Tafsir Surah Yusuf 54-57; Nabi Yusuf Menjadi Orang Kepercayaan Raja Mesir

0
797

BincangSyariah.Com – Setelah semua permasalahan selesai, Yusuf menjadi orang kepercayaan raja Mesir saat itu. Dalam kisahnya Allah Swt.berfirman:

وَقَالَ الْمَلِكُ ائْتُونِي بِهِ أَسْتَخْلِصْهُ لِنَفْسِي فَلَمَّا كَلَّمَهُ قَالَ إِنَّكَ الْيَوْمَ لَدَيْنَا مَكِينٌ أَمِينٌ . قَالَ اجْعَلْنِي عَلَى خَزَائِنِ الْأَرْضِ إِنِّي حَفِيظٌ عَلِيمٌ . وَكَذَلِكَ مَكَّنَّا لِيُوسُفَ فِي الْأَرْضِ يَتَبَوَّأُ مِنْهَا حَيْثُ يَشَاءُ نُصِيبُ بِرَحْمَتِنَا مَنْ نَشَاءُ وَلَا نُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ . وَلَأَجْرُ الْآخِرَةِ خَيْرٌ لِلَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ

Wa qālal-maliku`tụnī bihī astakhliṣ-hu linafsī, fa lammā kallamahụ qāla innakal-yauma ladainā makīnun amīn (54) Qālaj’alnī ‘alā khazā`inil-arḍ, innī ḥafīẓun ‘alīm (55) Wa każālika makkannā liyụsufa fil-arḍi yatabawwa`u min-hā ḥaiṡu yasyā`, nuṣību biraḥmatinā man nasyā`u wa lā nuḍī’u ajral-muḥsinīn (56) Wa la`ajrul-ākhirati khairul lillażīna āmanụ wa kānụ yattaqụn (57) 

Artinya:

Raja berkata: “Bawalah Yusuf kepadaku, agar aku memilih dia sebagai orang yang dekat denganku”. Maka tatkala raja telah bercakap-cakap dengannya, dia berkata: “Sesunggunya kamu (mulai) hari ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi lagi dipercaya pada sisi kami.” (54)

Yusuf menjawab: “Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir): sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan.” (55)

Demikianlah Kami memberi kedudukan kepada Yusuf di negri Mesir: (dia berkuasa penuh) pergi menuju kemana saja ia kehendaki di bumi Mesir itu. Kami melimpahkan rahmat kami kepada siapa yang kami kehendaki dan kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik (56)

Pahala di akhirat itu sungguh lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan selalu bertakwa (57)

Para ulama tafsir berbeda pendapat dalam memahami kata raja pada kalimat Raja berkata. Sebagian berpendapat bahwa yang dimaksud adalah Rayan bin walid dan menurut sebagian lainya adalah al-Aziz. Imam al-Razi dalam karyanya Tafsir al-Razi memberikan komentar bahwa yang kuat adalah pendapat kedua yang menyatakan bahwa raja tersebut ialah Rayan bin Walid.

Baca Juga :  Tafsir Surah Yusuf 43-45; Perkenalan Nabi Yusuf dengan Raja Mesir

Imam Ibnu Katsir dalam karyanya Tafsir Ibnu Katsir mengarahkan maksud dari kalimat agar aku memilih dia sebagai orang yang rapat kepadaku adalah menjadikanya sebagai seorang yang khusus dan yang selalu dimintai pertimbangan oleh sang-raja.

Pada waktu Yusuf akan keluar dari dalam penjara, Jibril turun dan mengajarinya sebuah doa “Allahumma Ij’al li min ‘Indik Farjan wa Makhrajan Warzuqni min haitsu layahtasib” (Wahai Tuhanku berikanlah aku kelapangan dan jalan keluar dari sisi-Mu serta berilah aku rezeki dari sumber yang tidak aku sangka). Yusuf melantunkan doa tersebut dan Allah Swt. menerimanya.

Dengan berjalanya waktu, raja Rayan bin Walid mengetahui kepribadian Yusuf dan meyakini bahwa dia adalah sosok yang dianggap memiliki nilai yang tinggi dalam hatinya. Sang-raja menganggapnya sebagai sesosok yang spesial sebab berbagai hal, di antaranya: pertama; keilmuannya yang telah terbukti. Dia mampu memecahkan permasalahan mimpi raja. Kedua; Ketangguhan dan kesabaranya, sebab pada waktu diperintahkan untuk keluar dari dalam penjara, ketiga; Yusuf bersabar dan meminta bukti atas kebersihannya dari tuduhan. Keempat; adabnya, sebab pada waktu meminta penyaksian dari istri al-Aziz yang membuatnya terkurung dalam penjara, dia tidak langsung menyebutkan istri al-Aziz akan tetapi dia sebut para wanita yang telah melukai tanganya walaupun sebenarnya yang dituju ialah istri al-Aziz. kelima; Terbebasnya dari semua tuduhan. Keenam; Telah diakui oleh semua penduduk penjara sebagai seorang yang baik selama bertahun-tahun mereka bersamanya.

Dengan berbagai faktor tersebut, raja menginginkan Yusuf sebagai pendamping dan seorang yang akan selalu menjadi sumber rujukan raja dalam melangkah. Oleh karenanya terbebas dari kurungan penjara dan dipanggil kehadapan raja.

Setelah Yusuf dinyatakan terbebas dari penjara, dia memandikan dan membersihkan dirinya kemudian sebelum meninggalkannya dia menulis di pintu penjara “Ini adalah tempat malapetaka, kuburan orang hidup, kegembiraan musuh dan ujian para pemilik hati yang jujur”. (Baca: Tafsir Surah Yusuf 50-53; Istri Raja Mesir di Masa Nabi Yusuf Mengaku Bersalah)

Baca Juga :  Tafsir Surah Yusuf 4-6; Rahasia di Balik Sebuah Mimpi

Kemudian Yusuf menemui raja. Pada saat pertama kali berhadapan denganya, Yusuf berdo’a “Wahai Tuhan, aku memohon kepada-Mu dengan kebaikan-Mu atas kebaikanya (raja), dan aku berlindung dengan kemuliaan dan kekuasaan-Mu dari keburukanya (raja)”. Dan mengucapkan salam kepada raja.

Dalam pertemuan Yusuf dengan raja, sang-raja mengajaknya berbicara memakai tujuh puluh bahasa dan dia menjawab semuanya dan raja terkagum-kagum kepadanya. Dan raja ingin mendengar secara langsung darinya tentang tafsir mimpinya lalu Yusuf menyampaikan arti mimpi tersebut. Pada waktu itu Yusuf bermur tiga puluh tahun. Kemudian raja berkata “Sesunggunya kamu (mulai) hari ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi lagi dipercaya pada sisi kami.”

Dengan penyampaianya terkait mimpi tersebut, raja meminta pertimbangan kepadanya tentang apa yang harus dilakukan. Dia memberikan pendapat bahwa sebaiknya pada tahun-tahun ini raja bercocok tanam sebanyak-banyaknya agar pada waktu datangnya tahun yang penuh kesulitan dapat menjual hasil simpanan bumi tersebut untuk kebutuhan hidup masyarakat. Raja segera menyahut“siapakah yang akan mengatur semua itu?” Yusuf menjawab “Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir): sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan.”

Hati raja menyetujui usulan Yusuf dan al-Aziz dihentikan dari tugasnya serta digantikan olehnya. Hal ini berkat kekuasaan Tuhan yang telah membuat raja condong atas usulanya. Dan raja menyatakan dirinya masuk islam ditangan Yusuf.

Setelah al-Aziz dihentikan dari tugasnya, kemudian dia meninggal dunia dan Rayan bin Walid menikahkan Yusuf dengan isteri al-Aziz. Pada saat pernikahan mereka berdua telah terjalin, Yusuf berkata “Apakah hal ini tidak lebih baik dari apa yang kau inginkan?”. Dan pada waktu tersebut, isteri baru Yusuf masih dalam keadaan perawan sebab al-Aziz semasa hidupnya belum pernah mengsetubuhinya. Kemudian denganya Yusuf dikaruniai dua anak yaitu Ifraim dan Manesya.

Baca Juga :  Hubungan Antara Cinta dan Sifat Malu

Selama Yusuf mengemban amanah dari raja, dia selalu bertindak adil dan masyarakat merasa senang dibawah kekuasaanya serta banyak yang masuk islam. Tiba tahun sulit, dan Yusuf menjual semua hasil bumi yang dikelola olehnya kepada masyarakat hingga tidak tersisa sedikitpun. Masyarakat merasa tertolong dengan penjualan tersebut.

Dari ayat-ayat di atas, para ulama tafsir seperti Wahbah al-Zuhaili dalam karyanya al-Tafsir al-Munir memberikan pengertian bahwa:

Pertama, percakapan merupakan perantara untuk mengetahui keutamaan dan keilmuan seseorang, sehingga dapat menimbang derajat dirinya.

Kedua, ilmu, adab dan tingkahlaku yang baik mendatangkan derajat yang tinggi.

Ketiga, meminta jabatan diperbolehkan ketika dirinya yakin mampu mengembanya dan orang yang dimintai tidak mengetahui akan kemampuanya. Hadis “Janganlah kamu meminta jabatan” (HR.Bukhari dan Muslim) diarahkan untuk seseorang yang dirinya tidak yakin akan mampu mengemban jabatan tersebut.

Keempat, diperbolehkan bekerja untuk seseorang yang berperilaku buruk ketika tidak ada jalan lain untuk menegakan kebenaran kecuali dengan pertolonganya dan apa yang dilakukanya tidak menuruti nafsu orang tersebut.

Ketika pemimpin adala seorang yang zalim, maka bekerja dibawah kekuasaanya menurut sebagian ulama diperbolehkan dengan syarat tugas yang dibawanya adalah kebenaran. Dan menurut sebagian ulama lainya adalah tindakan yang tidak benar sebab hal demikian akan membantu dan mendukungnya.

Kelima, seorang insan diperbolehkan menyebutkan bahwa dirinya adalah seorang yang ‘Alim dan Utama ketika dalam keadaan darurat.

Wallahu A’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here