Bolehkah Dokter Melihat Kemaluan Perempuan untuk Keperluan Pengobatan?

0
1960

BincangSyariah.Com – Mayoritas ulama Syafi’iyah sepakat bahwa aurat perempuan adalah seluruh badan kecuali tangan dan wajah.

Namun pada beberapa kasus seperti pengobatan suatu penyakit seperti penyakit kulit pada dinding kemaluan, sedangkan saat itu tidak ada dokter spesialis  kulit di rumah sakit tersebut kecuali seorang dokter laki-laki. Apa yang harus dilakukan?

Pada dasarnya, menurut Imam Nawawi dalam prioritas hukum bahwa menyentuh aurat perempuan haram sebagaimana melihat, sebab menyentuh tentu lebih lezat dari pada melihat. Karena itu seorang muslim diharuskan merendahkan pandangan darinya.

Namun dalam hal untuk keperluan pengobatan sebagaimana disebutkan di awal, para ulama berpendapat boleh dokter melihat aurat perempuan bukan mahram untuk mengobatinya.

Karena itu dalam kitab Syarh ‘Uqud al-Lujain fi Bayani Huquq al-Zaujain, dikatakan

ويجوز النظر إلىالأجنبية ومسّها للمداواة في المواضع التي يحتاج إليها ولو فرجا، بشرط حضور من يمنع الخلوة من محرم ونحوه، وبشرط فقد جنس معالج

Artinya: Boleh melihat ajnabiyyah/ perempuan asing dalam keperluan pengobatan, pada anggota badan yang sedang di obati walaupun kemaluannya, dengan syarat dihadiri mahramnya dan tidak ada dokter atau tabib perempuan.

Kebolehan tersebut sesuai dengan kaidah dalam ushul fiqh yang menyatakan al-dharuratu tubihul mahzhurat bahwa keadaan darurat membolehkan perkara terlarang.

Wallahu’alam.

Baca Juga :  Apakah Wajah Perempuan Aurat?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here