Hukum Memandang Wajah Wanita, dari Fikih Hingga Tasawuf

0
1887

BincangSyariah.Com – Para ulama memiliki cara pandang yang berbeda tentang memandang wajah wanita. Ulama fiqih lebih melihat kepada hukum formalnya, yaitu mubah, makruh, atau haram. Pendapat fuqaha dalam masalah ini dapat dikelompokkan menjadi empat sebagaimana dijelaskan dalam Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaityyah sebagi berikut:

Pendapat pertama, boleh melihat wajah dan kedua telapak tangan wanita ajnabiyyah (bukan mahram) selama tidak menimbulkan syahwat. Sedangkan anggota tubuh selain itu haram dilihat kecuali dalam keadaan darurat. (Baca: Apakah Wajah Perempuan Aurat?)

Pendapat kedua, laki-laki yang tidak memiliki alasan syar’i haram melihat wajah dan kedua telapak tangan wanita ajnabiyyah, seperti haramnya melihat anggota tubuh yang lain, baik dikhawatirkan terjadi fitnah atau tidak.

Pendapat ketiga, haram memandang tubuh wanita ajnabiyyah dengan tanpa alasan atau hajat, dan makruh melihat wajah dan kedua telapak tangannya, serta sunah mejamkan mata, tidak memandang wajah dan telapak tangan mereka.

Pendapat keempat, boleh melihat wajah, kedua telapak tangan, dan kedua telapak kaki wanita ajnabiyyah dengan tanpa syahwat.

Sementara melihat anggota tubuh yang biasa diberi perhiasan (kepala, wajah, tangan dan kaki sampai lutut) dari wanita mahram hukumnya boleh selama tidak menimbulkan syahwat.

Penjelasan lebih luas bisa dibaca dalam kitab Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah, di sana dijelaskan mazhab dan ulama yang berpendapat sekaligus dalil-dalil naqli dan aqli yang menjadi dasar pendapat mereka.

Sedangkan ulama tasawwuf lebih cenderung membahas masalah memandang wanita ajnabiyyah dari aspek potensi bahaya yang bisa merusak hati. Masalah ini telah dijelaskan panjang lebar oleh Imam Ghazali dalam Ihya Ulumuddin pada Kitabu Kasri Syahwataini (Kitab Tentang Menghancurkan Dua Syahwat). Ibnu Hajar al-Haitami dalam Az-Zawajir ‘an Iqtirafil Kabair juga mengutip banyak hadis yang mengingatkan agar laki-laki bisa menjaga pandangan, karena banyak perbuatan yang diharamkan bermula dari memandang. Ibnu Hajar mengutip sabda Nabi:

Baca Juga :  Kapan saja Muslimah Harus Memakai Jilbab?

النَّظْرَةُ سَهْمٌ مَسْمُومٌ مِنْ سِهَامِ إبْلِيسَ مَنْ تَرَكَهَا مِنْ مَخَافَتِي أَبْدَلْتُه إيمَانًا يَجِدُ حَلَاوَتَهُ فِي قَلْبِهِ

Memandang adalah anak panah beracun dari beberapa anak panahnya Iblis, siapa yang meninggalkannya karena takut Aku, Aku akan menggantinya dengan iman yang dirinya akan merasakan manisnya iman tersebut dalam hati.”

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَنْظُرُ إلَى مَحَاسِنِ امْرَأَةٍ ثُمَّ يَغُضُّ بَصَرَهُ إلَّا أَحْدَثَ اللَّهُ لَهُ عِبَادَةً يَجِدُ حَلَاوَتَهَا فِي قَلْبِهِ

Tidaklah seorang mukmin melihat kecantikan wanita, kemudian memejamkan matanya, kecuali Allah akan melahirkan untuknya sebuah ibadah yang dia akan merasakan manisnya ibadah tersebut dalam hati.”

Al-Munawi dalam Faidl al-Qadir menjelaskan, anak panah beracun tersebut oleh Iblis diarahkan tepat di hati manusia, sehingga tidak ada cara untuk menghindar kecuali dengan memejamkan mata atau berpaling menjauh. Rupa kecantikan wanita adalah busur yang akan akan melesatkan anak panah itu, jika kita tidak berdiri searah dengan busur itu maka anak panah tidak akan mengenai hati kita, tapi jika kita memposisikan hati sebagai sasaran bidik, maka anak panah akan mengenai hati kita.

Lalu bagaimana memandang kecantikan wanita yang halal untuk dilihat, seperti memandang kecantikan istri kita sendiri?

Abu Nu’aim al-Ashbihani dalam Hilyatul Auliya menceritakan hadis dlaif dan gharib dari Jabir, Rasulullah bersabda:

اَلنَّظْرُ اِلَى وَجْهِ الْمَرْأَةِ الْحَسْنَاءَ وَالْخُضْرَةَ يَزِيْدَانِ فِي الْبَصَرِ

Memandang wajah wanita yang cantik dan memandang tumbuhan hijau bisa menambah kuatnya penglihatan.”

Imam Suyuthi dalam Jami’us Saghir juga meriwayatkan hadis tersebut dengan lafal:

النَّظْرُ إِلَى الْمَرْأَةِ الْحَسْنَاءِ وَالْخُضْرَةِ يَزِيْدَانِ فِي الْبَصَرِ

“Memandang wanita cantik dan memandang tumbuhan hijau bisa menambah kuatnya penglihatan”

Imam Suyuthi di tempat lain dalam Jami’us Saghir meriwayatkan:

Baca Juga :  Peran Ibu dalam Pertumbuhan Jiwa Anak

ثَلَاثٌ يُجْلِيْنَ الْبَصَرَ النَّظْرُ إِلَى الْخُضْرَةِ، وإِلَى الْمَاءِ الْجَارِى، وَإِلَى الْوَجْهِ الْحَسَنِ

Ada tiga perkara yang bisa menjernihkan mata: memandang tumbuhan hijau, memandang air mengalir, dan memandang wajah rupawan.”

Menurut al-Munawi dalam Faidl al-Qadir, hadis di atas bisa dipahami dalam dua pengertian: Pertama, mungkin yang dimaksud adalah pandangan mata (bashar) akan semakin jernih dengan memandang tumbuhan hijau, sungai yang mengalir jernih dan kecantikan yang menyenangkan hati. Kedua, mata hati (bashirah) semakin tajam dengan cara mengambil ibrah (pelajaran) dari hijaunya tumbuhan dan hidup suburnya bumi setelah sebelumnya mati dan gersang. Begitu pula memandang wanita yang halal, bisa menghindarkan mata dari wanita lain yang tidak halal, sehingga hidayah yang ada pada hati menjadi semakin kuat dan akhirnya bisa selamat dari keburukan hawa nafsu.

Keutamanaan lain tentang melihat wanita yang halal, dalam hal ini adalah istri, diriwayatkan oleh Ibnu Hajar al-Haitami dalam kitab al-Ifshah an Ahaditsin Nikah dari Abi Sa’id, Rasulullah bersabda:

انَّ الرَّجُلَ اِذَا نَظَرَ إِلَى اِمْرَأَتِهِ وَنَظَرَتْ اِلَيهِ نَظَرَ اللهُ الَيْهِمَا نَظْرَ رَحْمَةٍ فإذَا اَخَذَ بِكَفِّهَا تَسَاقَطَتْ ذُنُوْبُهُمَا مِنْ خِلَالِ اَصَابِعِهِمَا

“Sungguh ketika suami memandang istrinya, dan istrinya memandang dirinya, maka Allah memandang keduanya dengan pandangan kasih sayang. Ketika suami memegang telapak tangan istrinya, maka dosa keduanya akan rontok dari sela jari-jemari.”

Intinya, memandang wanita ajnabiyyah dengan syahwat hukumnya haram sehingga bisa merabunkan mata serta menggelapkan hati. Sebaliknya, memandang kecantikan wanita yang halal dapat berguna menjernihkan mata dan hati. Apalagi memandang istri dengan penuh cinta, maka pandangan itu akan diridai oleh Allah sehingga Allah memandang dengan kasih sayang. Maka menjaga pandangan sangatlah penting, agar hati selalu terjaga.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here