Hukum Melamar Perempuan yang Sedang Menjalani Masa Iddah

0
1143

BincangSyariah.Com – Ketika seorang perempuan talak dari suaminya, atau ditinggal mati oleh suaminya, maka dia wajib menjalani masa iddah atau masa menunggu. Kadang pada saat menjalani masa iddah tersebut, ada seorang laki-laki yang hendak melamarnya. Bagaimana hukum menerima lamaran dari laki-laki tersebut, apakah boleh?

Bagi perempuan yang sedang menjalani masa iddah, baik karena talak dengan suaminya, atau karena ditinggal mati oleh suaminya, maka dia tidak boleh menerima lamaran dari laki-laki lain sebelum masa iddahnya sudah berakhir. Ia haram menerima lamaran laki-laki tersebut, meskipun hanya dalam bentuk ucapan.

Selain itu, bagi seorang laki-laki tidak diperbolehkan melamar perempuan yang sedang menjalani masa iddah dengan menggunakan perkataan dan ucapan yang sharih atau jelas. Perkataan dan ucapan sharih adalah perkataan yang secara pasti menunjukkan adanya keinginan kuat untuk menikah dengan seorang perempuan. Misalnya, ‘Aku ingin menikahimu.’

Hal ini sebagaimana telah dijelaskan dalam kitab I’anatut Thalibin berikut;

يحرم التصريح بخطبة المعتدة من غيره رجعية كانت أو بائنا بطلاق أو فسخ أو موت

“Haram melamar perempuan yang sedang menjalani iddah dengan perkataan yang jelas, baik karena talak raj’i dan talak bain, atau karena fasakh, atau karena ditinggal mati oleh suaminya.”

Juga disebutkan dalam kitab al-Bajuri sebagai berikut;

ولا يجوز أن يصرح بخطبة معتدة عن وفاة أو طلاق بائن أو رجعي والتصريح ما يقطع بالرغبة في النكاح كقوله للمعتدة أريد نكاحك

“Dan tidak boleh melamar perempuan yang sedang iddah dengan perkataan yang jelas, baik karena iddah wafat, atau karena talak bain dan raj’i. Yang dimaksud perkataan jelas adalah perkataan yang secara pasti menunjukkan adanya keinginan kuat untuk menikah, seperti berkata kepada mu’taddah, ‘Akun ingin menikahimu.’”

Baca Juga :  Bolehkah Membatalkan Lamaran?

Adapun jika melamar dengan menggunakan perkataan sindiran atau majaz, maka hukumnya boleh. Yang dimaksud perkataan sindiran adalah perkataan yang tidak secara pasti menunjukkan keinginan untuk menikahi seorang perempuan. Misalnya, ‘Kamu cantik,’ dan lain sebagainya.

Dalam kitab Ghayah al-Taqrib, Syaik Abu Syuja’ mengatakan sebagai berikut;

ولا يجوز أن يصرح بخطبة معتدة ويجوز أن يعرض لها وينكحها بعد انقضاء عدتها

“Dan tidak boleh melamar perempuan yang sedang menjalani masa iddah dengan perkataan yang jelas, namun boleh melamarnya dengan cara sindiran dan menikahinya setelah selesainya masa iddah.”



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here