Haruskah Perempuan Berhijab Panjang? Tafsir Surah an-Nur Ayat 31

4
1999

BincangSyariah.Com – Maraknya fenomena hijrah beberapa tahun terakhir ini menuntut kaum muslimah mengubah gaya penampilannya. Di antara yang populer adalah seruan berhijab atau berkerudung hingga menutupi dada. Praktik pemanjangan hijab ini biasanya merujuk kepada Q.S. an-Nūr [24]: 31.

Sebenarnya, praktik ini adalah sesuatu yang baik. Sayangnya, pemahaman ini biasanya hanya didasarkan pada terjemahan Al-Qur’an sehingga memunculkan anggapan bahwa muslimah yang tidak memanjangkan hijabnya mutlak telah melanggar syariat. Kemudian, terbentuklah persepsi bahwa panjang hijab berkaitan erat dengan kesalehan dan ketaatan.

Lalu, bagaimana dengan muslimah yang menjadi polisi, anggota paskibra, dan lain-lain yang tidak bisa memanjangkan hijabnya karena harus menaati aturan seragam? Apakah mereka sudah pasti berdosa karena lebih menaati aturan seragam daripada aturan Allah yang tertuang dalam surah an-Nūr ayat 31? Perlukah ada gerakan pen-syar‘i-an seragam polisi, paskibra, dan sebagainya? (Baca: Bolehkah Melepas Hijab karena Diintimidasi Saat Berada di Luar Negeri?)

Baik, mari kita simak kembali perintah yang tertuang dalam ayat tersebut.

وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوْبِهِنَّ

“Dan hendaklah mereka menutupkan kain hijab ke juyūb mereka.”

Perhatikan ayat tersebut! Kata dada dalam bahasa Arab adalah ṣadr. Adakah kata ṣadr dalam ayat tersebut? Tidak ada, yang ada adalah juyūb. Lalu, apa itu juyūb? Apakah sama dengan ṣadr (dada)? Untuk menjawab apa itu juyūb, marilah kita lihat beberapa kitab tafsir. Ibnu ‘Asyur dalam tafsirnya mengatakan,

والجيوب : جمع جيب بفتح الجيم وهو طوق القميص مما يلي الرقبة. والمعنى : وليضعن خمرهن على جيوب الأقمصة بحيث لا يبقى بين منتهى الخمار ومبدأ الجيب ما يظهر منها الجيد

Adapun juyūb adalah bentuk jamak dari jayb, yaitu lubang baju tempat keluarnya leher. Maknanya, hendaklah mereka meletakkan hijab di atas leher baju mereka sehingga tidak tersisa apa-apa di antara ujung hijab dan pangkal jayb, tempat terlihatnya leher. (Ibnu ‘Asyur, Tafsīr at-Taḥrīr wa at-Tanwīr, juz XVIII halaman 208)

Baca Juga :  Dialog Terbuka dengan Ibu Nyai Sinta Nuriyah tentang Jilbab; dari Ulama yang Mewajibkan Sampai yang Tidak

Agar lebih jelas, mari kita simak penjelasan Fakhruddin ar-Razi.

قال المفسرون : إن نساء الجاهلية كن يشددن خمرهن من خلفهن ، وإن جيوبهن كانت من قدام فكان ينكشف نحورهن وقلائدهن، فأمرن أن يضربن مقانعهن على الجيوب ليتغطى بذلك أعناقهم ونحورهم وما يحيط به من شعر وزينة من الحلى في الأذن والنحر وموضع العقدة منها

Menurut para mufasir, wanita-wanita pada masa jahiliah biasa menjulurkan hijab mereka ke belakang. Adapun belahan leher baju (juyūb) mereka ada di bagian depan sehingga terlihatlah bagian atas dada beserta kalung-kalung mereka. Maka mereka diperintahkan untuk menyelubungkan penutup kepala mereka ke atas belahan leher baju itu untuk menutupi leher, bagian atas dada, rambut di sekitarnya, perhiasan yang ada di telinga dan pangkal dada, serta tempat anting di telinga. (Tafsir ar-Rāzī juz XXIII halaman 207)

Dari penjelasan di atas, dapat diketahui bahwa yang dimaksud dengan juyūb adalah leher baju atau lingkar kerah baju, bukan dada. Adapun maksud menutupi dada dalam tafsir ayat ini adalah karena pada masa jahiliah para wanita mengenakan pakaian dengan belahan leher baju yang cukup lebar sehingga sebagian dada mereka terlihat.

Adapun jika seorang perempuan sudah mengenakan baju yang menutupi dada dan tidak ketat, mengenakan hijab sebatas leher sudah cukup dan sudah memenuhi perintah yang termaktub dalam Q.S. an-Nūr [24]: 31.

Sebab, yang diperintahkan dalam ayat ini adalah menutup juyūb (lubang baju), bukan menutup dada. Menutup dada menjadi wajib jika memang leher baju terlalu lebar atau baju yang dikenakan terlalu ketat.

Memang ada pula yang menafsirkan bahwa hijab tetap harus menutupi dada kendati dada sudah tertutupi baju. Tafsir ini muncul karena kata juyūb dalam bahasa Arab mengalami pergeseran makna menjadi ‘saku baju’. Sebagaimana kita ketahui bahwa saku baju biasanya terdapat di bagian dada, maka muncullah penafsiran bahwa yang dimaksud menutupi juyūb adalah menutupi dada.

Baca Juga :  Perbedaan Kerudung, Jilbab, Cadar dan Hijab

Tulisan ini tidak bermaksud mengajak muslimah yang terbiasa mengenakan hijab panjang untuk memendekkan hijabnya. Sebab, masih ada dalil-dalil dan penafsiran lain yang menjelaskan perlunya mengenakan hijab yang panjang hingga menutupi dada atau badan. Hanya saja, sebaiknya kita tidak memaksakan satu pemahaman kepada semua orang atau menganggap panjang hijab sebagai tolok ukur mutlak ketaatan perempuan. Apalagi, jika sampai memonopoli penafsiran dengan pemahaman yang hanya bersumber dari terjemahan.

Dengan demikian, panjang hijab adalah perkara ikhtilaf. Seorang muslimah yang berhijab panjang hendaknya tidak merasa lebih baik daripada muslimah yang berhijab pendek. Tidak perlu pula merombak aturan seragam profesi tertentu hanya karena dianggap “tidak syar’i” menurut satu pemahaman. Batasannya, sepanjang sudah menutupi warna kulit dan tidak menonjolkan lekuk tubuh, pakaian yang dikenakan seorang muslimah sudah dapat dikatakan syar‘i.

 

4 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here