Anak Perempuan di Mata Kiai Sholeh Darat

0
1174

BincangSyariah.Com – Perempuan seringkali diposisikan dalam wilayah pinggiran (peripheral) dalam pemikiran Islam. Tafsir-tafsir keagamaan yang cenderung diskriminatif terhadap perempuan menempatkan perempuan sebagai “kelas kedua” dalam Islam. Sehingga ketidakadilan dan diskriminasi terhadap perempuan kadang-kadang –untuk tidak mengatakan sering- dilegitimasi dengan dalil-dalil keagamaan.

Misalnya menganggap pemimpin lebih baik laki-laki dibanding perempuan dengan mengutip ayat Al-Quran surah an-Nisa’ ayat 34. Atau mengambil rujukan hadis tentang perbedaan kualitas kesaksian seorang perempuan dan laki-laki. Hal semacam ini, menempatkan wanita sebagai kelompok inferior dengan mengutp dalil agama, sungguh tindakan yang kurnag hati-hati dalam memahami ajaran agama.

Hal itu dikarenakan pemahaman semacam itu akan kontra produktif dengan nilai dasar Islam yang menjunjung tinggi persamaan dan keadilan. Maka dari itu Allah tidak menilai hambanya dari jenis kelaminnya, melainkan dari tingkat ketakwaannya. Sehingga tafsir agama yang bias semacam itu sudah tidak relevan.

Kedatangan Muhammad dengan ajaran Islam membawa perubahan yang dahsyat di dunia Arab pada saat itu. Perempuan Arab di era pra Islam menempatkannya dalam posisi yang tidak manusiawi. Dalam kehidupan masyarakat Arab, melahirkan bayi perempuan dianggap merendahkan martabat keluarga. Sehingga fenomena mengubur bayi hidup-hidup dalam masyarakat Arab pra Islam dianggap biasa.

Bagi mereka, seseorang akan lebih terhormat melahirkan bayi laki-laki dibandingkan memiliki bayi perempuan. Laki-laki adalah simbol kekuatan bagi bangsa Arab. Sedangkan perempuan adalah simbol ketidakberdayaan. Maka seringkali dijumpai dalam tradisi masyarakat Arab pra Islam ketika seorang perempuan ditinggal mati suaminya memungkinkan untuk dijadikan warisan bagi anak laki-lakinya. Sehingga perempuan dianggap seperti barang yang dapat diwarisakan.

Kiai Sholeh Darat merupakan seorang ulama yang menurut Prof Sri Suhandjati dalam Mitos Perempuan Kurang Akal & Agamanya dalam Kitab Fiqh Berbahasa Jawa, (2014) menjaga martabat perempuan dengan nasihat-nasihat agamanya di Abad 19. Sebagaimana larangan keluar rumah dan belajar menulis yang dimaknai sebagai upaya preventif kiai Sholeh Darat dalam melindungi perempuan dari tindakan amoral pemerintah kolonial pada saat itu. Lantas bagaimana pandangan beliau tentang anak perempuan?

Baca Juga :  Benarkah Perempuan Harus Memakai Mukena Saat Shalat?

Dalam masyarakat Jawa, ada sebagian orang yang sering mengidam-ngidamkan anak pertama mereka seorang laki-laki. Menurut kiai Sholeh Darat, ketika kita mengharapkan bayi laki-laki dan lahirlah seorang bayi laki-laki maka jangan terlalu berlebihan berbahagia. Begitu juga ketika yang lahir justru bayi perempuan, kita dilarang bersedih hati. Karena kita belum pasti tahu mana di antara bayi laki-laki atau perempuan yang kelak akan memberikan manfaat kepada kita.

Sehingga semestinya yang dilakukan adalah mensyukurinya. Kiai Sholeh Darat menuliskan dalam kitab Majmu’at al-Syari’t al-Kafiyat lil Awwam:

arep aja banget-banget bungahe nalikane keparingan anak lanang lan aja susah nalikane keparingan anak wadon balik karo-karo pada syukur maring Allah kerono siro ora weruh endi-endi ingkang manfaat maring siro opo wadon opo lanang.”

Artinya:

“jangan terlalu bahagia jika diberi anak laki-laki dan jangan sedih jika diberi anak perempuan. Akan tetapi bersyukurlah kepada Allah karena engkau tidak mengetahui mana yang akan memberikan manfaat kepadamu, laki-laki atau perempuan.”

Selain itu, menurut kiai Sholeh Darat, banyak orang yang justru mengeluh (sambat) memiliki anak laki-laki dan menginginkan anak perempuan. Bahkan kiai Sholeh Darat dengan eksplisit menyebut bahwa anak perempuan itu lebih bermanfaat dan mudah dididik. Kiai Sholeh Darat kemudian menyitir banyak hadis yang kesemuanya berisi tentang kemuliaan memiliki, mengasihi, dan membahagiakan hati anak perempuannya.

Jadi, anak perempuan atau laki-laki adalah anugrah yang diberikan Tuhan kepada manusia. Tugas manusia bukanlah untuk membandingkannya. Apalagi sampai berlebihan – dalam berbahagia atau bersedih – saat yang dia inginkan tidak sesuai kenyataan. Karena anak adalah anugerah, maka bersyukurlah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here