Bolehkah Menikahi Adik Ipar?

2
6073

BincangSyariah.Com – Di antara wanita yang telah disepakati oleh para ulama yang haram untuk dinikahi adalah menikahi dua wanita bersaudara. Dasarnya adalah firman Allah surah an-Nisa’ ayat 23:

وَأَنْ تَجْمَعُوا بَيْنَ الْأُخْتَيْنِ

“…dan menggabungkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara.” (QS anNisa’: 23)

Al Qurthubi dalam kitab al jami’ li ahkamil quran mengatakan bahwa merupakan hasil jima’ daripada umat bahwa menggabungkan pernikahan dua wanita yang bersaudara dalam satu akad berdasarkan ayat di atas.

Dan di dalam fatwa Lajnah Daimah disebutkan: “Menggabungkan dua wanita bersaudara dalam satu akad hukumnya adalah haram berdasarkan nash-nash yang nyata dari alquran dan sunah, baik keduanya itu saudara kandung atau saudara se ayah atau se ibu, baik keduanya itu saudara senasab atau sesusuan, merdeka  ataupun hamba sahaya atau satunya merdeka dan satunya hamba sahaya, ini merupakan hasil ijma’ dari kalangan para sahabat dan tabi’in dan semua ulama salaf. Ibnul Mundzir juga meriwayatkan tentang ijma’ dalam masalah tersebut.”

Makna yang diambil dari keterangan di atas bahwa seorang laki-laki dilarang menikahi dua wanita bersaudara, sehingga keduanya bersama-sama menjadi istri satu orang. Hikmah dari larangan ini adalah agar pernikahan ini tidak memutus hubungan silaturahim diantara kedua saudara tersebut.

Oleh karena itu, jika istri pertama sudah pisah, baik karena perceraian maupun karena meninggal, maka sang suami boleh menikahi adik istrinya, karena sudah tidak lagi menggabungkan dua wanita bersaudara.

Jikapun si laki-laki tersebut masih ingin menikahi adik atau saudara istrinya tentu harus menceraikan terlebih dahulu istrinya. Terkait dengan perceraian ini, ada dua jenis perceraian; pertama, talak raj’i yaitu talak yang masih memungkinkan untuk terjadinya rujuk (kembali). Itulah talak satu atau talak dua sebelum idah selesai. Kedua, talak ba’in yaitu talak yang tidak mungkin untuk terjadi rujuk. Itulah talak tiga.

Baca Juga :  Viral Ayah Nikahi Anak dan Kakak Nikahi Adik, Sebenarnya Siapa Sajakah Wanita Mahram dalam Islam?

Jika perceraian yang terjadi adalah talak raj’i, maka suami harus menunggu selesainya masa idah istri pertamanya, untuk bisa menikahi adik istrinya. Jika perceraian yang terjadi adalah talak ba’in, maka suami boleh langsung menikahi adik istrinya, tanpa harus menunggu selesainya masa idah istri pertamanya. Dan ini adalah pendapat Said bin Musayib, Hasan al-Bashri, Urwah bin Zubair, as-Syafii, Abu Tsaur, Abu Ubaid, Ibnul Mundzir, dan beberapa ulama lainnya.

Al-Qurthubi mengatakan:

وَأَجْمَعَ الْعُلَمَاءُ عَلَى أَنَّ الرَّجُلَ إِذَا طَلَّقَ زَوْجَتَهُ طَلَاقًا يَمْلِكُ رَجْعَتَهَا أَنَّهُ لَيْسَ لَهُ أَنْ يَنْكِحَ أُخْتَهَا أَوْ أَرْبَعًا سِوَاهَا حَتَّى تَنْقَضِيَ عِدَّةُ الْمُطَلَّقَةِ

Ulama sepakat bahwa seorang lelaki yang menceraikan istrinya dengan talak raj’i, maka dia tidak boleh menikahi saudara istrinya, hingga selesai masa idah istri yang ditalak.

Kemudian al-Qurthubi melanjutkan:

وَاخْتَلَفُوا إِذَا طَلَّقَهَا طَلَاقًا لَا يَمْلِكُ رَجْعَتَهَا… وَقَالَتْ طَائِفَةٌ: لَهُ أَنْ يَنْكِحَ أُخْتَهَا .. وَبِهِ قَالَ سَعِيدُ بْنُ الْمُسَيَّبِ وَالْحَسَنُ وَالْقَاسِمُ وَعُرْوَةُ بْنُ الزُّبَيْرِ وَابْنُ أَبِي لَيْلَى وَالشَّافِعِيُّ وَأَبُو ثَوْرٍ وَأَبُو عُبَيْدٍ

Ulama berbeda pendapat apabila suami menalak istrinya dengan talak ba’in, sebagian berpendapat, dia boleh menikahi saudaranya.Ini merupakan pendapat Said bin Musayib, Hasan al-Bashri, al-Qosim, Urwah bin Zubair, Ibnu Abi Laila, as-Syafii, Abu Tsaur, dan Abu Ubaid.

2 KOMENTAR

  1. Memang tak elok di dengar orang tapi akhirnya ku cerai juga istriku dan kunikahi TUSRINI adik ipar ku yg seayah lain ibu . Sebab semua tlah terjadi meski jikalau dilihat dari wajah istri aku jauh lebih cantik berkulit kuning . Sedangkan adik ipar aku berkulit sawo matang tak cantik pula . Hanya menang body sahaja . Tapi aku merasakan kebahagiaan saat TUSRINI yg galak , angkuh dan keras kepala dgn pendirian yg kuat takluk karena keperawanannya kurenggut paksa

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here