Hukum Membaca Al-Quran Terjemahan Saat Haid

0
15

BincangSyariah.Com – Ketika wanita sedang haid, maka dia tidak boleh membaca Al-Quran. Namun bagaimana jika dia hanya membaca Al-Quran terjemahan saat haid, apakah juga tidak boleh?

Membaca Al-Quran terjemahan bagi wanita yang sedang haid hukumnya adalah boleh. Selama yang wanita haid baca adalah terjemahannya, bukan lafadz-lafadz dan kalimat-kalimat Al-Quran, maka tidak masalah bagi wanita yang sedang haid membacanya.

Hal ini karena terjemahan Al-Quran bukan Al-Quran itu sendiri, melainkan makna dari Al-Quran. Menurut para ulama, menyentuh dan membaca makna Al-Quran, termasuk terjemahan dan tafsirnya, hukumnya boleh bagi orang junub, begitu juga wanita yang sedang haid.

Ini sebagaimana tercantum dalam kitab Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah berikut;

يَجُوزُ عِنْدَ جُمْهُوْرِ الفُقَهَاءِ لِلْمُحْدِثِ مَسَّ كُتُبِ التَّفْسِيْرِ وَإِنْ كَانَ فِيْهَا آَيَاتٌ مِنَ الْقُرْآنِ وَحَمِلَهَا وَالْمُطَالَعَةِ فِيْهَا ، وَإِنْ كَانَ جُنُباً ، قَالٌوا : لِأَّنَّ الْمَقْصُودَ مِنَ التَّفْسِيْرِ : مَعَانِي القرآن ، لَا تِلاَوَتُهُ ، فَلاَ تَجْرِي عَلَيْهِ أَحْكَامَ القرآن

Menurut kebanyakan para ulama, orang yang hadas boleh menyentuh kitab tafsir, membawanya, atau mempelajarinya. Meskipun di sana terdapat ayat-ayat Al-Quran. Mereka mengatakan, karena sasaran kitab tafsir adalah makna Al-Quran, bukan untuk membaca Al-Quran. Sehingga tidak berlaku aturan Al-Quran.

Dengan demikian, asalkan yang ia baca adalah terjemahannya saja tanpa ia membaca lafadz-lafadz Al-Qurannya, maka hukumnya boleh. Namun jika ia juga membaca lafadz-lafadz Al-Quran, maka hukumnya tidak boleh.

Ini sebagaimana tercantum dalam kitab Hasyiah Al-Bujairimi ‘ala Al-Iqna’ berikut;

وَالثَّالِثُ قِرَاءَةُ شَيْءٍ مِنْ الْقُرْآنِ بِاللَّفْظِ أَوْ بِالْإِشَارَةِ مِنْ الْأَخْرَسِ كَمَا قَالَ الْقَاضِي فِي فَتَاوِيهِ ، فَإِنَّهَا مُنَزَّلَةٌ مَنْزِلَةَ النُّطْقِ هُنَا وَلَوْ بَعْضَ آيَةٍ لِلْإِخْلَالِ بِالتَّعْظِيمِ ..لِحَدِيثِ التِّرْمِذِيِّ وَغَيْرِهِ :لَا يَقْرَأْ الْجُنُبُ وَلَا الْحَائِضُ شَيْئًا مِنْ الْقُرْآنِ

Yang ketiga adalah membaca Al-Quran dengan menggunakan lafadz atau isyarah bagi orang yang bisu, sebagaimana Al-Qadhi mengutarakannya dalam kitab Fatawi-nya. Hal ini karena isyarah orang bisu disamakan dengan ucapan dalam masalah ini, meskipun membaca sebagian ayat karena hal itu merusak pengagungan terhadap Al-Quran. Ini berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Imam Al-Tirmidzi dan lainnya: Tidak boleh wanita haid dan orang yang dalam keadaan junub membaca ayat Al-Quran.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here