Yusuf bin Tasyfin: Penerus Estafet Dinasti al-Murabithun

2
76

BincangSyariah.Com – Pasca wafatnya Yahya bin Umar setelah dua tahun dimandatkan sebagai pimpinan politik, Abu Bakar bin Umar, adik Yahya yang menggantikan. Abu Bakar memerintah sampai Abdullah bin Yasin, sahabatnya yang ikut memimpin al-Murabithun wafat pada 1059. Secara otomatis mandat kepemimpinan agama juga berpindah ke Abu Bakar bin Umar al-Lamtuni. Artinya ia memegang dua mandat kepemimpinan, politik dan agama. Saat itu kaum al-Murabithun sudah menduduki wilayah sebelah utara Senegal dan selatannya Moretania.

Setelah dua tahun Abdullah bin Yasin wafat, yaitu pada tahun 1061 terjadilah pertempuran antara suku Lamtunah dan Judalah. Namun Sebagian sumber sejarah menyebutkan pertempuran yang terjadi ialah antara suku Masufah dan Lamtunah. Sebagai pimpinan al-Murabithun yang mayoritas berasal dari suku Jadalah, Abu Bakar mempunyai peran dan otoritas untuk meleraikan pertempuran kedua suku tersebut. Berangkatlah ia dan menghadapi orang-orang yang terlibat dalam pertempuran di sana. Kemudian untuk sementara, selama ia meleraikan pertikaian kedua suku, Abu Bakar menitipkan kepemimpinan al-Murabithun kepada putra dari pamannya, Yusuf bin Tasyfin.

Setelah menyelesaikan misinya dalam meleraikan pertikaian, ia kemudian bertolak ke Sudan dan melakukan dakwah di sana. Menemui beberapa suku. Ia menemukan terdapat beberapa suku yang masih menyembah berhala bahkan pepohonan. Mereka tidak mengenal Islam. Dakwah yang dilakukan oleh Abu Bakar bin Umar al-Lamtuni sebagian berhasil, sebagian tidak. Hal tersebut membuat ia terlibat dalam pertempuran yang cukup Panjang karena perlawanan dari orang-orang yang menentangnya.

Abu Bakar terus memperluas dakwahnya. Ia mendatangi suku ke suku di pedalaman Mauritania dan meninggalkan penduduk al-Murabithun. Tidak terasa perjuangannya telah menghabiskan waktu selama 15 tahun. Ia terus menyebarkan ajaran Islam, dan memerangi orang-orang yang menghalangi siapapun untuk mempelajari Islam. Namun karena keteguhan dan ketekunannya dalam berdakwah, ia berhasil menyebarkan Islam sampai ke pedalaman gurun pasir dan perbatasan antara Senegal dan Nigeria. Abu Bakar merupakan panglima al-Murabithun yang wara’, paling bertakwa, dan bersemangat dalam melakukan jihad dan menyebarkan agama Islam. Dalam penyebaran dakwah, ia berhasil memiliki pengikut dan murid yang banyak. Pasca wafatnya Abu Bakar bin Umar al-Lamtuni pada tahun 1088, kepemimpinan otomatis dipegang oleh Yusuf bin Tasyfin.

Imam ad-Dzahabi dalam kitab Siyar A’lam an-Nubala’ menggambarkan fisik dan karakter Yusuf bin Tasyfin sebagai sosok yang bertubuh kurus, kulit coklat, janggut yang tipis, bersuara lembut, dan berkarakter teguh. Sebelum kepergian Abu Bakar bin Umar al-Lamtuni, ia pernah berpesan kepada Yusuf bin Tasyfin untuk memerangi tiga suku utama yang melawan al-Murabithun. Ketiganya ialah Bani Ifran, Zanata dan Maghrawah.

Tiga suku yang menjadi perhatian Yusuf bin Tasyfin dalam meneruskan dakwah dan mewujudkan visi al-Murabithun, yaitu menegakkan Islam seluas-luasnya ialah,

pertama, suku Ghamarah yang merupakan suku berbangsa Berber. Di sana terdapat seorang lelaki bernama Hamim bin Mannillah yang mengaku nabi. Tapi anehnya ia sendiri mengimani kenabian Muhammad. Ia membuat syariat baru dan orang-orang menyangka itu adalah ajaran Islam. Dia juga mengarang Al-Quran berbahasa Berber, menetapkan bersuci dan haji, mengharamkan makan telur burung dan menghalalkan makan babi betina, menghramakan makan ikan kecuali disembelih, hal yang keterlaluan dn bodoh.

Kedua, Suku Barghuta dari Berber. Terdapat salah satu penduduknya yang bernama Sholih bin Thorif dan mengaku nabi. Membuat syariat baru dengan menetapkan solat dilakukan subuh dan sore. Ia mensyariatkan umatnya untuk mmbasuh pusar dan pinggang saat wudu. Haram menikahi anak dari paman (sepupu) padahal diperbolehkan dalam syariat. Memperbolehkan lelaki menikahi lebih dari empat istri.

Ketiga, suku terakhir ialah suku Zanatah. Mereka mengaku Islam Sunni tapi melakukan perampasan kepada orang-orang sekitar. Pertempuran antara Zanatah dengan al-Murabithun sudah dimulai sejak Abdullah bin Yasin masih hidup. Pada masa kepemimpinan Yahya bin Umar dan Abu Bakar pun mereka berhasil menguasai beberapa wilayah kekuasaan suku Zanatah juga. Ketiga suku tersebut adalah suku yang berbuat kerusakan terutama terhadap agama. Fokus Yusuf bin Tasyfin adalah mendakwahi mereka.

*dikelola dari kitab Qisshoh al-Andalus min al-Fath ila as-Suquth karya Dr. Raghib as-Sirjani

 

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here