Bolehkah Perempuan Membuka Aurat Saat Nyantai di Teras Rumah.?

1
3484

BincangSyariah.Com – Sebagian perempuan memahami bahwa mereka boleh saja mengenakan pakaian seadanya (baju sehari-hari tanpa menutup seluruh aurat) ketika sedang bersantai di teras rumah. Begitu juga saat mengunjungi tetangga, bercengkrama bersama mereka di depan rumah, di jalanan sekitar komplek, ataupun di tempat-tempat umum yang dilewati oleh banyak orang, termasuk kaum laki-laki. Mungkin karena saking dekatnya dengan tetangga, mereka menganggap tidak perlu terlalu tertutup dalam hal berpakaian. Benarkah asumsi seperti ini.? Tulisan sederhana ini akan menguraikannya.

Memang benar para ulama berbeda pendapat terkait batas aurat perempuan. Namun Wahbah al-Zuhayli dalam karyanya al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu menyimpulkan pendapat umum dari mazhab Syafi’i yang merinci batasan aurat perempuan berdasarkan subjek yang melihatnya. Mereka berpendapat bahwa aurat perempuan di hadapan laki-laki yang bukan mahramnya (mahram adalah orang tidak boleh dinikahi karena alasan-alasan tertentu) adalah seluruh anggota badan selain wajah dan telapak tangannya. Hal ini didasarkan kepada Q.S. al-Nur : 31 dan hadis sahih riwayat al-Bukhari yang bersumber dari Ibn Abbas dan Aisyah.

Dalam hadis tersebut Ibn Abbas dan Aisyah menyebutkan bahwa perhiasan (bagian tubuh) yang boleh diperlihatkan oleh perempuan hanyalah wajah dan kedua telapak tangannya. Lagian dalam hadis yang lain disebutkan bahwa Nabi melarang perempuan yang sedang berihram haji ataupun umrah untuk mengenakan kaus tangan dan cadar. Berdasarkan hadis ini juga, Syafiiyyah berpendapat bahwa wajah perempuan tidak termasuk aurat, karena seandainya wajah tergolong aurat maka tidak mungkin Rasul memerintahkan perempuan untuk membukanya saat berihram.

Selain itu, menurut Wahbah, ketika meyimpulkan pendapat ulama Syafiiyyah, menegaskan bahwa wajah dan telapak tangan merupakan media interaksi perempuan dengan orang lain yang berada di sekitarnya, baik dalam transaksi jual beli, persaksian, serah terima barang dalam jual beli, dan lain sebagainya. Sehingga dengan demikian jelas terlihat bahwa Syafiiyyah tidak mewajibkan kaum muslimat untuk mengenakan cadar atau penutup wajah. Data ini sekaligus juga membantah pendapat sebagian kalangan yang menyatakan bahwa ulama mazhab sepakat mewajibkan cadar terhadap kaum perempuan.

Baca Juga :  Tiga Tips Agar Menjadi Istri Salihah

Selanjutnya aurat perempuan di hadapan perempuan non muslim adalah semua anggota badannya selain bagian-bagian yang biasa terlihat ketika ia sedang beraktifitas dalam kehidupan sehari-harinya seperti tangan, tumit, dan lain-lain sesuai dengan tradisi yang berlaku di kalangan mereka. Sedangkan aurat perempuan di hadapan perempuan-perempuan mukmin dan laki-laki mahramnya adalah sama seperti laki-laki, yaitu bagian antara pusar dan lutut. Sehingga dengan demikian sekalipun dengan sesama jenisnya, perempuan tidak diperkenankan untuk memperlihatkan semua anggota tubuhnya kepada perempuan lainnya.

Dalil yang digunakan oleh para ulama, khususnya dari kalangan Syafiiyyah dalam hal ini adalah sebuah riwayat sahih yang bersumber dari Abi Said al-Khudri yang menyebutkan bahwa seorang laki-laki tidak diperkenankan untuk melihat aurat laki-laki yang lain, begitu juga perempuan terhadap perempuan yang lain. Perempuan hanya boleh memperlihatkan semua anggota tubuhnya (termasuk organ intimnya menurut pendapat yang kuat) kepada suaminya atau budak yang ia miliki (sekalipun untuk saat ini konteks perbudakan sudah tidak ada lagi).

Berdasarkan beberapa data di atas, dapat disimpulkan bahwa ketika seorang perempuan berada di luar rumah, baik itu di teras rumah, di jalanan dekat rumah, di rumah tetangga, di pasar, di mana tempat tersebut sering dilewati oleh orang-orang yang bukan mahramnya, maka perempuan tidak sepantasnya untuk membuka auratnya. Bahkan, berdasarkan hadis riwayat Abi Said al-Khudri di atas, sekalipun dengan sesamanya, perempuan tidak diperkenankan untuk membuka semua auratnya kecuali dengan alasan-alasan yang mendesak seperti berobat ataupun untuk keperluan kesaksian dalam pengadilan.

Lantas bagaimana jika seseorang hanya sendirian di dalam rumah atau kamar, apakah dia boleh bertelanjang ataupun membuka sebagian besar auratnya.? Sebuah hadis sahih riwayat Bukhari dan Muslim yang bersumber dari Bahz ibn Hakim menyebutkan bahwa Nabi pernah ditanya terkait hal tersebut, lalu beliau menjawab, “Malu terhadap Allah Swt lebih utama untuk dijaga (ketimbang malu terhadap makhluk secara umum)”. Sekalipun secara hukum fikih sah-sah saja seseorang membuka auratnya dalam kesunyian, namun untuk menjaga adab kepada Allah, dia dianjurkan untuk tetap menutup auratnya.

Baca Juga :  Bolehkah Melepas Hijab karena Diintimidasi Saat Berada di Luar Negeri?

Allahu A’lam.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here