Tafsir Surah Yusuf 50-53; Istri Raja Mesir di Masa Nabi Yusuf Mengaku Bersalah

1
824

BincangSyariah.Com – Dengan rahmat Allah, kebenaran dan kesalahan akan terbongkar. Istri raja Mesir dengan berjalanya waktu menyatakan sebuah pengakuan atas tindakannya kepada Yusuf. dikisahkan dalam firman-Nya:

وَقَالَ الْمَلِكُ ائْتُونِي بِهِ فَلَمَّا جَاءَهُ الرَّسُولُ قَالَ ارْجِعْ إِلَى رَبِّكَ فَاسْأَلْهُ مَا بَالُ النِّسْوَةِ اللَّاتِي قَطَّعْنَ أَيْدِيَهُنَّ إِنَّ رَبِّي بِكَيْدِهِنَّ عَلِيمٌ. قَالَ مَا خَطْبُكُنَّ إِذْ رَاوَدْتُنَّ يُوسُفَ عَنْ نَفْسِهِ قُلْنَ حَاشَ لِلَّهِ مَا عَلِمْنَا عَلَيْهِ مِنْ سُوءٍ قَالَتِ امْرَأَتُ الْعَزِيزِ الْآنَ حَصْحَصَ الْحَقُّ أَنَا رَاوَدْتُهُ عَنْ نَفْسِهِ وَإِنَّهُ لَمِنَ الصَّادِقِينَ. ذَلِكَ لِيَعْلَمَ أَنِّي لَمْ أَخُنْهُ بِالْغَيْبِ وَأَنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي كَيْدَ الْخَائِنِينَ. وَما أُبَرِّئُ نَفْسِي إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلاَّ ما رَحِمَ رَبِّي إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَحِيمٌ

Wa qālal-maliku`tụnī bih, fa lammā jā`ahur-rasụlu qālarji’ ilā rabbika fas`al-hu mā bālun-niswatillātī qaṭṭa’na aidiyahunn, inna rabbī bikaidihinna‘alīm. Qāla mā khaṭbukunna iż rāwattunna yụsufa ‘an nafsih, qulna ḥāsya lillāhi mā ‘alimnā ‘alaihi min sū`, qālatimra`atul-‘azīzil-āna ḥaṣ-ḥaṣal-ḥaqqu ana rāwattuhụ ‘an nafsihī wa innahụ laminaṣ-ṣādiqīn. żālika liya’lama annī lam akhun-hu bil-gaibi wa annallāha lā yahdī kaidal-khā`inīn. Wa mā ubarri`u nafsī, innan-nafsa la`ammāratum bis-sū`i illā mā raḥima rabbī, inna rabbī gafụrur raḥīm (Baca: Tafsir Surah Yusuf 46-49; Takbir Mimpi Sapi Betina Gemuk)

Artinya: 

Raja berkata: “Bawalah dia kepadaku.” Maka tatkala utusan itu datang kepada Yusuf, berkatalah Yusuf: “Kembalilah kepada tuanmu dan tanyakanlah kepadanya bagaimana halnya wanita-wanita yang telah melukai tangannya. Sesungguhnya Tuhanku Maha Mengetahui tipu daya mereka.” 

Raja berkata (kepada wanita-wanita itu): “Bagaimana keadaanmu ketika kamu menggoda Yusuf untuk menundukan dirinya (kepadamu)?” Mereka berkata: Maha Sempurna Allah, Kami tiada mengetahui sesatu keburukan dari padanya.

Istri al-Aziz berkata: “Sekarang jelaslah kebenaran itu , akulah yang menggodanya untuk menundukan dirinya (kepadaku), dan sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang benar.

Yang demikian itu agar dia (al-Aziz) Mengetahui bahwa sesungguhnya aku tidak berkhianat kepadanya di belakangnya, dan bahwasanya Allah tidak meridhai tipu daya orang-orang berkhianat.

Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku maha pengampun lagi Maha Penyayang” (Q.S.Yusuf: 50-53)

Baca Juga :  Memaksimalkan Waktu untuk Belajar, Ibnu Aqil Sering Makan Roti Mentah

Imam al-Thabari dalam karyanya Tafsir al-Thabari mengarahkan kalimat Tuhanku kepada arti Allah Swt. dan dalam penyampaianya, ia menampilkan pendapat sebagian ulama yang mengarahkannya kepada al-Aziz.

Pada saat utusan (pelayang minuman) telah kembali kepada raja Rayan bin Walid dengan membawa jawaban dan menyampaikanya kepada sang-raja, maka dengan demikian raja mengetahui keutamaan serta ilmu dan kepribadian Yusuf. oleh karenanya Rayan bin walid memerintah untuk membebaskan Yusuf dari penjara dan membawa ke hadapanya. Utusanpun segera menemui Yusuf yang masih dalam penjara.

Dalam pertemuan Yusuf dengan utusan raja, Yusuf meminta sang-utusan agar kembali dan menanyakan kepada raja tentang bagaimana halnya wanita-wanita yang telah melukai tanganya sendiri dan wanita yang menyebabkanya berdiam dalam penjara. Sehingga pada akhirnya raja beserta rakyatnya mengetahui bahwa Yusuf terbebas dari tuduhan yang melandanya dan pemenjaraan terhadap Yusuf adalah tindakan yang zalim dan bentuk penganiayaan.

Wahbah al-Zuhaili dalam karyanya al-Tafsir al-Munir menyampaikan bahwa dalam pandangan al-Zamakhsyari, setelah dia menolak ajakan raja yang disampaikan utusanya kepada dirinya dan meminta raja untuk menanyakan bagaimana halnya wanita-wanita tersebut, Yusuf menyatakan bahwa hal demikian bertujuan agar al-Aziz mengetahui bahwasanya dia tidak berkhianat dibelakangnya.

Nabi Muhammad Saw. memuji kedudukan, keutamaan, derajat dan kesabaran Yusuf. Diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahwasanya nabi Muhammad Saw. membacakan ayat “Kembalilah kepada tuanmu dan tanyakanlah kepadanya bagaimana halnya wanita-wanita yang telah melukai tangannya…,” (Q.S.Yusuf: 50). Kemudian nabi bersabda:

لو بعث إليَّ لأسرعت في الإجابة وما ابتغيت العذر

“Andaikan dia (utusan) diutus kepadaku, maka aku bergegas menerimanya dan tidak membuat alasan”.

Kemudian utusan raja kembali ke hadapan Rayan bin Walid dengan membawa pesan Yusuf. oleh karenanya Raja Rayan bin Walid memanggil dan mengumpulkan wanita-wanita yang telah melukai tanganya sendiri beserta isteri al-Aziz di hadapanya dan bertanya “Bagaimana keadaanmu ketika kamu menggoda Yusuf untuk menundukan dirinya (kepadamu)?” (Q.S.Yusuf:51).

Baca Juga :  Cara Mudah Membedakan Kebaikan dan Kejahatan

Wanita-wanita tersebut menjawab dan menyatakan bahwa Yusuf telah disalah sangka dan mereka tidak melihat keburukan padanya. Pada saat itulah isteri al-Aziz tiba-tiba menyahut “Sekarang jelaslah kebenaran itu, akulah yang menggodanya untuk menundukan dirinya (kepadaku), dan sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang benar. “Yang demikian itu agar dia (al-Aziz) Mengetahui bahwa sesungguhnya aku tidak berkhianat kepadanya di belakangnya, dan bahwasanya Allah tidak meridhai tipu daya orang-orang berkhianat. Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku maha pengampun lagi Maha Penyayang” (Q.S.Yusuf 51-53).

Hal ini merupakan pengakuan jelas dari isteri al-Aziz bahwasanya Yusuf terbebas dan bersih dari dosa dan kekurangan. Dan isteri al-Aziz tidak putus asa dalam memohon rahmat Tuhannya.

Para ulama tafsir, seperti Wahbah al-Zuhaili dalam karyanya al-Tafsir al-Munir dan ulama lainya menyampaikan beberapa hal yang dapat dipahami dari ayat-ayat di atas, sebagai berikut:

Pertama, kembalinya raja memanggil merupakan dalil yang menunjukan akan tingginya ilmu Yusuf di atas para peramal dan ulama yang ada di sisinya.

Kedua, ilmu yang bersamaan dengan amal baik merupakan sebab keselamatan dari berbagai bencana dan kesengsaraan dunia dan akhirat. Sebagaimana Allah menyelamatkan Yusuf dari penjara dan menjadikanya sebagai golongan orang-orang yang berbuat baik di sisi-Nya kelak di akhirat.

Ketiga, diperbolehkan mengambil (memanfaatkan) kesempatan untuk menetapkan kebenaran dan kejujuran. Sebagaimana Yusuf pelan-pelan dalam menerima ajakan raja kepadanya.

Keempat, berusaha menghilangkan kecurigaan dan tuduhan dari orang lain merupakan sebuah kewajiban. Nabi saw. bersabda:

من كان يؤمن باللّه واليوم الآخر فلا يقفن مواقف التهم

Baca Juga :  Tafsir Surah Yusuf 46-49; Takbir Mimpi Sapi Betina Gemuk

“Barang siapa beriman kepada Allah Swt. dan hari akhir maka jangan berdiam pada tempat kecurigaan”.

Kelima, bahwasanya bersabar, murah hati dan menjaga kemuliaan merupakan akhlak para nabi. Sebagaimana Yusuf bersabar dan menjaga nama baiknya di kalangan umum.

Keenam, tidak tergesa-gesa dan terburu-buru memberikan tuduhan buruk dan mencela kepada orang lain merupakan sebuah kewajiban. Sebagaimana Yusuf tidak memberikan celaan kepada para wanita tersebut hingga semuanya jelas di mata raja.

Ketujuh, keberanian dalam menampakan kebenaran dan secara jelas dalam menjelaskan hakikat dari sesuatu, merupakan tindakan yang terpuji. Hal ini sebagaimana tindakan dan pengakuan isteri al-Aziz di depan para wanita dan raja.

Kedelapan, mukmin yang kuat akan selalau mendahulukan kerelaan (keridloan) Tuhanya dan kemuliaan agamanya dalam setiap kondisi di alam semesta.

Kesembilan, penghianatan dan tipu daya akan kembali pada kegagalan dan tidak akan membuahkan hasil. Allah Swt. berfirman “Dan bahwasanya Allah tidak meridhai tipu daya orang-orang berkhianat” (Q.S.Yusuf: 52), yang berarti Dia akan membatalkan dan tidak mengarahkanya sehingga akhir dari penipuan adalah kecacatan dan aib.

Kesepuluh, nafsu membawa kepada keburukan, dan untuk meredamnya membutuhkan perlawanan. Nabi Saw.bertanya “Bagaimana pendapat kalian tentang sahabat yang kalian muliakan, memberinya makan dan memberinya pakaian, (sahabat tersebut) mendatangkan keburukan kepada kalian. Dan bila kalian merendahkanya, menelanjanginya dan membuatnya lapar maka dia mendatangkan kebaikan kepada kalian?” para sahabat menjawab “Wahai rasul!, ini adalah sahabat terburuk di dunia”. Nabi bersabda:

فوالذي نفسي بيده إنها لنفوسكم التي بين جنوبكم

“Demi dzat yang menguasai diriku, sesungguhnya dia adalah nafsu yang berada antara lambung kalian”.

Kesebelas, keta’atan dan keimanan bersumber dari Allah Swt. dan berpalingnya nafsu dari keburukan berkat rahmat-Nya.

Kedua belas, Allah Swt. akan mengampuni dan memberikan kasih sayang kepada hamba yang bertaubat dan menggantinya dengan amal baik.

Wallahu A’lam.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here