Bolehkah Wanita Keputihan Membaca Al-Quran?

0
12

BincangSyariah.Com – Dalam keadaan tertentu, terkadang wanita mengalami keputihan. Penyebab keputihan ini beragam, ada karena sebab kurang menjaga kebersihan kemaluan, karena stres, karena menyusui, dan lainnya. Jika wanita sedang mengalami keputihan, apakah boleh baginya membaca Al-Quran?

Membaca Al-Quran bagi wanita yang sedang mengalami keputihan hukumnya boleh. Tidak masalah baginya membaca Al-Quran, karena keputihan tidak termasuk perkara-perkara yang menyebabkan seseorang haram membaca Al-Quran, seperti halnya haid dan nifas.

Meski boleh membaca Al-Quran, namun bukan berarti otomatis boleh baginya membawa dan menyentuh Al-Quran. Jika perempuan yang mengalami keputihan hendak membaca Al-Quran dengan membawa atau menyentuh Al-Quran, maka dia perlu memperhatikan jenis keputihan yang keluar dari kemaluannya terlebih dahulu.

Jika keputihan yang keluar berasal dari bagian dalam kemaluan, maka hal itu dihukumi najis dan membatalkan wudhu. Karena itu, jika seorang perempuan yang mengalami keputihan seperti ini dan hendak membawa Al-Quran, maka wajib baginya membersihkan keputihannya terlebih dulu dan kemudian wudhu. Setelah wudhu, maka boleh baginya membaca dengan membawa atau menyentuh Al-Quran.

Namun jika keputihan tersebut keluar dari bagian luar kemaluan, maka hukumnya tidak najis dan tidak membatalkan wudhu. Karena itu, jika dia sudah memiliki wudhu, maka wudhunya tidak batal dan tidak wajib membersihkan keputihannya. Dan dia juga boleh membaca sambil membawa Al-Quran.

Ini sebagaimana disebutkan dalam kitab Bughyatul Mustarsyidin berikut;

حاصل كلامهم في رطوبة فرج المرأة التي هي ماء أبيض متردد بين المذي والغرق أنها إن خرجت من وراء ما يجب غسله في الجنابة يقينا إلى حد الظاهر ، وإن لم تبرز إلى خارج نقضت الوضوءأو من حد الظاهر وهو ما وجب غسله في الجنابة أعني الذي يظهر عند قعودها لقضاء حاجتها لم تنقض

Kesimpulan pendapat para ulama mengenai keputihan yang keluar dari kemaluan perempuan, yaitu cairan bening yang berada di antara madzi dan cairan kemaluan, bahwa jika cairan itu keluar dari bagian dalam kemaluan yang tidak wajib dibasuh ketika mandi junub secara meyakinkan, meskipun tidak tampak sampai bagian luar, maka hal itu membatalkan wudhu. Atau keluar dari bagian luar kemaluan perempuan, yaitu bagian yang wajib dibasuh ketika mandi junub atau bagian kemaluan yang tampak ketika perempuan duduk saat buang air besar, maka hal itu tidak membatalkan wudhu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here