Bolehkah Menolak Perjodohan Orangtua?

9
5432

BincangSyariah.Com – Perjodohan adalah salah satu cara yang ditempuh masyarakat dalam mengupayakan pernikahan. Tak ada ketentuan dalam syariat yang mengharuskan atau sebaliknya melarang perjodohan. Islam hanya menekankan bahwa hendaknya seorang Muslim mencari calon istri yang shalihah dan baik agamanya. Begitu pula sebaliknya.

Pernikahan dalam Islam merupakan nikmat Allah yang sepatutnya disyukuri oleh setiap insan yang bernyawa, karena dengan pernikahan kita banyak mendapatkan kemanfaatan. Jangan lupa untuk menikahlah dengan insan yang kau senangi. Allah mensyariatkan perihal tersebut:

 “Maka kawinilah perempuan-perempuan (lain) yang kamu senangi” (QS. Annisa: 3)

Ringkasnya, perjodohan hanyalah salah satu cara untuk menikahkan. Orang tua dapat menjodohkan anaknya. Tapi hendaknya meminta izin dan persetujuan dari anaknya, agar pernikahan yang diselenggarakan didasarkan pada keridhaan masing-masing pihak. Bukan karena keterpaksaan. Pernikahan yang dibangun di atas dasar keterpaksaan, jika terus berlanjut berpotensi mengganggu keharmonisan rumah tangga. Wallahu a’lam.

Abu Hurairah radhiallahu anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لَا تُنْكَحُ الْأَيِّمُ حَتَّى تُسْتأمَر وَلَا تُنْكَحُ‏ الْبِكْرُ حَتَّى تُسْتَأْذَنَ‏ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَكَيْفَ إِذْنُهَا قَالَ أَن تسكت  ‎ ‎ ‎ ‏‎ ‎ ‎

Tidak boleh menikahkan seorang janda sebelum dimusyawarahkan dengannya dan tidak boleh menikahkan anak gadis (perawan) sebelum meminta izin darinya.” Mereka bertanya, “wahai Rasulullah, bagaimana mengetahui izinnya?” Beliau menjawab, “dengan ia diam.” (HR. Al-Bukhari no. 5136 dan Muslim no. 1419)

Di antara kemuliaan yang Allah Taala berikan kepada kaum perempuan setelah datang Islam adalah bahwa mereka mempunyai hak penuh dalam menerima atau menolak suatu lamaran atau pernikahan. Hak ini tidak dimiliki oleh kaum perempuan di zaman jahiliah. Karenanya tidak boleh bagi wali perempuan mana pun memaksa perempuan yang dia walikan untuk menikahi lelaki yang tidak disenangi.

Baca Juga :  Arrabi binti Muawwadz: Wanita yang diberi Kabar Gembira dengan Surga

Lantas berdosakah seorang anak yang menolak perjodohan orang tuanya dan apakah anak tersebut dikatakan durhaka karena penolakannya?

وعن ابن عباس رضي الله عنهما “أن جارية بكرا أتت النبي صلى الله عليه وسلم فذكرت أن أباها زوجها وهي كارهة فخيرها رسول الله صلى الله عليه وسلم” رواه أحمد وأبو داود وابن ماجه

Dari sahabat Ibnu Abbas radliyallahu ‘anhuma, beliau berkata: Telah datang seorang gadis muda terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ia mengadu bahwa ayahnya telah menikahkanya dengan laki-laki yang tidak ia cintai, maka Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam memberikan pilihan kepadanya (melanjutkan pernikahan atau berpisah). (HR. Ahmad, Abu Daud dan Ibnu Majah).

Maka berdasarkan hadits tersebut, penolakan seorang anak terhadap perjodohan orang tuanya adalah tidak berdosa dan tidak dikategorikan sebagai sikap durhaka dengan sebuah catatan penolakan tersebut harus dilakukan dengan cara dan ucapan yang bijak sehingga tidak menyakiti hati dan perasaan orang tua.

Dari Ibnu Abbas radhiallahu anhu bahwasannya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

الثَّيِّبُ أَحَقُّ‏‎ ‎بِنَفْسِهَا مِنْ وَلِيِّهَا‎ ‎وَالْبِكْرُ يَسْتَأْذِنُهَا‎ ‎أَبُوهَا فِي نَفْسِهَا‎ ‎وَإِذْنُهَا صُمَاتُهَا

Seorang janda lebih berhak atas dirinya daripada walinya, sedangkan perawan maka ayahnya harus meminta persetujuan dari dirinya. Dan persetujuannya adalah diamnya.” (HR. Muslim no. 1421),

Hukum pernikahan dalam Islam yang sesuai dengan syariat adalah dengan adanya keridhaan dari kedua calon mempelai. Jelas sudah salah satu tak ridha, atau nikah dengan terpaksa maka pernikahan tersebut tidak sesuai syariat Islam dan dilarang dalam syariat. Syaikh Abdurrahamn as-Sa’di memaparkan dalam Almajmu’ah Alkamilah li Muallafat bahwa tidak boleh bagi orangtua memaksa anak perempuan menikah, meski keduanya ridha dengan keadaan agama dari lelaki tersebut.

9 KOMENTAR

  1. Aku sedang bingung, saat ini aku sedang dijodohkan oleh ibuku tapi aku masih ragu untuk menerima karena sejujurnya selain karena usia si pria dan keagamaannya, aku ragu pada diriku yg merasa blm trllu siap.
    Aku ingin menerima tapi takut keputusanku salah, aku ingin menolak tapi aku takut mengecewakan, dan juga menikah adalah cara agar aku bisa menghindari zina, aku takut jika aku tidak segera menikah aku akan khilaf dan melakukan zina ntah aku sadar atau tidak. Aku dalam kedilemaan yg besar saat ini.

  2. Saya sedang bingung…dulu saya pernah d jodohkan dg orang yg tidak saya suka..dan dua bulan dari itu saya memutuskan sendiri hub itu karena saya pikir percuma d truskan…dua tahun kmudian saya tunangan dg pilihan saya sendiri namun mungkin tuhan berkehendak lain alias bukan jodoh (mungkin)..akibat kjdian itu orang tua saya trauma dg pilihan saya..dan kini saya dekat dg seseorang yg saya ikhlas mencintainya..dia juga sdah niat baik kpd saya..namun d balik itu juga orang tua saya ingin menjodohkan saya kembli…hal yg sama terulng lagi pada diri saya..sekarang saya bingung harus bagaimana..sedang saya gak tau s cowok itu yg mau d jodohkan sma saya..
    Jadi …saya mohon solusi dari antum sekalian???

    • Mungkin bisa dibicarakan mba, dengan orangtua dengan memperkenalkan “calon” yang mba Gemini rasa cocok. Supaya ada saling mengenal antara orangtua dan “calon”. Mudah-mudahan ada manfaatnya, Wallahu A’lam

  3. Asslamulaikum
    sya ingin tanya,,bagimana jika seorang anak laki2 yg telah ingin dijodohkan kedua orang tuanya kepada seorang gadis,dengan ke2 belah pihak memiliki pengetahuan lbih dalam ilmu agama(ustad).Namun ,,bagaimana hukumya jika seorang anak laki2 trsebut telah mencintai gadis lain yg ingin diperjuangkannya,tapi karena hal perjodohan yg dilakukan oleh keluarganya dia trpaksa mnerima,krena alasan ingin membalas budi dari kebaikan kdua orang tuannya.bagaimna hukumnya dsini?

  4. Assalamuallaikum ?

    Saya nda tau hrus gmna. Saya berumur 22 thn. Memang sdh bsa dkatakan waktynya untuk berumah tngga. Tapi saya baru llus. Bekerja pun masi br slsai dr masatraining di first job saya. Saya hendak dijodohkan dgn pria yg seumuran dgn saya. Satu minggu yg lalu saya di pertemukan dengannya dan kluarganya. Itu waktu saya pertama saya bertemu dgn pria yg hèndak d jodohkan dgn saya. Dan sebelumnya saya tdk risau karna saya fkir itu hanya perkenalan biasa. Dan bebrrapa hari ssdhnya. Mereka membincangkan terkait weton dsb (adat jawa) dan pernikah . Sungguh..siapa yg tdk kaget ?
    Secepat itu..
    Jujur min selama 22 thn saya bnar2 mnjga diri saya dengan kuat . Saya tdk perna mengenal pacaran. Mungkin itu yg mendorong orang tua saya untuk mengenalkan ke putra dr kawanya…

    ——————

    Saya faham btul mksd dr mreka. Mereka ingin yg terbaik untuk aanaknya. Mereka tdk ingin anaknya slh piluh dsb. Disisi lain.. saya bingung.. saya ingin menolak.. tapi rasanya orang tua saya akan sangat kecewa. Saya tau min. Mereka pasti paham dgn saya. Mereka ga mungkin untuk maksa saya untuk menikah dgn dia. Tapi saya pasti merasa bersalah min. Dan takut nanti itu pilihan yg salah. Jadi apa boleh ttàp mnolak mskpun mengecewakan ortu ?

    Terimakasi,
    Wassalamuallaikum.wr.wb

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here