Zakiah Aini dan Motivasi Perempuan dalam Terorisme

2
19

BincangSyariah.Com – Belum reda kasus bom bunuh diri yang melibatkan pasangan muda di gereja katedral Makassar, masyarakat kini digegerkan dengan aksi Zakiah Aini, seorang perempuan yang nekat menerobos Polda Metro Jaya dan dilumpuhkan oleh kepolisian.

Keterlibatan Zakiah Aini dalam aksi teror tersebut menunjukkan bahwa perempuan dan anak-anak adalah pihak yang paling dirugikan dalam tindakan terorisme. Apa sebenarnya motivasi para perempuan dalam tindakan terorisme dan bagaimana perempuan dan anak-anak bisa terlibat dalam tindak pidana terorisme?

Keterlibatan Perempuan

Sebelum sampai pada tindakan terorisme, orang akan terlebih dahulu terkungkung dalam radikalisme dan ekstremisme. Dalam banyak penelitian disebutkan bahwa radikalisme yang adalah akar dari terorisme yang kerap mengeksploitasi perempuan.

Perempuan selalu menjadi korban saat sebagian masyarakat atau kelompok tertentu mengalami proses radikalisasi. Dalam agama apa pun, perempuan selalu menjadi sasaran diskriminasi dan eksploitasi oleh para penafsir fundamental yang membenci perempuan atau misoginis.

Musdah Mulia dalam Perempuan dalam Gerakan Teorisme di Indonesia mencatat bahwa perempuan menjadi sasaran kelompok radikalisme agama dengan alasan yang sangat jelas.

Ada alasan atas nama agama dan kelompok yang merasa memiliki legitimasi mengontrol dan menyerang perempuan. Ada pula nilai-nilai budaya yang umumnya patriarkis dan bias gender. Tak heran jika perempuan di Indonesia terpapar radikalisme.

Musdah memaparkan bahwa motivasi utama perempuan Indonesia yang terlibat dalam gerakan terorisme bersifat teologis. Pada mulanya, para perempuan terpapar ideologi Islam radikal yang mengandung ajaran wajib hukumnya bagi seorang Muslim untuk membunuh orang kafir atau non-Muslim.

Kewajiban tersebut bertujuan untuk menegakkan negara Islam dan khilafahislamiyah dengan melakukan jihad untuk menumpas ketidakadilan, meski dengan cara membunuh.

Dalam doktrin tersebut, narasi ketertindasan Islam juga digaungkan dan orang yang terpapar ideologi Islam radikal sangat meyakini bahwa umat Islam sudah berada dalam kondisi tertindas. Oleh sebab itu, umat Islam harus diselamatkan dengan jihad.

Jihad yang dimaknai adalah membunuh semua musuh Islam yang diistilahkan dengan thagut. Ada juga doktrin yang dikembangkan tentang pemahaman bahwa perempuan harus ikut berjihad dalam membela Islam.

Empat Tahapan Terorisme

Radikalisme adalah langkah pertama menuju terorisme. Fathali M. Moghaddam, pengamat gerakan terorisme menyebutkan bahwa ada empat tahapan yang biasanya dilalui oleh kelompok radikal Islam sebelum bermetaformosis menjadi teroris.

Pertama, mereka memiliki keyakinan bahwa mereka teraniaya, terpinggirkan dan tidak berdaya. Keyakinan tersebut mendorong mereka mencari suatu pegangan demi memperbaiki kondisi.

Kedua, keyakinan bahwa sudah saatnya dan sangat penting untuk melampiaskan kemarahan dan dendam kepada mereka yang dipersepsikan sebagai “thagut”.

Ketiga, keyakinan bahwa aksi terorisme merupakan strategi paling mungkin dan paling sah agar kemenangan segera tercapai.

Keempat, munculnya keyakinan yang sangat kuat bahwa terorisme merupakan jihad terbesar untuk menjadi syahid, seperti bunyi slogan yang diajarkan: isy kariman aw mut syahidan (hiduplah secara terhormat atau matilah dengan syahid).

Di Indonesia, kelompok Islam radikal sangat mudah dikenali karena mereka sering mengusik tradisi keislaman yang sudah mapan dan diamalkan umat Islam di negeri ini.

Tradisi yang kerap diserang adalah pembacaan Barzanji, tahlilan dan dzibaan, tradisi peringatan maulid Nabi, tradisi takziyah kematian dan seterusnya. Selain itu, biasanya mereka gencar menyebarkan paham anti-Pancasila, anti-demokrasi, anti-kebhinekaan dan keberagaman, dan anti- kesetaraan gender.

Mereka juga alergi dengan semua yang datang dari Barat dan non-Islam. Fatalnya lagi, mereka juga benci dengan simbol-simbol keindonesiaan, seperti bendera Merah-Putih, lambang Burung Garuda, dan lagu Indonesia Raya.

Mereka menyebut semua itu bid’ah dan thagut (musuh Islam) yang harus dilenyapkan. Bahkan, mereka memandang Indonesia sebagai negara kafir karena itu boleh dirampok.

Untuk kasus di Indonesia, ada banyak hipotesis yang muncul mengapa para perempuan Indonesia bersedia melakukan tindakan terorisme. Salah satu faktor penyebab adalah lekatnya pengaruh dan strategi ISIS dalam jaringan teroris yang ada di Indonesia.

Baca: Khutbah Jumat 2021; Paham Hakimiyah, Akar Terorisme di Indonesia

Keterlibatan Anak-anak

Melansir Republika.id, tindak pidana terorisme yang melibatkan anak-anak di Indonesia adalah fenomena yang memprihatinkan. Keterlibatan anak-anak dalam terorisme mengancam tumbuh kembang anak, baik dari sisi kehidupan masyarakat, kepribadian, pemahaman agama, serta nasionalisme.

Asisten Deputi Bidang Perlindungan Anak Berhadapan dengan Hukum dan Stigmatisasi Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kementerian PPPA), Hasan, mengatakan bahwa banyak anak-anak yang terlibat dalam tindak pidana terorisme.

Keterlibatan tersebut terjadi karena adanya bujukan, rayuan, doktrin, dan ajaran untuk melakukan tindakan radikal serta terorisme oleh orang terdekat, seperti tetangga, guru, teman bermain, bahkan mirisnya oleh orang tua.

Ada dua faktor penyebab munculnya radikalisme dan terorisme. Pertama, faktor internal, di mana pemahaman tentang agama, wawasan kebangsaan, jenis kelamin, umur, intelegensi, dan kematangan emosi anak sangat minim. Kedua, faktor eksternal yaitu keluarga, lingkungan, media, kemiskinan, pendidikan.

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mencatat ada sebanyak 500 orang tua yang berada dalam lembaga permasyarakatan yang terlibat dalam tindak pidana terorisme. 1.800 anak dari para pelaku terorisme tersebut mengalami stigmatisasi dan pelabelan.

Mereka mengalami pengucilan, diskriminasi, dilarang bergaul, bahkan ada yang dikeluarkan dari sekolah. Anak-anak mengalami trauma dan mesti mendapatkan pembinaan, pendampingan dan pemulihan.

Perlindungan anak adalah wewenang otonomi daerah di mana pelaksanaannya dilakukan bersama antara Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) dan Pemerintah Daerah.

Upaya yang bisa dilakukan untuk mencegah keterlibatan anak-anak dalam tindak pidana terorisme adalah pencegahan yang bisa dilakukan Organisasi Perangkat Daerah (OPD), kanwil-kanwil serta LSM dan lembaga pemerhati anak.

Pencegahan yang dilakukan bisa berbentuk sosialisasi, advokasi, penyuluhan, penyampaian informasi melalui materi komunikasi informasi edukasi (KIE) dan lain sebagainya. Masyarakat juga harus terlibat aktif dalam upaya pencegahan tersebut.

Sasaran yang dibidik bisa keluarga atau orang tua sebagai unsur utama dalam memberikan pembinaan, pengawasan, memberikan nilai budi pekerti yang baik terhadap anak. Pencegahan juga bisa ditujukan kepada masyarakat, forum anak atau organisasi masyarakat.

Perekrutan Perempuan

Para laki-laki personil ISIS sudah banyak berkurang, kerena tertangkap maupun tewas dalam gencatan senjata. Untuk melanjutkan misi, maka anggota jaringan yang tersisa, umumnya mereka adalah perempuan, harus diterjunkan, tidak perduli anak-anak atau perempuan.

Ternyata strategi yang dipakai oleh ISIS di tingkat dunia digunakan juga di Indonesia. Penelitian Yayasan Prasasti Perdamaian mengungkapkan, umumnya mereka adalah para isteri dan keluarga teroris yang sudah lama terlibat dalam aksi-aksi pengeboman di Indonesia, isteri dan keluarga para jihadis di Suriah, Lebanon dan Turki.

Para suami atau keluarga mereka adalah anggota Jamaah Islamiyah, Jamaah Ansharut Tauhid, gerakan Negara Islam Indonesia, ISIS, Salafi Jihadis dan organisasi Islam radikal lain.

Sebagian besar dari mereka bukanlah perempuan bodoh dan tidak terdidik. Kebanyakan mereka lulusan perguruan tinggi, selebihnya lulusan pesantren dan Sekolah Menengah Atas. Zakiah Aini adalah salah satunya.

Lalu, dari aspek ekonomi, mereka tidak selalu dari kelompok miskin, tidak sedikit dari kalangan menengah ke atas. Profesi mereka pun beragam dan sebagian cukup menjanjikan,

Misalnya berkarir sebagai dosen, guru, muballighah, ustazah, dokter, karyawan, aktivis organisasi dan pedagang online. Sisanya, sebagai pelayan toko, buruh migran, dan pekerja pabrik.

Sebagian mereka direkrut melalui pernikahan, lalu suami mendoktrin mereka dengan pemahaman Islam radikal. Artinya, mereka sengaja dinikahi untuk dijejali ideologi radikal, bahkan sebagian perempuan dinikahi ketika suami masih berada di penjara.

Sebaliknya, tidak sedikit dari mereka justru didoktrinasi terlebih dahulu baru dinikahi. Sebagian dari mereka mendapatkan indoktrinasi yang sangat masif dari teman dekat suami atau dari sesama perempuan yang telah lama aktif dalam jaringan terorisme.

Tidak sedikit perempuan buruh migran berhasil direkrut dalam gerakan terorisme. Mengapa? Karena umumnya mereka punya uang, mandiri, dan berani serta yang paling penting mereka punya pengalaman bepergian ke luar negeri sehingga mudah dijadikan sebagai agen kurir atau pembawa pesan-pesan rahasia.

Mereka juga umumnya pengguna aktif internet. Sebagian mereka terpapar ideologi radikalisme lewat internet ketika bekerja di luar negeri. Pertemuan mereka dengan suami dan kelompoknya umumnya terjadi melalui jaringan sosial media, seperti facebook.

Perempuan buruh migran seringkali mengidap kekecewaan dan frustrasi yang sangat dalam akibat perlakuan diskriminatif dan kekerasan fisik yang mereka alami ketika bekerja.

Umumnya mereka mengalami berbagai trauma psikologis selama bekerja di luar negeri. Patologi psikis tersebut membuat sebagian mereka mudah menerima pengaruh apa pun yang dianggap dapat menolong mereka keluar dari situasi mencekam tersebut.

Sebagian mereka sangat membutuhkan mekanisme pertahanan diri (self defence mechanism) untuk bertahan dari berbagai tekanan sosial. Aksi-aksi terorisme mebuat mereka menemukan kebermaknaan hidup.

Tugas dan peran perempuan dalam gerakan terorisme cukup beragam dan signifikan. Di antaranya, mereka berperan sebagai pendidik (Educator); agen perubahan (Agent of change); pendakwah(Campaigner); pengumpul dana (Fund raiser); perekrut (Recruiter);

penyedia logistik (Logistic arranger); pengantin atau pelaku bom bunuh diri (suicide bombers); kurir antar kota, antar negara; penghubung rahasia (mata-mata); agen radikal; pengikut dan pendamping setia dari suami yang terlebih dahulu menjadi teroris.

Sebagian dari mereka direkrut melalui pernikahan, suami sendiri yang melakukan upaya terencana menanamkan ideologi radikal dengan “cuci otak”. Artinya, mereka sengaja dinikahi untuk selanjutnya didoktrin dengan ideologi radikal.

Pernikahan mereka sebagian berlangsung secara normal, namun tidak sedikit menikah dalam penjara. Sebagian lagi dinikahi belakangan setelah mereka menerima doktrin radikal tersebut.

Tidak sedikit dari mereka mendapatkan indoktrinasi yang sangat masif dari teman dekat suami atau dari sesama perempuan yang telah terlebih dahulu aktif dalam jaringan tersebut.

Pentingnya Memilih Guru Ngaji

Ada banyak hal yang bisa dilakukan untuk mencegah perempuan dan anak-anak terpapar tindakan terorisme. Salah satu hal yang paling efektif dalam mencegah hal tersebut adalah memilih guru ngaji.

Kegiatan mengaji bukan hanya membaca Al-Qur’an semata. Saat mengaji, ada banyak instumen yang dibutuhkan untuk memahami bacaan dan isi Al-Qur’an, sebagai misal ilmu nahwu sorof dan asbabun nuzul.

Karena itu, memilih guru ngaji yang tepat menjadi hal yang sangat penting agar kita tidak terjerumus ke dalam ideologi radikal, kemudian menjadi ekstremis, lalu terlibat dalam tindakan terorisme.

Kita boleh belajar agama di media sosial selama guru agama online yang dipilih mumpuni dalam ilmu agama dan bisa dipertanggungjawabkan kelimuannya. Tidak abal-abal serta tidak memprovokasi.

Sayangnya, ada banyak orang yang kerap keliru saat memilih guru ngaji dan tersesat dalam jalan radikalisme. Radikalisme adalah gerbang menuju teorisme. Stop mendengarkan guru ngaji yang provokatif dan mulailah berguru pada para penceramah, Ustadz, dan Kiai yang selalu mengedepankan toleransi dan perdamaian.[]

100%

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here