Habib Ali Al-Jufri Bicara Hukum Menggunakan Cadar

0
51

BincangSyariah.Com Habib Ali al-Jufri, seorang ulama ahlusunah waljamaah moderat dari Yaman, dalam salah satu kesempatan di Mesir pernah mendapat pertanyaan mengenai bentuk hijab bagi perempuan muslimah, apakah harus menggunakan cadar atau tidak. Menurut beliau masalah ini kerap kali ditanyakan dan memunculkan dua kubu ekstrem.

Kubu pertama adalah kelompok yang mengklaim bahwa cadar bukanlah ajaran Islam, melainkan adat di beberapa negara saja. Pemakaiannya merupakan bentuk kefanatikan dalam beragama. Pandangan ini menafikan adanya dalil-dalil yang menunjukkan bahwa setelah turunnya ayat perintah hijab, perempuan-perempuan Anshar menjadi sulit dikenali karena tebalnya hijab yang mereka kenakan.

Kubu kedua beranggapan bahwa para ulama yang memperbolehkan terbukanya wajah adalah para ulama munafik yang dekat dengan penguasa dan hanya mencari pujian duniawi. Anggapan ini berlebihan dan tidak berdasar sebab faktanya terdapat pula keterangan-keterangan yang menunjukkan kebolehan perempuan menampakkan wajahnya dengan batasan-batasan tertentu.

Adapun jalan tengah yang sesuai dengan keagungan agama Islam adalah bahwa cadar itu diwajibkan bagi perempuan yang khawatir jika wajahnya menimbulkan fitnah, misalnya karena kecantikannya, riasan di wajahnya, atau untuk menjaga dirinya ketika berada di lingkungan yang kurang baik. Berdasarkan ijmak, dalam keadaan tersebut wajah wajib ditutup agar tidak membahayakan diri sendiri dan orang lain. Sebaliknya, apabila seorang perempuan tidak khawatir akan fitnah, ia diperbolehkan tidak bercadar dengan syarat tidak ada riasan di wajahnya.

Setelah mengetahui ketentuan ini, secara pragmatis dapat dipahami bahwa apabila di suatu negara kaum perempuan terbiasa menutup wajah, membuka cadar tentu akan menimbulkan fitnah. Hal ini karena orang-orang di negara tersebut tidak terbiasa melihat wajah perempuan. Dalam kondisi seperti itu, perempuan tidak boleh menampakkan wajahnya, meskipun tanpa riasan, karena akan mengundang perhatian banyak orang.

Baca Juga :  Usia Wanita Menopause Menurut Ulama Fikih

Sementara itu, di negara-negara yang kaum perempuannya terbiasa menampakkan wajah, bercadar merupakan pilihan bagi perempuan yang ingin mengikuti sunah Rasulullah ṣallāllahu ‘alaihi wa sallam. Namun, tidak bercadar juga diperbolehkan sepanjang tidak ada riasan wajah yang menarik perhatian lawan jenis. Yang terpenting adalah menjaga rasa malu dan kesopanan karena rasa malu adalah sebagian dari iman.

Demikian pandangan Habib Ali al-Jufri, seorang ulama moderat bermazhab Syafii. Semoga kita dapat mengambil manfaat dari apa yang beliau sampaikan dan menerapkannya dalam kehidupan bermasyarakat di Indonesia pada masa kini. Wallāhu A‘lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here