Bolehkah Istri Menolak Berhubungan Intim Karena Suami Bau?

2
3974

BincangSyariah.Com – Dalam mengarungi bahtera pernikahan, pasangan suami istri pasti mengalami berbagai persoalan. Tak jarang terjadi perselisihan pendapat di antara mereka. Salah satu faktor penyebab perselisihan tersebut adalah sikap nusyuz dari pihak istri. Secara gamblang, nusyuz bisa diartikan sebagai sikap durhaka yang ditampakkan oleh istri di hadapan suaminya. Dampak dari sikap ini – selain mendapatkan dosa besar –  adalah hilangnya hak mendapatkan nafkah. Tindakan yang bisa dilakukan pihak suami bila istri kedapatan nusyuz telah dijelaskan dalam Al-Qur’an: (Baca: Air untuk Mandi Junub Tak Ada, Bolehkah Istri Menolak Berhubungan Intim dengan Suami?)

وَاللَّاتِيْ تَخَافُوْنَ نُشُوْزَهُنَّ فَعِظُوْهُنَّ وَاهْجُرُوْهُنَّ فِيْ الـمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوْهُنَّ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوْا عَلَيْهِنَّ سَبِيْلًا إِنَّ اللهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيْرًا

Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka menaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar” (Q.S. An-Nisa:34)

Ada beberapa sikap dan perbuatan istri yang tergolong sebagai nusyuz. Salah satunya adalah menolak ajakan hubungan intim dari suami, berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh sayyidina Abu Hurairah:

إِذَا دَعَا الرَّجُلُ امْرَأَتَهُ إِلَى فِرَاشِهِ فَأَبَتْ فَبَاتَ غَضْبَانَ لَعَنَتْهَا الـمَلَائِكَةُ حَتَّى تُصْبِحَ

“Apabila suamu mengajak istri berhubungan badan,lalu istri enggan melayaninya, dan  karenanya suami marah, maka malaikat melaknatnya sampai pagi hari”

Namun ulama menggarisbawahi bahwa bila ada uzur yang dibenarkan syariat, maka istri boleh menolak ajakan suaminya untuk berhubungan intim, seperti haid, menjalankan puasa wajib, atau sakit yang tidak memungkinkannya untuk memenuhi hajat suami. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam kitab Fathul Muin hamisy Hasyiyah I’anatut Thalibin (4/126):

وَيَحْصُلُ النُّشُوْزُ (بِمَنْعِ) الزَّوْجِ (مِنْ تَمَتُّعٍ) وَلَوْ بِنَحْوِ لَمْسٍ أَوْ بِمَوْضِعِ عَيَّنَهُ (لَا) إِنْ مَنَعَتْهُ عَنْهُ (لِعُذْرٍ) كَكِبَرِ آلَتِهِ بِحَيْثُ لَا تَحْتَمِلُهُ وَمَرَضٌ بِهَا يَضُرُّ مَعَهُ الوَطْءُ، وَقَرْحٌ فِيْ فَرْجِهَا وَكَنَحْوِ حَيْضٍ.

Baca Juga :  Selesai Haid tetapi Belum Mandi, Apakah Tetap Wajib Berpuasa?

Nusyuz terjadi dengan melarang suami untuk bersenang-senang walaupun sekedar menyentuh, atau  bersenang-senang di bagian tubuh tertentu, namun tidak dikatakan nusyuz bila istri menolaknya karena ada uzur, seperti alat kelamin suami terlalu besar di luar kemampuan istri, sakit yang membuat wathi menjadi mudharat, ada luka di farjinya, serta haid

Dan termasuk uzur yang memperbolehkan istri menolak ajakan suami adalah jika suaminya dalam keadaan bau badan atau bau mulut yang sampai batas membuat risih dan terganggu, sebagaimana ditegaskan dalam kitab at-Tahdzib fi Fiqh al-Imam asy-Syafi’i (5/545) :

…وَكَمَنْعِهَا لَهُ مِنَ الاسْتِمْتَاعِ بِهَا وَلَوْ بِغَيْرِ جِمَاعٍ كَقُبْلَةٍ حَيْثُ لَا عُذْرَ فِيْ امْتِنَاعِهَا مِنْهَا، فَإِنْ عَذَرَتْ كَأَنْ كَانَ بِهِ صُنَانٌ أَوْ بَخَرٌ مُسْتَحْكَامٌ وَتَأَذَّتْ بِهِ تَأَذِّيًا لَا يُحْتَمَلُ عَادَةً لَمْ تُعَدَّ نَاشِزَةً وَتُصَدَّقُ فِيْ ذَلِكَ إِنْ لَمْ تَدُلَّ قَرِيْنَةٌ عَلَى كَذِبِهَا

“(Termasuk nusyuz) seperti istri menolak suami yang mau bersenang-senang dengannya walaupun selain jima’, seperti mencium dan tidak ada uzur yang melatarbelakangi penolakannya. Bila ada uzur seperti suami dalam keadaan bau badan atau bau mulut yang menyengat, dan istri merasa terganggu dengan bau itu yang secara normal memang tidak bisa ditoleran. Maka istri tadi tidak bisa dikatakan telah melakukan nuzyuz dan dia bisa dibenarkan bila tidak ada tanda bahwa ia telah berbohong”

Imam Ibnu Hajar dalam kitabnya al-Fatawa al-Fiqhiyyah al-Kubra (4/173) juga menyatakan bahwa  menolak ajakan suaminya yang  dalam keadaan kotor tidak dikategorikan sebagai tindakan nusyuz. Beliau juga menjelaskan bahwa kewajiban menghilangkan segala sesuatu yang membuat risih tidak hanya berlaku bagi istri, pun suami juga wajib untuk melakukannya. Dengan demikian, bila seorang suami sedang dalam keadaan kotor atau bau, maka ia wajib membersihkan diri atau mandi agar bisa memenuhi hajatnya dengan sang istri.

Baca Juga :  Hukum Menceritakan Hubungan Seks Pribadi

Wallahu a’lam.

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here