Hukum Istri Memakai Baju Suami

0
73

BincangSyariah.Com – Dalam kehidupan rumah tangga biasanya suami-istri sudah tidak rikuh lagi untuk saling berbagi dan bergantian memakai aksesoris yang dimiliki pasangannya, termasuk pakaian. Tentu pakaian yang dimaksud adalah pakaian yang netral bisa dipakai secara bergantian, misalnya sweater, jaket, atau kemeja. Istri memakai baju suami, atau suami memakai baju istri.

Dilansir dari laman Klikdokter, terdapat beberapa alasan mengapa istri memakai baju suami:

Pertama, merasa dekat. Menurut Seksolog Dr. Yvonne dari Amerika Serikat mengatakan bahwa aktivitas tukar barang di antara pasangan merupakan hal sudah lama menjadi kultur.  Bertukar barang termasuk pakaian memberikan perasaan lebih dekat dengan pasangan, apalagi ketika pasangan tersebut lagi dalam masa LDR (berjauhan).

Kedua, rasa memiliki. Menggunakan pakaian pasangan membuat wanita akan merasa percaya diri bahwa dia dan pasangannya saling memilki.

Ketiga, rindu aroma tubuh suami. Ketika seorang istri menggunakan pakaian suami itu menandakan ia merindukan aroma tubuh suami. Perilaku semacam ini bisa membuat istri nyaman dan bisa saja membuat ia tenang di saat merindukan suami.

Hadis Nabi tentang Memakai Pakaian Lawan Jenis

Memang Rasulullah saw. sendiri telah melarang laki-laki menggunakan pakaian wanita begitu juga sebaliknya wanita memakai pakaian laki-laki. Hal ini di dasarkan dari hadis yang diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah Ra.:

لعن الله الرجل يلبس لبسة المرأة، والمرأة تلبس لبسة الرجل

Allah melaknat laki-laki yang  memakai pakaiannya wanita begitu juga wanita yang memakai pakaiannya laki-laki.” (H.R Abu Daud)

Dari hadis di atas Rasulullah secara jelas mengatakan bahwa Allah melaknat laki-laki yang memakai pakaian wanita begitu juga sebaliknya wanita yang memakai pakaian laki-laki.

Hal ini dikarenakan dalam perbuatan semacam itu terdapat unsur tasyabbuh (menyerupai), laki-laki menyerupai wanita begitu juga wanita menyerupai laki-laki, di mana hal semacam ini menyalahi kodrat mereka masing-masing. Namun apakah kasus istri memakai baju suami masuk dalam hadis di atas? Mari kita kaji lebih lanjut!

Mengomentari hadis di atas, al-Munawi dalam kitab Faidh al-Qadir Syarh Jami’ as-Shagir (j.2 h. 158) mengutip perkataan imam Nawawi:

كما قال النووي حرمة تشبه الرجال بالنساء وعكسه لأنه إذا حرم في اللباس ففي الحركات والسكنات والتصنع بالأعضاء والأصوات أولى بالذم والقبح فيحرم على الرجال التشبه بالنساء وعكسه في لباس اختص به المشبه بل يفسق فاعله للوعيد عليه باللعن

Sebagaimana keterangan yang dikatakan  imam Nawawi bahwa, haram laki-laki menyerupai wanita begitu juga sebaliknya wanita menyerupai laki-laki. Hal ini dikarenakan, jika haram meniru dalam segi berpakaian maka dalam hal tingkah laku (gerakan, diam dan suaranya) tentu lebih mendapat celaan dan hinaan. Sehingga haram bagi laki menyerupai wanita begitu juga sebaliknya wanita menyerupai laki-laki dalam hal berpakaian yang dikhususkan bagi masing-masing dari mereka, bahkan pelakunya dijanjikan laknat oleh Allah Swt.” (Muhammad Abdur Rauf al-Munawi, Faidh al-Qadir Syarh Jami’ as-Shagir, jus 2 hal 158)

Imam Nawawi mengatakan ‘larangan memakai pakaian lawan jenis dikarenakan unsur tasyabbuh (menyerupai) adalah mengenakan pakaian yang khusus bagi lawan jenisnya. Semisal kebaya atau daster yang identik untuk kaum perempuan dipakai oleh laki-laki, hal ini tidak diperbolehkan karena ada unsur tasyabbuh (menyerupai) kepada perempuan.

Lantas bagaimana dengan laki-laki yang memakai daster perempuan pada lomba Agustusan, apakah termasuk tasyabbuh?  Perlu diketahui salah satu batasan sebuah perbuatan disebut tasyabbuh ataukah tidak adalah waktu dan tempat.

Aturan dalam lomba mengharuskan pria menggunakan daster atau kebaya. Terlebih lagi urf (kebiasaan masyarakat) memandang perilaku tersebut bukanlah tasyabbuh dengan perempuan, karena sehari-hari para laki-laki itu menggunakan pakaian yang sudah lumrah baginya. Mereka memakai daster tersebut karena mengikuti aturan perlombaan, bukan karena kebiasaan.

خامسا: الزمان والمكان لهما أثر في تحديد كون الفعل تشبها أو غير تشبه

Kelima, waktu dan tempat memiliki pengaruh dalam hal menetapkan apakah sebuah perbuatan termasuk dalam kategori tasyabbuh ataukah tidak.” (Dr. Wail Dhawahiri, at-Tasyabbuh Qawaiduhu wa Dhawabithuhu wa ba-du Tathbiqatuh al-Mu’ashirah, hal 23)

Istri Memakai Baju Suami Atau Sebaliknya

Memakai pakaian yang khusus untuk lawan jenis adalah haram. Hal tersebut didasarkan dari hadis sahih riwayat Abu Daud yang telah disebutkan sebelumnya bahwa Allah melaknat laki-laki yang memakai pakaian yang khusus bagi wanita begitu juga sebaliknya wanita memakai pakaian khusus laki-laki.

Namun imam al-Munawi dalam kitabnya Faidh al-Qadir Syarh al-Jami’ as-Shaghir menuturkan pendapat sekelompok ulama bahwa kata laknat yang dimaksud pada hadis di atas adalah at-tanfir (menjauhnya manusia) bukanlah laknat yang sebenarnya. Sehingga menurut kelompok ini hukum menggunakan pakaian lawan jenis tidak sampai haram melainkan hanya makruh.

قال جمع : ليس المراد هنا حقيقة اللعن بل التنفير فقط ليرتدع من سمعه عن مثل فعله

Sekelompok ulama berkata : yang dimaksud pada hadis di atas bukanlah laknat dengan hakikat yang sebenarnya melainkan ‘untuk menjauh’ saja, supaya orang yang mendengar hal itu tidak melakukan perbuatan yang sejenis (memakai pakaian yang menyerupai lawan jenis).” (Abdur Rauf al-Munawi, Faidh al-Qadir Syarh al-Jami’ as-Shaghir, jus 5 hal 269)

Meskipun kita mengikuti pendapat ulama yang mengatakan haram memakai pakaian yang khusus bagi lawan jenis, namun jika ada kebutuhan semisal istri sangat merindukan suami di saat mereka berjauhan dan rasa kangen tersebut bisa terobati dengan istri memakai pakaian suami sehingga rindunya bisa terobati dan kebutuhan lainnya, tentu hukumnya bisa berubah menjadi mubah (boleh) tidak lagi  haram. Hal ini sesuai dengan kaedah fikih :

الْحَاجَةُ تَنْزِلُ مَنْزِلَةَ الضَّرُورَةِ

 “Kebutuhan (al-hajat) bisa menempati posisinya darurat.” (Abdur Rahman as-Suyuthi, al-Asybah wa an-Nadhair, hal 88)

Alhasil, hukum istri memakai baju suami diperbolehkan bila yang dipakai adalah pakaian-pakaian yang netral bisa dipakai lelaki atau perempuan, seperti jaket, kaus, sweater, dan lain sebagainya. Semoga bermanfaat, wallahu a’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here