran bagi Hafizah yang Haid

0
2215

BincangSyariah.Com –  Alquran merupakan kitab suci umat Islam yang sangat banyak manfaatnya. Bahkan ia dapat menjadi syafaat di hari kiamat bagi pembacanya. Nabi Saw. bersabda: “Bacalah alquran, kelak ia akan datang di hari Kiamat memberi syafaat kepada para pembacanya.” (HR. Muslim). Alquran juga akan memberikan manfaat lebih jika tidak hanya sekedar dibaca, tetapi juga dihafalkan dan diamalkan.

Ibnul Atsir dalam kitab An Nihayah menyebutkan bahwa orang yang dapat menghafal dan mengamalkan Alquran disebut dengan ahli Alquran. Bahkan di dalam hadis disebutkan bahwa ahli Alquran mendapatkan keistimewaan khusus di sisi Allah. Nabi Saw. bersabda,“sesungguhnya Allah mempunyai keluarga dari kalangan manusia.” Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, siapakah mereka itu?” Beliau menjawab: “Mereka adalah ahli Alquran, keluarga Allah dan orang-orang yang istimewa bagi Allah.” (HR. An Nasai, Ibnu Majah, Ahmad dan Ad Darimi.).

Selain itu, ahli Alquran juga akan mendapatkan mahkota kehormatan. Alquran sendiri yang akan meminta kepada Allah agar memakaikan mahkota kehormatan bagi mereka. Rasulullah Saw. bersabda,”Pada hari kiamat, Alquran akan datang kemudian berkata. “Wahai Rabb berilah dia (penghafal Alquran) pakaian.” Maka dipakaikanlah kepadanya mahkota kemuliaan, kemudian Alquran berkata lagi. “Wahai Rabb, tambahkanlah kepadanya,” maka dipakaikan kepadanya pakaian kemuliaan, kemudian ia berkata lagi. “Wahai Rabb ridailah dia.” Akhirnya dia pun diridai, kemudian dikatakan kepada ahli Alquran; “Bacalah dan naiklah, niscaya akan ditambahkan kepadamu satu pahala kebaikan pada setiap ayat.” (HR. At Tirmidzi)

Kemuliaan-kemuliaan yang akan didapatkan oleh ahli Alquran itulah yang banyak memotivasi umat Islam untuk menghafal Alquran. Baik dari kalangan laki-laki maupun wanita. Tetapi mereka harus benar-benar mampu menjaganya dengan selalu mengulang-ulang atau me-murajaah hafalan Alqurannya di setiap kesempatan agar tidak mudah hilang dari ingatan.

Baca Juga :  Hukum Wanita Haid Mengajarkan Alquran

Lalu bagaimana hukumnya murajaah bacaan Alquran bagi wanita yang haid? Bukankah diharamkan bagi wanita yang berhadas besar untuk membaca Alquran? Sebagaimana hadis Nabi Saw. “Wanita haid dan junub tidak boleh membaca sedikit pun dari Alquran.” (HR al Tirmidzi)

Muhammad Ardani bin Ahmad di dalam kitabnya Risalah Haidl Nifas dan Istihadloh telah memberikan penjelasan tentang hal tersebut di dalam bab khusus yang berjudul “Orang Hafal Alquran yang khawatir lupa apabila tidak membaca tatkala haidl atau nifas.” Beliau mengutip keterangannya dari kitab I’anatut Thalibin, Al Bajuri dan Bughyatul Musytarsyidin yang menjelaskan bahwa Orang Haidl atau nifas haram membaca Alquran kalau disengaja niat membaca Alquran. Tetapi kalau tidak sengaja membaca Alquran sama sekali, seperti niat zikir, doa, mencari barakah menghafal atau meluruskan bacaan yang salah maka tidak haram.

Oleh karena itu, wanita yang menghafal Alquran/surat-surat Alquran kalau khawatir lupa tatkala haid atau nifas supaya mengulang hafalan Alquran di dalam hati, atau berbisik-bisik dengan lisan dengan tanpa didengar oleh dirinya (seperti orang bisu), atau membaca secara biasa dengan tidak bermaksud membaca Alquran, tetapi dengan niat-niat tersebut.

Oleh karena itu tidak ada larangan bagi wanita haid untuk melafalkan Alquran selama itu dimaksudkan tidak membaca Alquran. Seperti halnya membaca lafal istirja Innalillahi wa Inna Ilaihi Rajiun.” ketika mendapatkan musibah. Sebagaimana pula membaca doa-doa yang bersumber dari Alquran seperti “Rabbana atina fid dunya hasanah wa fil akhirati hasanah waqina adzaban nar.”(QS. Al Baqarah ayat 201), atau membaca doa ketika hendak naik kendaraan “Subhanal ladzi Sakhhara Lana Hadza wa ma kunna lahu muqrinin.” (QS. Al Zukhruf ayat 13).

Baca Juga :  Hukum Membuka Lembaran Alquran dengan Ludah

Maka, semuanya itu boleh diucapkan dengan niat zikir (mengingat). Khususnya bagi wanita penghafal Alquran yang disebut juga dengan hafizah yang memiliki tanggung jawab untuk menjaga hafalannya. Maka, ia boleh tetap memurajaah dengan niat berdzikir (mengingat), bukan membaca Alquran.

Namun, meskipun begitu ada pula sebagian pondok pesantren khusus menghafal Alquran yang tetap tidak memperbolehkan para santrinya ketika haid untuk membaca atau memurajaah hafalannya karena sebagai bentuk kehati-hatian atas haramnya wanita membaca Alquran ketika berhadas besar.

Wa Allahu A’lam bis Shawab.



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here