Cara Mandi Janabah Bagi Wanita yang Dikepang Rambutnya

0
1038

BincangSyariah.Com – Mandi sudah menjadi keharusan bagi seseorang setelah melakukan rutinitas seharui-hari. Setidaknya, mandi dilakukan dua kali sehari. Mandi seperti ini tidak ditentukan oleh syariat. Artinya, urusannya mubah saja, mau dikerjakan silakan, ditinggalkanpun tidak berdosa. Walau sebenarnya mengerjakan yang mubah bisa mendatangkan pahala kalau disertai niat kebaikan.

Ada mandi yang diatur oleh syariat karena mengiringi urusan ibadah. Apabila mandi itu tidak dilakukan, seseorang tidak bisa menjalankan ibadah salat dan beberapa ibadah lainnya. Mandi yang dimaksud di sini adalah mandi selesai dari haid, nifas, dan mandi janabah.

Pada tulisan yang sederhana ini, yang akan dibahas adalah mandi janabah bagi wanita yang digelung atau dikepang rambutnya.

Jumhur (mayoritas) ulama dari mazhab Hanafi, Maliki, Syafi’i dan sebagian dari Hambali berpendapat bahwa dalam melakukan mandi janabah, wanita tidak wajib mengurai rambutnya yang terkepang atau tergelung, yang penting air sampai ke kulit kepalanya dan membasahi seluruh kulit dan rambutnya.

Namun, jika tanpa menguraikan kepangan itu air menjadi tidak bisa membasahi seluruh rambut dan kulit kepalanya, maka gelungan dan kepangannya harus diuraikan. Sebagaimana hadis yang diriwayatkan dari istri Rasulullah, Ummu Salamah:

يا رسول الله، إني امرأة أشد ضفر رأسي فأنقضه لغسل الجنابة؟ قال: لا، إنما يكفيك أن تحثي على رأسك ثلاث حثيات، ثم تفيضين عليك الماء فتطهرين

“Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku adalah wanita yang memiliki kepangan rambut yang sangat kuat, apakah aku harus menguraikannya pada saat mandi janabah? Rasul menjawab: tidak, cukup engkau memercikkan air tiga kali ke atas kepalamu, kemudian mengguyurkan air ke atasnya, lalu engkau menjadi suci.” (HR Muslim)

Ini adalah pendapat yang dipilih oleh pengarang kitab al-Inshaf dan az-Zarkasyi, sedangkan dalam mandi junub maka hukum melepaskan ikatan rambut bagi wanita tidaklah sunnah (mandub). Abdullah bin Umar meriwayatkan bahwa Aisyah berkata : “Apakah aku harus memerintah mereka untuk memotong rambut itu?

Baca Juga :  Hukum Sujud Syukur bagi Wanita Haid dan Nifas

Melepaskan ikatan rambut tidaklah disyariatkan saat mandi junub akan tetapi hal itu ditekankan dan dianjurkan saat mandi haidh. Penekanan ini pun berbeda-beda, ada yang kuat dan ada pula yang lemah, berdasarkan keringanan dan kesulitan melepaskan ikatannya.

Aisyah mengisahkan bahwa Asma binti Syakal radhiallahu ‘anha pernah bertanya kepada Nabi tentang tata cara mandi suci dari haid. Nabi Saw bersabda:

تَأْخُذُ إِحْدَاكُنَّ مَاءَهَا وَسِدْرَتَهَا فَتَطَهَّرُ فَتُحْسِنُ الطُّهُوْرَ، ثُمَّ تَصُبُّ عَلَى رَأْسِهَا فَتَدْلُكُهَا دَلْكًا شَدِيْدًا حَتَّى تَبْلُغَ شُؤُوْنَ رَأْسِهَا

“Hendaknya salah seorang dari kalian mengambil air mandi dan sidr, lalu bersuci dengan sebaik-baiknya, kemudian dia tuangkan air di atas kepalanya, lalu digosok-gosoknya dengan kuat hingga mencapai pokok rambutnya.”  (HR Muslim)

Dari sinilah muncul perbedaan pendapat tentang hukum melepas gelungan atau ikatan rambut saat mandi janabah. Apakah wajib atau tidak?

Ulama dari mazhab Hambali sepakat dengan pendapat jumhur ulama mengenai tidak wajibnya mengurai kepangan dan gelungan rambutnya pada saat mandi janabah dari jima. Namun sebagian yang lain berbeda dalam hal mandi janabah dari haid dan nifas.

Dalam hal wanita yang suci dari haid dan nifas, ulama Mazhab Hambali terbagi menjadi dua pendapat: Sebagian mengatakan bahwa wanita yang suci dari haid dan nifas wajib membuka gelungan dan kepangan rambutnya pada saat mandi janabah. Sedangkan sebagian ulama lain dari mazhab ini mengatakan sebaliknya. Yakni bahwa wanita tidak wajib menguraikan gelungan dan kepangan rambutnya. Adapun pendapat kedua inilah yang sepakat dengan pendapat mayoritas ulama.

Mengapa sebagian ulama dari Mazhab Hambali membedakan antara mandi janabah dari jima’ dan dari haid atau nifas?

Sebab mandi janabah dari jima’ jauh lebih sering dilakukan. Maka akan memberatkan bagi wanita jika ia harus membuka gelungan dan kepangan rambutnya berkali-kali, apalagi jika ia menjadi pengantin baru.

Baca Juga :  Ini Tiga Kewajiban Saat Mandi Suci dari Haid atau Nifas

Berbeda dengan wanita yang suci dari haid dan nifas, di mana ini tidak terlalu sering dilakukannya. Maka, dalam hal ini mazhab Hambali mengharuskan wanita untuk mengurai kepangan dan gelungannya saat mandi untuk bersuci. Dalilnya adalah sabda Rasulullah SAW kepada Aisyah saat beliau baru bersih dari haid:

انقضي شعرك وامتشطي

“Uraikanlah rambutmu, dan bersisirlah.”

Di sini, Nabi memerintahkan Aisyah agar menguraikan dan menyisir rambutnya terlebih dahulu sebelum mandi janabah dari haidnya. Memang pada dasarnya, wanita harus membuka kepangan dan gelungannya pada saat mandi agar air mudah merata sampai pada kulit kepada dan rambutnya.

Adapun boleh untuk tidak membuka kepangan dan gelungan pada saat mandi janabah dari jima’ itu merupakan keringanan untuk menghilangkanmasyaqqah (kesulitan) karena lebih sering dilakukan dari pada mandi dari haid dan nifas.

Walau terbagi menjadi dua pendapat, namun yang menjadi pendapat resmi dalam mazhab Hambali adalah bahwa membuka gelungan rambut saat mandi janabah, baik dari jima’ maupun haid tidaklah wajib bagi wanita, melainkan sekedar anjuran saja. Yang penting kulit kepala dan rambutnya dapat terbasahi oleh air saat mandi.

Hal ini disebutkan oleh Ibnu Qudamah dalam kitabnya, Al-Mughni:

قال بعض أصحابنا: هذا مستحب غير واجب، وهو قول أكثر الفقهاء، وهو الصحيح إن شاء الله؛ لأن في بعض ألفاظ حديث أم سلمة أنها قالت للنبي: صلى الله عليه وسلم إني امرأة أشد ضفر رأسي فأنقضه للحيضة والجنابة؟ فقال: لا، إنما يكفيك أن تحثي على رأسك ثلاث حثيات، ثم تفيضين عليك الماء فتطهرين . وهي زيادة يجب قبولها، وهذا صريح في نفي الوجوب

“Sebagian ulama dari mazhab kami (Hambali): hal ini (mengurai rambut) sifatnya mustahab (dianjurkan), dan inilah pendapat mayoritas ulama fikih, dan inilah pendapat yang benar insyaa Allah. Sebagaimana hadis dari Ummu Salamah di atas. Wallahu a’lam!



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here