Etika Bercumbu Saat Istri Haid

2
2424

BincangSyariah.Com – Darah haid adalah darah yang keluar dari rahim perempuan yang sudah baligh dengan tanpa sebab, melainkan darah yang keluar tersebut sudah menjadi kebiasaan yang lumrah bagi kaum hawa pada setiap bulannya. Sedangkan darah istihadhah adalah darah yang keluar dari rahim perempuan karena penyakit, bukan karena haid ataupun nifas.

Bedanya dengan darah haid, bila wanita yang sedang haid maka dia tidak berkewajiban melakukan shalat dan puasa, sedangkan orang yang istihadhah tetap berkewajiban untuk melaksanakan shalat dan puasa Ramadhan.

Di samping itu selain wanita yang sedang haid bebas untuk tidak melakuakan kewajiban sebagai seorang mukallaf, Islam juga melarang pengikutnya untuk melakukan persetubuhan antara suami dan istri pada saat istri dalam keadaan haid.

Lalu bagaimana bila hanya bercumbu dan bersenang-senang dengan istri pada selain kemaluannya? untuk menjawab pertanyan ini mari kita perhatikan sebuah Hadis yang diriwayatkan oleh al-Imam al-Syafi‘i dalam Musnadnya beliau menyebutkan:

 عَنْ نَافِعٍ: أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ أرسل إِلَى عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا يَسْأَلُهَا: هَلْ يُبَاشِرُ الرَّجُلُ امْرَأَتَهُ وَهِيَ حَائِضٌ؟ فَقَالَتْ: لِتَشْدُدْ إِزَارَهَا عَلَى أَسْفَلِهَا ثُمَّ يُبَاشِرُهَا إِنْ شَاءَ.

Diceritakan dari Nafi bahwa suatu ketika Abdullah diutus untuk bertemu dengan bunda Aisyah guna menyuguhkan sebuah pertanyaan: “Apakah boleh seorang suami menyentuh (bemesraan dengan) istrinya yang sedang haid (menstruasi)?” Jawab Aisyah: Hendaklah sang istri mengencangkan kain bagian bawahnya, kemudian salinglah bermesraan dengan suami, bila ia menghendaki.” (H.R. al-Imam al-Syafi‘i)

Lafal Yubasyiru dalam hadis ini sama dengan lafal almulamasah, pengertian asalnya adalah “Seorang lelaki yang menyentuhkan kulitnya pada kulit istrinya,’’ sedangkan makna yang dimaksud adakalanya hubungan persetubuhan pada kemaluan dan adakalanya pula hubungan persetubuhan di luar kemaluan (bermesraan atau bercumbu rayu).

Baca Juga :  Hikmah Menikahi Seorang Janda

Namun, menurut Ibn Hajar al-‘Asqalani dalam kitabnya Fathul Bari yang dimaksud dengan yubasyiru dalam Hadis di atas adalah bertemuanya dua kulit pasangan dan bukan Jima’ atau bersetubuh.

Dari Hadis ini dapat dipahami bahwa ketika seorang istri yang sedang datang bulan atau menstruasi, hal yang diharamkan bagi seorang suami hanyalah menyentuh pada bagian vagina (jima’) sebagaimana isyarat dari jawaban bunda Aisyah dalam Hadis di atas yang memerintahkan agar sang istri mengencangan kain bagian bawahnya, untuk antisipasi agar suami tidak kebablasan.

Sedangkan bercium, bercumbu rayu, berpelukan atau menikmati tubuh sang istri, tidaklah dilarang oleh Islam asalkan tidak terjadi persenggamaan, kesimpulan ini didasarkan pada Rasulullah Saw sendiri yang pernah melakukan praktik tersebut dengan para istrinya.

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here