Hukum Khitan Bagi Perempuan

0
647

BincangSyariah.Com – Islam adalah agama yang sempurna. Hal ini dapat kita lihat dari bagaimana Islam mengatur semua aspek kehidupan penganutnya, termasuk di dalamnya adalah aspek kebersihan dan kesehatan. Syariat Islam memerintahkan kepada para penganutnya untuk selalu hidup bersih sebagai cerminan keimanan diri para pemeluknya. Kebersihan tersebut tidak hanya kebersihan lingkungan saja, namun juga kebersihan terhadap diri sendiri. Oleh karena itu, Islam memerintahkan penganutnya untuk melaksanakan khitan.

Jika dilihat dari sisi ilmu fiqih, tujuan adanya hukum khitan adalah untuk menghilangkan najis yang terdapat pada ujung kemaluan yang dapat mencegah keabsahan shalat. Hal ini disebabkan jika kulit kulup (ujung kemaluan laki-laki) belum dipotong, sangat mungkin bahwa sisa air kencing masih terkumpul di balik kulit tersebut. Sedangkan jika dilihat dari sisi medis, khitan dapat mencegah infeksi saluran kemih dan penyakit-penyakit kelamin yang lain. Hal ini karena ujung organ intim pria merupakan tempat tumbuhnya banyak bakteri yang sewaktu-waktu dapat menyerang organ tersebut, sehingga harus dihilangkan dengan cara khitan (dipotong).

Perintah khitan datang sejak zaman Nabi Ibrahim saw. Dalam satu hadis yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim disebutkan bahwa Nabi Ibrahim saw diperintahkan oleh Allah saw untuk melaksanakan khitan ketika berusia delapan puluh tahun.

اخْتَتَنَ إِبْرَاهِيمُ عَلَيْهِ السَّلَام وَهُوَ ابْنُ ثَمَانِينَ سَنَةً بِالْقَدُّومِ

“Nabi Ibrahim a.s. berkhitan saat berusia 80 tahun dengan kapak.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Sejak saat itulah, khitan menjadi salah satu ajaran yang diikuti oleh para pengikut Nabi Ibrahim, dan tetap dilestarikan sampai Nabi Muhammad saw diutus. Perintah untuk tetap mengikuti ajaran (millah) Nabi Ibrahim ini terekam jelas dalam firman Allah swt:

Baca Juga :  Ini Tiga Kewajiban Saat Mandi Suci dari Haid atau Nifas

ثُمَّ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ أَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

“Kemudian kami wahyukan kepadamu (Muhammad), “Ikutilah agama Ibrahim yang lurus, dan dia bukanlah termasuk orang yang musyrik.” (QS. An-Nahl: 123)

Para ulama bersepakat bahwa khitan bagi laki-laki adalah wajib. sedangkan, mereka berselisih pendapat terkait hukum khitan bagi perempuan. Para ulama Maliki, Hanafi, dan Hanbali menetapkan bahwa khitan bagi kaum perempuan adalah sunnah.

Pendapat ini didasarkan pada hadis yang menyebutkan bahwa khitan merupakan bagian dari fitrah dan disejajarkan dengan istihdad (mencukur bulu kemaluan), mencukur kumis, memotong kuku, dan mencabut bulu ketiak. Hadis yang dimaksud adalah sebagai berikut:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَنَّهُ قَالَ « الْفِطْرَةُ خَمْسٌ الاِخْتِتَانُ وَالاِسْتِحْدَادُ وَقَصُّ الشَّارِبِ وَتَقْلِيمُ الأَظْفَارِ وَنَتْفُ الإِبْطِ ». (رواه البخاري ومسلم)

“Dari Abu Hurairah RA, dari Rasulullah saw, beliau bersabda: fithrah manusia ada lima, yaitu khitan, mencukur bulu kemaluan, mencukur kumis, memotong kuku, dan mencabut bulu ketiak.”

Berbeda dengan ulama Maliki dan Hanafi, Syafi’i menganggap bahwa kewajiban khitan tidak hanya bagi berlaku bagi laki-laki, namun juga untuk perempuan. Hal ini sebagaimana disampaikan oleh an-Nawawi dalam al-Majmu’ Syarh al-Muhaddzab. Kewajiban tersebut didasarkan pada hadis berikut ini:

عَنْ أُمِّ عَطِيَّةَ الأَنْصَارِيَّةِ ، أَنَّ امْرَأَةً كَانَتْ تَخْتِنُ بِالْمَدِينَةِ فَقَالَ لَهَا النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم : لاَ تَنْهِكِي فَإِنَّ ذَلِكَ أَحْظَى لِلْمَرْأَةِ ، وَأَحَبُّ إِلَى الْبَعْلِ.

“Dari Ummi Athiyah al-Anshariyyah, sungguh kala itu terdapat seorang wanita di Madinah yang hendak berkhitan. Kemudian Nabi saw berkata : janganlah dihabiskan karena hal itu sangatlah berharga bagi wanita dan sangat disukai oleh suami.” (HR. Abu Daud)

Baca Juga :  Umur Wanita Haid dalam Fikih

Meskipun hadis tersebut dinilai dhaif oleh Abu Daud. Sebab kedhaifan hadis ini adalah terdapat rawi yang bernama Ubaidillah ibn Amr. Meskipun hadis ini dhaif, namun tidak serta merta diabaikan begitu saja, karena sebagaimana yang disampaikan oleh Ibn Hajar al-‘Asqalani, dalam Fathul Bari bi Syarh Shahih al-Bukhari bahwa hadis ini memiliki dua syahid (hadis penguat), yaitu satu hadis berasal dari Ummu Aiman, dan satu lainnya dari Anas bin Malik yang bernilai shahih.

Dari hadis tersebut, sekilas dapat terbaca bahwa khitan bagi perempuan memang sudah dilaksanakan pada zaman Nabi Muhammad saw, bahkan Nabi saw sampai memberikan arahan cara khitan yang baik bagi perempuan yaitu hanya memotong ujung saja. Hal ini jelas sangat berbeda dengan khitan bagi laki-laki yang memang memiliki alasan yang jelas untuk berkhitan dari sisi kesucian dan kebersihan. Sedangkan bagi perempuan lebih pada sifat pemuliaan semata.

Ibnu Qudamah di dalam al-Mughni menyebutkan bahwa berkhitan diwajibkan bagi kaum pria dan merupakan suatu kehormatan (dianjurkan) bagi kaum perempuan. Dan pendapat ini adalah pendapat mayoritas ulama’.

Dengan demikian, kecenderungan pada pendapat bahwa hukum khitan bagi laki-laki adalah wajib dan Sunnah bagi perempuan lebih besar dari pada pendapat yang mengatakan bahwa hukum khitan wajib bagi laki-laki dan perempuan. Wallahu a’lam.



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here