Apakah Keputihan Membatalkan Wudhu?

0
25

BincangSyariah.Com – Selain mengalami haid, terkadang perempuan juga mengalami keputihan. Dalam kitab-kitab fiqih, keputihan ini disebut dengan ruthubatul farj, yaitu cairan atau lendir yang keluar dari kemaluan perempuan. Karena keluar dari kemaluan ini, apakah keputihan bisa membatalkan wudhu? (Baca: Mengenal Tiga Jenis Keputihan dalam Islam)

Para ulama Syafiiyah membagi keputihan menjadi dua bagian. Pertama, keputihan yang tidak membatalkan wudhu. Kedua, keputihan yang membatalkan wudhu.

Keputihan yang menjadi pembatal wudhu adalah cairan yang keluar dari bagian dalam kemaluan perempuan yang tidak wajib dibasuh ketika mandi junub. Jika cairan itu keluar dari bagian dalam kemaluan perempuan meskipun tidak tampak di bagian luar, maka hal itu membatalkan wudhu.

Sementara jika keputihan atau cairan tersebut keluar dari bagian luar kemaluan perempuan, yaitu bagian kemaluan yang wajib dibasuh ketika mandi junub atau bagian kemaluan yang tampak ketika duduk, maka hal itu tidak membatalkan wudhu.

Ini sebagaimana disebutkan dalam kitab Bughyatul Mustarsyidin berikut;

حاصل كلامهم في رطوبة فرج المرأة التي هي ماء أبيض متردد بين المذي والغرق أنها إن خرجت من وراء ما يجب غسله في الجنابة يقينا إلى حد الظاهر ، وإن لم تبرز إلى خارج نقضت الوضوءأو من حد الظاهر وهو ما وجب غسله في الجنابة أعني الذي يظهر عند قعودها لقضاء حاجتها لم تنقض

Kesimpulan pendapat para ulama mengenai keputihan yang keluar dari kemaluan perempuan, yaitu cairan bening yang berada di antara madzi dan cairan kemaluan, bahwa jika cairan itu keluar dari bagian dalam kemaluan yang tidak wajib dibasuh ketika mandi junub secara meyakinkan, meskipun tidak tampak sampai bagian luar, maka hal itu membatalkan wudhu. Atau keluar dari bagian luar kemaluan perempuan, yaitu bagian yang wajib dibasuh ketika mandi junub atau bagian kemaluan yang tampak ketika perempuan duduk saat buang air besar, maka hal itu tidak membatalkan wudhu.

Adapun menurut Imam Abu Hanifah, keputihan tidak menjadi pembatal wudhu dan tidak najis meskipun keluar dari bagian dalam kemaluan perempuan. Hal ini karena beliau menyamakan keputihan dengan keluarnya angin dari kemaluan atau farji perempuan yang yang dihukumi tidak najis dan tidak membatalkan wudhu.

Ini sebagaimana disebutkan dalam kitab Al-Fatawa Al-Amidiyah berikut;

لا ينقض الوضوء بها لطهارتها قياسا على خروج الريح من الفرج

Wudhu tidak batal sebab keluarnya keputihan sebab keputihan adalah suci dengan disamakan dengan keluarnya angin dari kemaluan perempuan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here