Zaid bin Tsabit: Sahabat yang Diminta Nabi Mempelajari Bahasa Ibrani dan Suryani

0
1808

BincangSyariah.Com- Zaid bin Tsabit, mungkin nama ini tidak asing bagi umat Islam. ia dikenal di kalangan para sahabat Nabi dengan ahli tulis, dan memilik literasi kemampuan yang tinggi. Bernama lengkap Zaid bin Tsabit al-Dahhak, ia juga pernah diangkat sebagai pemberi fatwa di Madinah kala kepemimpinan para Khalifah.

Rasulullah lantas tidak mengizinkannya, tapi Zaid kecil tidak langsung menyerah, ia pulang untuk mengadu pada Ibunya dan terus belajar untuk mencari kelebihan yang ia miliki. Berkat kecerdasannya, kemudian ia diangkat menjadi penerjemah Rasulullah.Ia menguasai banyak bahasa seperti Ibrani (Bahasa Bagi bangsa Yahudi), Suryani (Mesopotamia, Suriah). (Tujuh Pendekar Fikih dari Madinah, Keturunan Zaid bin Tsabit Masuk di Dalamnya)

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas Ra, bahwa termasuk orang-orang yang dijelaskan dalam ayat, al-Rasikhin fil Ilm, QS. Ali Imron, ayat7. Zaid bin Tsabit pun selalu mendampingi Rasulullah Saw ketika mendapatkan wahyu.

Zaid bin Tsabit dikenal memiliki kemampuan literasi yang kuat. Bahkan dirinya dikenal dengan turjuman al-Nabi, para penerjemah langsung perkataan Nabi. Selain itu dirinya mendapatkan perintah untuk menuliskan surat-surat kepada raja-raja yang hidup berdampingan dengan komunitas umat Islam kala itu.

Dalam sebuah riwayat Hadis yang diriwayatkan oleh al-Bukhari bahwa Zaid bin Tsabit pun bahkan menjadi orang yang mampu menerjemahkan semua perkara hukum yang menimpa banyak orang Islam kala itu. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyatakan bahwa pernah diminta untuk menjadi penerjemah langsung dari pendapat hukum Ibnu Abbas yang diminta fatwanya.

Suatu ketika Rasulullah Saw mendapatkan surat yang berbahasa Ibrani dam Suryani. Atas pertimbangan tersebut, Rasulullah Saw memerintahkan dirinya untuk mempelajari Bahasa Ibrani dan Bahasa Suriyani. Sebagaimana dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh al-Bukhari. Bahwasanya Rasulullah Saw memerintahkan Zaid bin Tsabit untuk mempelajari Bahasa Ibrani dan Suryani. Dalam shahih al-Bukhari, Nabi Muhammad Saw bersabda, “Pelajarilah bahasa Ibrani (bahasa Umat Yahudi), “Wahai Zaid, pelajarilah untukku aksara Yahudi, karena demi Allah, aku tidak merasa aman terhadap suratku dari orang Yahudi,”

Baca Juga :  Nabi Hanya Empat Kali Disebut dengan Namanya “Muhammad” di dalam Al-Qur'an

Tidak hanya itu, Nabi Muhammad juga memerintahkan Zaid bin Tsabit untuk mempelajari bahasa-bahasa asing lainnya seperti Bahasa Suryani. Karena pada saat itu, Nabi tengah menerima surat dari suku yang berbahasa Suryani. Sementara para sahabat tidak ada yang memahami bahasa tersebut. “Telah datang kepadaku surat, dan aku tidak ingin dibaca sembarang orang. Nah, bisakah engkau (Zaid bin Tsabit) mempelajari aksara Ibrani—atau beliau mengatakan; aksara Suryani?” tanya Nabi Muhammad. Dalam kitab Syarh Fath al-Bari, Ibnu Hajar mengatakan bahwa “mengenal bahasa Ibrani merupakan termasuk kebutuhan yang diperlukan saat itu”.

Setelah wafatnya Rasulullah Saw, Khalifah Abu Bakar al-Shiddiq Ra diminta oleh Umar bin al-Khattab Ra untuk mengumpulakn ayat al-Quran yang tercecer. Karena para sahabat nabi banyak yang wafat karena peperangan. Keunggulan Zaid bin Tsabit ini nanti diakhir hayatnya yang akan dibebani sebagai pengumpul para wahyu yang ditulis oleh para sahabat Nabi di pelepah-pelepah kurma.

Tugas yang panjang tersebut baru bisa diselesaikan dalam tiga tampuk kekhalifahan. Pengumpulan mushaf-mushaf tersebut baru selesai pada zaman Khalifah Usman bin Affan, al-Quran sebagaimana yang kita kenal hari in.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here