Hukum Istri Mengantar Jenazah Suami ke Kuburan

0
21

BincangSyariah.Com – Kematian merupakan sesuatu yang tidak bisa ditawar. Semua makhluk hidup pasti akan menemui ajalnya masing-masing. Hanya persoalan waktunya saja yang berbeda-beda. Setiap kematian selalu berarti perpisahan, dan dalam perpisahan tentu saja akan terselip kesedihan. Terlebih lagi jika yang meninggal itu adalah anggota keluarga kita, atau pasangan hidup kita, baik itu suami atau istri. Kesedihan tentunya menjadi hal yang mutlak. Apakah boleh istri mengantar jenazah suami ke kuburan?

Kerap ditemukan di masyarakat kita, para istri yang ditinggal mati oleh suaminya, mereka menginginkan untuk mengantarkan jenazah suaminya sebagai bentuk penghormatan terakhir bagi orang yang selama ini menemani hidupnya.

Polemik Mengenai Hukum Perempuan Mengantar Jenazah ke Kuburan

Sebelum secara spesifik menjawab pertanyaan tersebut, terlebih dahulu izinkan penulis untuk menyebutkan mengapa perempuan mengantar jenazah atau pergi ke kuburan menjadi polemik dalam Islam. Hal ini ternyata dipicu oleh sebuah hadis yang menyebutkan bahwasanya dahulu di zaman jahiliyyah, terdapat sebuah kebiasaan terkait kematian, yakni berteriak, memukul pipi dan menyobek baju. Ketiga hal tersebut biasa dilakukan oleh para perempuan, dan saat Nabi Muhammad diutus menjadi Rasul, ketiganya menjadi hal yang dilarang:

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ عُثْمَانَ بْنِ حَكِيمٍ الْأَوْدِيُّ حَدَّثَنَا جَعْفَرُ بْنُ عَوْنٍ عَنْ أَبِي الْعُمَيْسِ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا صَخْرَةَ يَذْكُرُ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ يَزِيدَ وَأَبِي بُرْدَةَ قَالَا لَمَّا ثَقُلَ أَبُو مُوسَى أَقْبَلَتْ امْرَأَتُهُ أُمُّ عَبْدِ اللَّهِ تَصِيحُ بِرَنَّةٍ فَأَفَاقَ فَقَالَ لَهَا أَوَ مَا عَلِمْتِ أَنِّي بَرِيءٌ مِمَّنْ بَرِئَ مِنْهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكَانَ يُحَدِّثُهَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَنَا بَرِيءٌ مِمَّنْ حَلَقَ وَسَلَقَ وَخَرَقَ

Artinya: “Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Utsman Al Audi berkata, telah menceritakan kepada kami Ja’far bin Aun dari Abu Al ‘Umais berkata; aku mendengar Abu Shakhr menyebutkan dari ‘Abdurrahman bin Yazid dan Abu Burdah keduanya berkata; Ketika Abu Musa semakin parah sakitnya, isterinya Ummu Abdullah, berbalik berteriak dengan tangisan hingga Abu Musa terbangun. Kemudian ia berkata kepada isterinya, “Tidak tahukah kamu bahwa aku berlepas diri dari sesuatu yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berlepas diri darinya! ” lalu ia membacakan hadits kepada isterinya, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku berlepas diri dari orang-orang yang menggundul rambut, berteriak-teriak dan menyobek-nyobek (kain).” (HR. Ibnu Majah, No. 1575, Kitab Jenazah)

Adanya larangan dalam hadits tersebut kemudian membuat perempuan terbatasi untuk mengantar jenazah ataupun pergi ke kuburan karena dikhawatirkan mereka akan melakukan tiga hal di atas. Namun demikian, terdapat pula salah satu penjelasan dari Sahabat Ummi Athiyyah RA bahwa larangan perempuan pergi ke kuburan merupakan sebuah larangan yang tidak dikuatkan:

عن أم عطية رضي الله عنها قالت نهينا عن اتباع الجنائز ولم يعزم علينا

Artinya, “Dari Ummi Athiyyah RA, ia berkata, ‘Kami dilarang untuk mengiringi jenazah dan larangan itu tidak dikuatkan atas kami,’” (HR Bukhari dan Muslim).
Dari penjelasan Ummi Athiyyah tersebut, kemudian ulama menyebutkan bahwa hukum perempuan mengantar jenazah ke kubur atau pergi ke kuburan dalam rangka ziarah adalah makruh jika dikhawatirkan akan berpotensi melakukan tiga kebiasaan zaman jahiliyyah sebagaimana yang telah disebutkan di atas. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Imam Nawawi dalam kitabnya Al-Majmu berikut:

واما النساء فيكره لهن اتباعها ولا يحرم هذا هو الصواب وهو الذى قاله اصحابنا

Artinya: “Adapun perempuan, maka dimakruhkan bagi mereka untuk ikut mengantar jenazah (ke kuburan), dan tidak haram. Pendapat ini yang benar, sebagaimana telah ditegaskan oleh ulama Syafiiyah.”

Pendapat Mazhab Maliki Mengenai Istri Mengantar Jenazah Suami

Bila dinyatakan bahwa hukumnya makruh, apakah berarti lebih baik istri tersebut berdiam diri saja di rumah dan tidak perlu mengantar jenazah suaminya? Ternyata terdapat sebuah pendapat dari kelompok ulama madzhab Malikiyyah yang memperbolehkan secara mutlak bagi perempuan untuk pergi mengantar jenazah jika yang meninggal adalah anggota keluarga atau suaminya. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam kitab Al-Fiqh al-Islamy:

أجاز المالكية خروج امرأة متجالَّة: عجوز لا أرب للرجل فيها، أو شابة لم يخش فتنتها في جنازة من عظُمت مصيبته عليها كأب وأم وزوج وابن وبنت وأخ وأخت

Artinya: “Ulama Malikiyah membolehkan perempuan tua yang tidak membuat laki-laki tertarik atau perempuan muda yang tidak dikhawatirkan menimbulkan fitnah untuk mengantar jenazah seseorang yang kematiannnya merupakan musibah besar baginya, seperti ayah, ibu, suami, anak laki-laki atau perempuan, saudara laki-laki atau perempuan.”

Dengan berbagai pertimbangan di atas, bisa kita simpulkan bahwa seorang istri boleh mengantar jenazah suaminya dengan catatan dia bisa menjaga diri jangan sampai melakukan tiga kebiasaan zaman jahiliyyah yakni berteriak, memukul pipi dan menyobek baju, karena ketiganya bisa dikategorikan sebagai indikator ketidakterimaan terhadap takdir Allah.

Tambahan lagi, mesti diingat bahwa saat suaminya meninggal, berarti istri telah memasuki masa iddah. Maka saat mengantar jenazah tersebut ia tidak boleh menggunakan pakaian yang bagus, tidak boleh memakai wewangian, tidak boleh bersolek, dan sepanjang perjalanan pulang maupun pergi tidak boleh mampir di kedai kopi. Wallahu a’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here