Benarkah Perempuan Dilarang Menyanggul Rambut?

0
1236

BincangSyariah.Com – Mungkin anda pernah melihat poto Ibu Kartini yang beredar luas di media sosial. Beliau terlihat menyanggul rambut. Sanggul rambut ada dua macam: ada yang rambut sendiri disanggul dan ada juga dengan menggunakan bahan lain yang ditempel ke bagian belakang kepala: bahannya ada yang rambut asli, benang, atau lainnya. Kalau sanggulnya dari rambut sendiri tentu tidak ada masalah. Hukumnya boleh. Tapi bagaimana kalau sanggulannya itu berasal dari rambut orang lain misalnya? Atau dari benang, plastik, dan benda lain? (Baca: R.A. Kartini Sebagai Inspirator Pendidikan Perempuan di Pesantren)

Kalau sanggulnya terbuat dari plastik, benang, dan benda suci lainnya selain rambut, kebanyakan ulama membolehkannya, tapi kalau sanggul rambut yang terbuat dari rambut asli ulama mengharamkannya, karena dianggap ada unsur penipuan. Selain itu, dalam hadis riwayat al-Bukhari dikatakan, “Orang yang menyambung dan disambung rambutnua dilaknat” (HR: Al-Bukhari).

Pertanyaannya, apakah seluruh ulama menyepakati haram? Adakah perspektif lain tentang masalah ini? Jasser Auda dalam bukunya Fiqhul Maqashid: Inathah Ahkam al-Syar’iyyah bi Maqashidiha memiliki tafsir lain atas hadis di atas. Menurutnya ada beberapa hadis yang berkaitan dengan masalah sanggul rambut ini. Ada hadis yang mengharamkan, seperti yang dikutip di atas, tapi ada juga hadis yang membolehkan.

Auda menemukan hadis lain dalam kitab Syarah Musykilul Atsar karya Abu Ja’far al-Thahawi yang mengisahkan Aisyah pernah mengunjungi seorang pengantin perempuan dan di sana ada tukang sanggul rambut. Aisyah bertanya, “ini rambut apa?”. “Ini rambut dia dan rambut lainnya yang diikat dengan benang” Jawab tukang sanggul. Aisyah diam dan tidak mengingkarinya.

Kalau menyambung rambut haram, tentu Aisyah akan marah dan menjelaskan keharamannya. Tapi dalam riwayat tersebut, Aisyah hanya diam dan tidak mengingkarinya. Jadi dalam kasus ini, ada dua riwayat yang terkesan bertentangan. Ada riwayat yang mengharamkannya dan ada pula yang membiarkannya. Mana yang kita pilih?

Baca Juga :  Mengapa Lelaki Disiapkan Bidadari Sedangkan Perempuan Tidak Disiapkan Bidadara?

Kalau ada dua dalil yang kontradiksi, cari titik temu antara kedua dalil tersebut agar bisa diamalkan kedua-duanya. Karena itu, memperhatikan konteks dan substansi hadis sangat penting. Titik temunya menurut Jasser Auda adalah hadis pertama yang melarang perempuan menyanggul dan menyambut rambut karena perempuan bersanggul di masa dulu identik dengan pelacur dan bukan perempuan terhormat. Tujuan Nabi melarangnya untuk menjaga kehormatan perempuan muslim agar tidak disamakan dengan pelacur. Sementara riwayat kedua yang mengisahkan Aisyah membiarkan perempuan yang menyanggul rambutnya karena ketika itu perempuan bersanggul tidak diidentikkan lagi dengan pelacur.

Kedua dalil di atas bisa diamalkan tergantung situasi dan konteksnya. Dalam situasi masyarakat yang mengidentikkan perempuan bersanggul dengan pelacur, untuk menghindari agar tidak disamakan dengan pelacur, menggunakan sanggul diharamkan. Tapi dalam situasi masyarakat yang menganggap sanggul biasa, menggunakan sanggul dibolehkan, sebagaimana yang dijelaskan Jasser Auda.

Sumber Bacaan:

Jasser Auda, Fiqhul Maqashid: Inathah Ahkam al-Syar’iyyah bi Maqashidiha, (Herndon: IIIT, 2006).

Hengki Ferdiansyah, Pemikiran Hukum Islam Jasser Auda, (Ciputat: Ebi Publishing, 2018). Untuk memesan buku Pemikiran Hukum Islam Jasser Auda silakan hubungi narahubung eBI Publishing di sini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here