Datang Haid atau Nifas tapi Belum Salat, Apakah Wajib Meng-qadla?

0
1002

BincangSyariah.Com – Jika ada wanita yang kedatangan haid atau nifas setelah masuknya waktu salat, padahal ia belum melakukan salat, sedangkan jarak antara masuknya waktu salat dan permulaan haid atau nifas tadi mencukupi untuk melaksanakan salat, meskipun tidak cukup disertai bersucinya (bagi orang yang bersucinya boleh dikerjakan sebelum masuknya waktu salat, sebagaimana wudunya orang sehat biasa).

Dan juga cukup disertai bersucinya (bagi orang yang bersucinya harus dijalankan setelah masuk waktu salat sebagaimana orang yang bertayamum atau berwudu bagi orang yang terus-menerus mengeluarkan kencing (beser) atau orang istihadhah). Maka wanita yang demikian itu ketika setelah selesai haid atau nifasnya wajib meng-qadla salat yang ditinggalkan waktu awal haid atau nifas tadi.

Contoh: Masuknya waktu asar jam 15.00 WIB dan kira-kira jam 15.30 WIB datang haid, padalah salat asar belum dikerjakan, maka ketika setelah haid selesai wajib meng-qadla salat asar. Begitu juga salat sebelum waktu tersebut wajib di-qadla jika memenuhi 3 syarat sebagaimana berikut:

  1. Salat sebelumnya boleh dijama dengan salat waktu datangnya haid atau nifas seperti: zuhur boleh dijama dengan asar, dan magrib dengan isya, namun selainnya tidak boleh dijama.
  2. Salat sebelumnya belum dilakukan karena pada waktu salat sebelum haid atau nifas tersebut terjadi perkara yang mencegah salat. Misalnya gila atau ayan. Tetapi jika belum menjalankan salat bukan karena adanya pencegah seperti di atas, maka jelas salat tersebut wajib di-qadla meskipun tidak memenuhi persyaratan, bahkan meskipun sesudahnya tidak haid. Penjelasan di atas sebagaimana yang dimaksud dengan perkataan ulama’ مع فرض قبلها (beserta salat fardu sebelumnya).
  3. Antara masuknya waktu salat dan datangnya haid atau nifas tadi mencukupi untuk melakukan salat. Contoh: Masuknya waktu salat asar jam 15.00 WIB, namun mulai masuk waktu zuhur wanita tersebut sudah gila atau ayan, bertepatan dengan 15.00 wib ia sembuh, lalu jam 16.00 ia haid, maka ia wajib meng-qadla asar dan zuhur. Sebab zuhur belum dikerjakan dikarenakan ada perkara yang mencegah salat, dan zuhur boleh dijama dengan asar, serta antara jam 15.00 WIB sampai jam 16.00 WIB itu cukup dipergunakan untuk bersuci, salat asar dan zuhur. Adapun salat berikutnya (setelah datangnya haid/nifas) itu mutlak tidak wajib di-qadla meskipun boleh dijama.
Baca Juga :  Apakah Air Ketuban Tergolong Najis?

Jadi kesimpulannya jika antara masuknya waktu salat dan datangnya haid itu cukup dipergunakan salat/sekaligus bersucinya, dan pada waktu sebelumnya ia sudah mengerjakan salat, maka ia wajib mengerjakan salat yang belum ia laksanakan ketika datang haid tersebut. Jika antara masuknya waktu salat dan datangnya haid tidak cukup digunakan untuk bersuci serta salat, dan waktu salat sebelumnya sudah dikerjakan, maka ia tidak wajib meng-qadla-nya.

Namun jika antara masuknya waktu salat dan datangnya haid cukup digunakan salat/sekaligus bersuci dan salat sebelumnya belum dikerjakan karena adanya perkara yang mencegah salat selain haid maka ia wajib meng-qadla salat ketika datangnya haid dan salat sebelumnya jika bisa dijamak.

Sementara jika antara masuknya waktu salat dan datangnya haid tidak cukup dipergunakan salat/beserta bersuci, dan waktu salat sebelumnya ia belum melakukan salat karena ada perkara yang mencegah salat selain haid, maka ia tidak waib meng-qadla salat tersebut.

Wa Allahu A’lam bis Shawab.

(Diolah dari kitab Risalah Haidl Nifas dan Istihadhah Lengkap karya KH. Muhammad Ardani bin Ahmad (Surabaya: Al-Miftah, 1987, h. 32-35.)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here