Hukum Memakai Sanggul Palsu

0
33

BincangSyariah.Com – Sanggul adalah menata rambut perempuan yang dicirikan dengan menarik sebagian besar  rambut ke belakang dan kemudian menggelungkannya. Umumnya, agar rambut terlihat lebih tebal dan baik ketika digelung, maka diselipkan sanggul palsu, ada yang terbuat dari kain, ada yang terbuat dari rambut manusia, dan macam jenis lainnya. Sebenarnya bagaimana hukum memakai sanggul palsu?

Mengenai hukum memakai sanggul palsu, maka hukumnya sama dengan memakai rambut palsu. Menurut para ulama, ada empat perincian hukum mengenai hukum memakai sanggul palsu dan rambut palsu ini.

Pertama, dihukumi haram jika sanggul palsu tersebut terbuat dari benda najis, seperti terbuat dari bulu binatang yang haram dimakan dan lainnya.

Kedua, dihukumi haram jika sanggul palsu tersebut berasal dari rambut manusia, meskipun rambut milik diri sendiri. Misalnya, memakai sanggul palsu dengan rambut sendiri yang sudah lepas. Begitu juga haram memakai sanggul palsu yang terbuat dari rambut milik orang lain.

Ketiga, boleh jika sanggul palsu tersebut terbuat dari benda suci, seperti terbuat dari kain dan mendapat izin dari suami.

Hal ini sebagaimana disebutkan dalam Hasyiah Al-Bujairimi berikut;

حاصله أن وصل المرأة شعرها بشعر نجس أو شعر آدمي حرام مطلقا سواء كان طاهرا أم نجسا من شعرها أو شعر غيرها بإذن الزوج أو السيد أم لا وأما وصلها بشعر طاهر من غير آدمي فإن أذن فيه الزوج أو السيد جاز وإلا فلا

Intinya, perempuan menyambung bulunya denga bulu yang najis atau bulu manusia adalah haram secara mutlak, baik bulu manusia itu suci atau najis, bulu milik diri sendiri atau orang lain, seizing suami dan tuan atau tidak. Adapun jika perempuan menyambung bulunya dengan bulu yang suci dari selain bulu manusia, jika mendapat izin dari suami atau tua, maka hukumnya boleh. Jika tidak mendapat izin suami atau tuan, maka tidak boleh.

Keempat, jika belum punya suami dan ingin memakai sanggul palsu yang terbuat dari benda suci, maka menurut Syaikh Abu Hamid Al-Isfirayini hukumnya adalah makruh, tidak haram. Sementara menurut sebagian ulama adalah haram. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam kitab Al-Syarh Al-Kabir berikut;

أما شعر غير الادمى فينظر فيه الي حال المرأة ان لم يكن لها زوج ولا سيد فلا يجوز لها وصله للخبر ولانها تعرض نفسها للتهمة ولانها تغر الطالب وذكر الشيخ ابو حامد وطائفة انه يكره ولا يحرم

Adapun rambut selain manusia, maka perlu dilihat kondisi seorang perempuan. Jika dia tidak punya suami, maka dia tidak boleh menyambungnya karena hadis di atas. Juga hal itu akan memunculkan prasangka negatif pada dirinya dan akan menipu calon (orang yang hendak meminangnya). Dan Syaikh Abu Hamid dan sekelompok ulama menyebutkan bahwa hal itu hanya makruh, tidak haram.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here