Bagaimana Status Anak dari Hasil Nikah dengan Istri Persusuan?

1
3022

BincangSyariah.Com – Meskipun suatu pernikahan telah memenuhi segala unsur yang ada, baik itu syarat dan rukunnya. Namun, pernikahan masih bisa  dianggap belum sah. Karena masih tergantung pada satu hal yang menyebabkan pernikahan itu jadi terhalang. Halangan pernikahan  itu disebut dengan larangan pernikahan.

Maksud dari larangan pernikahan itu adalah orang-orang yang tidak boleh melakukan pernikahan. Berhubung begitu banyak larangan pernikahan itu,  dalam tulisan sederhana itu yang akan dibahas yaitu berkaitan dengan pasangan suami istri yang telah menikah, kemudian memiliki anak. Tapi, setelah berjalan sekian lama suami atau istri mendapat kabar bahwa suami atau istrinya pernah disusui oleh salah seorang ibu dari suami atau istri. Lalu, bagaimanakah pernikahan mereka?

Islam telah menetapkan bahwa saudara sepersusuan termasuk orang yang haram untuk dinikahi. Haramnya menikah antara saudara sepersusuan jelas sekali di dalam alquran  dan hadis. Allah swt berfirman dalam wanita-wanita yang haram dinikahi.

وَأُمَّهَاتُكُمُ اللاَّتِي أَرْضَعْنَكُمْ وَأَخَوَاتُكُم مِّنَ الرَّضَاعَةِ

Dan para ibu yang menyusui kalian, serta saudara perempuan sepersusuan dengan kalian. (QS an-Nisa: 23)

Rasulullah saw bersabda: “Apa yang diharamkan karena adanya hubungan kelahiran, haram pula karena hubungan persusuan. (HRMuslim)

Ayat di atas menerangkan wanita yang menyusui bayi dengan ibunya. Meskipun dia bukan ibu yang melahirkannya, tetapi mahram menikahinya karena hubungan sepersusuan, sama seperti status mahram karena nasab, sebagaima  penjelasan berikut ini;

1.    Ibu susu, karena ia telah menyusuinya maka ia dianggap sebagai ibu yang menyusukannya.

2.    Ibu dari yang menyusui sebab ia merupakan neneknya.

3.    Ibu dari bapak susunya sebab dia juga merupakan nenek

4.    Saudara perempuan dari ibu susunya, karena ia  bibi susunya

5.    Saudara perempuan bapak susunya, karena ia bibi susunya.

6.    Cucu perempuan ibu susunya, karena menjadi anak perempuan sodara laki-laki dan perempuan sesusuan dengannya.

7.    Saudara perempuan sesusuan baik sebapak/seibu atau sekandung.

susuan yang dapat mengahramkan pernikahan yaitu susuan yang sempurnamaksudnya yaitu di mana anak menyusui di tetek seorang ibu dan menyedot  air susu dan tidak berhenti dari menyusui terkecuali dengan kemauannya tanpa ada paksaan.

Nabi saw pernah ditawari untuk menikahi putri Hamzah bin Abdul Muthalib radhiyallahu ‘anhu. Namun beliau tidak bersedia, karena beliau dengan Hamzah adalah saudara sepersusuan.

Beliau bersabda:

لاَ تَحِلُّ لِى ، يَحْرُمُ مِنَ الرَّضَاعِ مَا يَحْرُمُ مِنَ النَّسَبِ ، هِىَ بِنْتُ أَخِى مِنَ الرَّضَاعَةِ

Dia tidak halal bagiku. Mahram karena sebab persusuan, statusnya sama seperti mahram karena nasab. Wanita itu adalah putri dari saudara sepersusuan denganku. (HR Bukhari dan Nasai)

Karena Nabi saw dan Hamzah bin Abdul Muthalib masih saudara sepersusuan, maka status putri Hamzah adalah keponakan Nabi sawkarena hubungan persusuan.

Jikapun mereka tetap menikah,  maka pernikahan antar sesama mahram adalah pernikahan yang tidak sah. Karena itu, pernikahanseperti ini harus dibatalkan.

Kasus ini pernah terjadi di zaman Nabi saw. Ada seorang sahabat bernama Uqbah bin al-Harits radhiyallahu ‘anhu, beliau menikah dengan Ummu Yahya bintu Abi Ihab. Tiba-tiba datang seorang wanita mengaku, “dulu saya menyusui kalian berdua…”

Kemudian beliau mengadukan hal ini kepada Nabi saw, beliau menjawab:

Baca Juga :  Anjuran Menundukkan Pandangan bagi Lelaki

فكيف وقد قيل ففارقها

“Mengapa ditolak, padahal sudah ada saksi yang mengatakannya.”

Kemudian Nabi saw memisahkan mereka berdua.

Sementara untuk status hubungan sebelum dan status anaknya. Dalam hal ini, para ulama menyebutnya dengan pernikahan syubhat. Sebelum diketahui bahwa itu batal, status pernikahan ini bagi pelakunya sah. Sehingga hubungan yang dia lakukan, tidak dinilai dosa, bahkan anak yang dihasilkan tetap dinasabkan ke ayahnya. Karena ketika dia melakukannya sama sekali tidak tahu bahwa itu batal.

Imam Ibnu Utsaimin pernah ditanya, “setelah saya menikah dan melakukan hubungan badan, saya baru tahu ternyata istri saya adalah saudara saya sepersusuan. Karena saya disusui bersama kakaknya. Apakah keadaan ini menjadikan haram bagiku?

Beliau  menjawab:

نعم .. إذا كان الأمر كما قلت ، وأنك رضعت مع أخت الزوجة من أمها بمعنى أنك رضعت من أم الزوجة أو من زوجة أبيها فإنك في هذه الحالة تكون أخاً ، ويكون العقد باطلاً

 

Benar, wanita itu mahram bagi anda, jika realitanya seperti yang anda sampaikan. Ketika anda menyusu bersama kakak istri, berarti anda pernah menyusu ke ibunya istri. Atau menyusu ke istri ayahnya. Dalam hal ini, anda adalah saudara, sehingga akadnya batal.

Kemudian beliau melanjutkan;

وما حصل من الأولاد قبل العلم فإنهم ينسبون إليك شرعاً ، لأن هؤلاء الأولاد خلقوا من ماء بوطء في شبهة والوطء بشبهة يلحق به النسب كما قال بذلك أهل العلم

Sementara anak yang dihasilkan sebelum tahu, mereka dinasabkan kepada anda secara hukum syar’i, karena anak ini tercipta dari air mani melalui hubungan syubhat. Dan hubungan syubhat, nasabnya bisa dikembalikan kepada ayah biologisnya, sebagaimana yang dinyatakan para ulama. (Fatawa Islamiyah)

Baca Juga :  Tata-cara Bersuci dan Salat bagi Wanita "Istihadhah"

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here