Benarkah Hasil Darah Perempuan yang Dibekam Haram Dilihat?

1
191

BincangSyariah.Com – Berbekam termasuk cara pengobatan tradisional yang sampai hari ini masih banyak dilakukan oleh kaum muslim, baik laki-laki maupun perempuan. Tentunya, ketika berbekam, maka ada darah yang harus dikeluarkan dari tubuh. Dan, jika perempuan yang berbekam, menurut sebagian keterangan, maka darah hasil bekam haram dilihat oleh lawan jenis. Benarkah demikian? (Baca: Sisi Lain Thibbun Nabawi: Nabi Tidak Mengubah Tradisi Pengobatan Bangsa Arab)

Berbekam boleh dilakukan oleh siapa saja, baik laki-laki maupun perempuan. Berbekam tidak hanya khusus bagi laki-laki, perempuan juga boleh, meskipun pada umumnya yang melakukan bekam adalah laki-laki. Disebutkan bahwa Nabi Saw sering melakukan bekam, ini salah satunya disebutkan dalam hadis riwayat Imam Ahmad dari Sayidina Ali, dia bekata;

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ احْتَجَمَ وَأَمَرَنِي فَأَعْطَيْتُ الْحَجَّامَ أَجْرَهُ

Sesungguhnya Nab Saw berbekam dan beliau perintahkan aku untuk memberikan upah kepada tukang bekamnya.

Meskipun perempuan boleh berbekam, namun ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Di antaranya adalah darah yang dikeluarkan dari tubuhnya karena dibekam harus dikubur atau dibuang di tempat yang sekiranya tidak terlihat oleh lawan jenis. Ini disebabkan karena darah perempuan yang keluar dari tubuhnya, meskipun dibekam, haram dilihat oleh lawan jenis.

Menurut para ulama, melihat bagian-bagian tubuh perempuan hukumnya adalah haram, meskipun bagian-bagian tersebut telah berpisah dari tubuhnya. Misalnya, kukunya, atau darahnya yang terpisah karena dibekam. Ini sebagaimana disebutkan dalam kitab Hasyiah Al-Qalyubi berikut;

وَالْحَاصِلُ أَنَّهُ يَحْرُمُ رُؤْيَةُ شَيْءٍ مِنْ بَدَنِهَا وَإِنْ أُبِينَ كَظُفُرٍ وَشَعْرِ عَانَةٍ وَإِبْطٍ وَدَمِ حَجْمٍ وَفَصْدٍ لَا نَحْوُ بَوْلٍ كَلَبَنٍ ، وَالْعِبْرَةُ فِي الْمُبَانِ بِوَقْتِ الْإِبَانَةِ فَيَحْرُمُ مَا أُبِينَ مِنْ أَجْنَبِيَّةٍ وَإِنْ نَكَحَهَا وَلَا يَحْرُمُ مَا أُبِينَ مِنْ زَوْجَةٍ وَإِنْ أَبَانَهَا

Baca Juga :  Bolehkah Menalak Istri yang Sedang Hamil?

Kesimpulannya, bahwa haram melihat sesuatu dari anggota badan perempuan ajnabiyyah (yang tidak mahram) meskipun anggota tersebut telah dipisahkan, seperti kuku, rambut kemaluan, bulu ketiak, dan darah bekam, bukan semisal air kencingnya seperti air susunya. Dan yang menjadi pegangan itu pada apa yang dipisahkan pada saat waktu pemisahan. Karenanya, haram apa yang terpisah dari perempuan ajnabiyyah meskipun pernah menikahinya, dan tidak haram apa yang dipisahkan dari istrinya sekalipun suaminya memisahkannya.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here