Hukum Melepas KB Spiral pada Jenazah

3
1529

BincangSyariah.Com – Untuk mengatur reproduksi wanita, kedokteran telah menyiapkan alat kontasepsi. Di antaranya spiral. Bagi wanita yang terlanjur meninggal dan belum melepas KB spiral, apakah orang yang melakukan pemulasaraan jenazah wajib melepasnya dengan memanggil dokter? (Buku Tata Cara Pemulasaraan Jenazah)

Hukum melepas KB spiral pada jenazah terjadi perselisihan pendapat di kalangan para ulama sebagai berikut:

Pertama, tidak diperbolehkan. Setiap benda yang dimiliki dan sudah masuk kedalam tubuh maka secara hukum benda tersebut dianggap istihlak atau tidak ada, walaupun masih utuh didalam tubuh. Sehingga tidak diperbolehkan untuk mengambil, merobek atau membongkar kuburan jenazah demi mengambil benda (seperti KB Spiral) yang telah masuk ke dalam tubuhnya. Dalam Syarah al-Bahjah (juz 6 vol.149) dijelaskan:

أَمَّا لَوْ بَلعَ مَالَ نَفْسِهِ فَلَا يُنْبَشُ لِاسْتِهْلَاكِهِ مِلْكَهُ فِي الْحَيَاةِ

“Andaikan seseorang menelan (memasukan ke dalam tubuh) hartanya sendiri maka tidak boleh membongkar kuburanya sebab benda tersebut dianggap telah istihlak (tidak ada)”.

Di sisi lain mengambil benda yang ada di dalam tubuh jenazah dianggap hatku hurmah lilmayit atau merusak kehormatan mayat. Hal demikian tidak dibenarkan oleh agama. Pendapat ini dipelopori oleh imam al-Jurjani dan al-‘Abdari.

Kedua, diperbolehkan. Abu Hamid dan al-Qodli Abu Thoyib melegalkan mengambil kembali benda yang telah masuk ke dalam tubuh jenazah. Benda yang berkaitan jenazah pada dasarnya secara umum itu milik ahli waris. Apabila jenazah terlanjur dikuburkan sebelum mengambilnya maka diperbolehkan membongkar kembali kuburan jenazah tersebut. Pendapat ini adalah pendapat yang kuat (qoul al-Ashoh). Hal ini juga termasuk dengan kasus KB spiral yang masih berada di tubuh jenazah. Dalam al-Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Kuwatiyah (juz 40 vol.21) dipaparkan:

Baca Juga :  Hukum Memindahkan Jenazah Karena Beda Pilihan Politik

وَفِي وَجْهٍ عِنْدَ الشَّافِعِيَّةِ : أَنَّهُ إِذَا بَلَعَ مَال نَفْسِهِ يُنْبَشُ قَبْرُهُ وَيُشَقُّ بَطْنُهُ لاِسْتِخْرَاجِهِ ؛ لأِنَّهُ صَارَ لِلْوَرَثَةِ بَعْدَ مَوْتِهِ

“Dalam satu pendapat dalam madzhab syafi’i : sesungguhnya ketika seseorang menelan ( meletakan ) benda kedalam tubuhnya ( kemudian meninggal dunia ) maka kuburanya harus dibongkar dan membuka tubuhnya guna mengeluarkan benda tersebut, sebab benda tersebut secara hukum telah menjadi milik ahli waris.”

Imam al-Nawawi dalam Raudhah al-Thalibin wa ‘Umdah al-Muftin (juz 1 vol.193) memberikan gambaran hukum dari para ulama:

وَلَوْ اُبْتُلِعَ مَالُ نَفْسِهِ وَمَاتَ فَهَلْ يُخْرَجُ وَجْهَانِ قَالَ الْجُرْجَانِي الْأَصَحُّ يُخْرَجُ.قُلْتُ وَصَحَّحَهُ أَيْضاً الْعَبْدَرِي وَصَحَّحَ الشَّيْخُ أَبُوْ حَامِد والْقاضِيْ أَبُوْ الطَّيِّبْ فِي كِتابِهِ الْمُجَرَّدِ عَدَمَ الْإِخْرَاجِ – إلى أن قال – وَحَيْثُ قُلْنَا يُشَقُّ جَوْفُهُ وَيُخْرَجُ فَلَوْ دُفِنَ قَبْلَ الشَّقِّ نُبِشَ كَذَلِكَ. 

Apabila( seseorang ) menelan benda dan meninggal dunia maka apakah benda tersebut harus dikeluarkan ? al-Jurjani berkata pendapat yang kuat (al-Ashoh)  dikeluarkan. Dan telah ditashih oleh al-‘abdari. Syaikh Abu Hamid dan al-Qodli Abu Thoyib berpendapat tidak dikeluarkan. Ketika berpendapat “dikeluarkan” maka bila dikubur sebelum mengambil benda tersebut maka kuburan harus digali” (Raudhah al-Thalibin, juz 1 vol.193).

Dari dua pendapat tersebut, otoritas mengenai melepas spiral pada jenazah wanita perlu dikonsultasikan ke dokter. Bila dokter menganggap melepas spiral itu tidak diperlukan, maka keluarga jenazah wajib memanggil dokter untuk melepasnya sebelum melakukan pemulasaraan jenazah lanjutan, seperti memandikan, menyalati, dan menguburkannya.

Wallahu A’lam.

3 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here