Hukum Bersalaman dengan Lawan Jenis

0
1210

BincangSyariah.Com – Dalam interaksi sesama manusia, bersalaman adalah tanda kesepakatan antara kedua belah pihak sejak dahulu. Bersalaman juga merupakan tanda kesetaraan antara kedua belah pihak dalam satu atau beberapa hal. Di masyarakat-masyarakat tertentu yang memiliki kelas sosial yang terpaut jauh, tidak semuanya memiliki budaya bersalaman.

Di Jepang misalnya, orang tidak ada yang bersalaman dengan kaisar Jepang. Justru mereka membungkuk kepada Kaisar sebagai tanda penghormatan. Bahkan di negara lain, masih ada yang memiliki budaya sujud, atau merapatkan kedua tangan di atas kepala.

Bagaimana dengan Islam? Islam, sebagaimana saat perkembangan awalnya di Jazirah Arab, tidak menafikan bersalaman. Dalam sebuah hadis Nabi Saw. disebutkan bahwa ketika seorang muslim bersalaman dengan muslim lainnya, maka dosa masing-masing akan gugur selama tangan mereka masih saling mencengkeram.

Cara bersalaman seperti ini merupakan perilaku Nabi Saw. yang begitu mulia, dimana dia memberikan perhatian penuh kepada yang dia hadapi. Cara beliau bersalaman direkam dalam kitab Aladab karya al-Baihaqi dari Anas bin Malik Ra.

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا صَافَحَ أَوْ صَافَحَهُ الرَّجُلُ لَا يَنْزِعُ يَدَهُ مِنْ يَدِهِ حَتَّى يَكُونَ الرَّجُلُ يَنْزِعُ، فَإِنِ اسْتَقْبَلَهُ بِوَجْهِهِ لَا يَصْرِفُهُ عَنْهُ حَتَّى يَكُونَ الرَّجُلُ يَنْصَرِفُ، وَلَمْ يُرَ مُقَدِّمًا رُكْبَتَيْهِ بَيْنَ يَدَيْ جَلِيسٍ لَهُ

Artinya:

Rasulullah Saw. itu jika bersalaman, atau ada seorang yang menyalaminya, dia tidak menarik tangannya dari tangan yang menyalaminya sampai yang menyalami menariknya. Jika yang menemuinya menghadap Nabi Saw. dengan wajahnya, Nabi Saw. tidak berpaling darinya sampai orang itu pergi. Dan, tidak pernah terlihat lutut Nabi Saw. di hadapan orang yang duduk di hadapannya.

Namun, untuk bersalaman antara laki-laki dan perempuan kesunahan di atas tidak diwujudkan karena pertimbangan kemaslahatan yang lain, yaitu menghindari fitnah antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram. Dalam sebuah hadis riwayat Malik dalam al-Muwattha dan al-Nasa’I dalam Sunan-nya, Rasulullah Saw. berkata:

Baca Juga :  Islam: Agama Pertama yang Menghapuskan Praktek Perdagangan Seks Perempuan

إني لا أصافح النساء

Artinya:

Sesungguhnya saya tidak menyalami perempuan.

Hadis tersebut sebenarnya diucapkan ketika ada sekelompok perempuan yang datang ingin berbaiat kepada Rasulullah Saw. untuk beriman dan patuh kepadanya. Ia menerima baiat tersebut. Namun, ketika mereka meminta bersalaman, Nabi berkata demikian.Hadis di atas dijadikan dalil bagi kelompok yang tidak membolehkan laki-laki menyalami perempuan, apalagi perempuan tersebut bukan mahram.

Namun, Syekh Wahbah al-Zuhaili dalam Alfiqh al-Islami wa Adillatuhu mengatakan kalau menurut pendapat mayoritas selain mazhab Syafi’i diperbolehkan menyalami perempuan yang sudah tua. Diperbolehkan juga menyalami perempuan yang masih kecil. Secara umum menyalami lawan jenis yang bukan mahram hukumnya haram. Sementara dalam mazhab Syafi’i bersalaman kepada lawan jenis, baik tua maupun muda, haram hukumnya.

Memang, belakangan ada ulama kontemporer seperti al-Qaradhawi yang membolehkan menyalami perempuan yang bukan mahram, jika memang aman dari fitnah dan tidak ada syahwat. Karena itu, disarankan untuk tidak bersalaman kepada orang yang baru kita kenal apalagi kita memiliki ketertarikan personal, karena hal tersebut dapat menjatuhkan seorang muslim ke dalam dosa.

Cara berdalil ini disebut Sadd al-Dzari’ah (menolak kemungkinan yang buruk) dan digunakan dalam memahami konteks bersalaman antara lawan jenis.

Wallahu A’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here