Yaqub bin Yusuf bin Abdul Mukmin: Penerus Dinasti Muwahhidun yang Budiman

0
621

BincangSyariah.Com – Setelah kewafatan Yusuf bin Abdul Mu’min, posisi Amirul Mukminin Dinasti Muwahhidun dipegang oleh putranya, Ya’qub bin Yusuf bin Abdul Mu’min. Ia merupakan seorang putra yang telah memiliki rekam jejak politik selama ayahnya menjabat sebagai Amirul Mukminin. Karena ia mendapat julukan al-Manshur, ia dikenal dengan nama Ya’qub al-Manshur al-Muwahhidi.

Ibnu Khalikua, sejarawan muslim mendeskripsikan bentuk fisik dan karakter Ya’qub bin Yusuf bin Abdul Mukmin. Ia menyebutkan bahwa Ya’qub berkulit hitam manis, posturnya cukup tinggi, wajahnya tampan, beralis tebal, bertubuh kekar, cara bicaranya tegas, dan memiliki banyak pengalaman terutama di bidang perpolitikan. Saat ayahnya menjabat sebagai Amirul Mukminin, Ya’qub menjabat sebagai menteri. Ia begitu amanah mengemban amanatnya, seringkali ia melakukan pengecekan terhadap para pejabat yang bekerja di bawahnya.

Saat ayahnya meninggal, para pemangku jabatan dari Bani Abdul Mu’min melakukan rundingan untuk menentukan siapa yang akan menggantikan Yusuf bin Abdul Mu’min. Mereka pun akhirnya sepakat menjadikan Ya’qub bin Yusuf untuk menggantikan ayahnya lalu melakukan baiat terhadapnya. Resmilah ia menjadi pengganti ayahnya dan langsung melaksanakan tugas-tugasnya.

Pada masa kepemimpinannya, dinasti ini mengalami kejayaan. Tak disebutkan dalam Qisshoh al-Andalus min al-Fath ila as-Suquth karya Dr. Raghib as-Sirjani mengenai adakah tindakan kekerasan yang dilakukan selama masa pemerintahannya. Tidak seperti para pendahulunya yang dikenal sangat otoriter, kejam dan gemar menumpahkan darah rakyatnya. Seperti yang kita ketahui bahwa kekerasan bukanlah metode dakwah yang diajarkan oleh Rasulullah.

Dalam menjalankan roda pemerintah, Ya’qub bin Yusuf dikenal sebagai pemimpin yang adil, bersifat wara’, dan sangat detil dalam memperhatikan urusan agama. Ia juga bersikap tegas dalam menegakkan hukum-hukum Islam. Terbukti ia juga turut mengadili kerabat dan keluarganya jika tertangkap melakukan pelanggaran. Pada masanya pemerintahan dikategorikan stabil dan terkendali. Bahkan Ya’qub juga tetap berhasil melakukan penaklukkan-penaklukkan beberapa wilayah.

Baca Juga :  Tafsir Surah Al-Muzzammil Ayat 17-19: Pertanyaan Allah kepada Para Pembangkang

Hal lain selain urusan politik dan penegakkan hukum yang ia perhatikan adalah infrastruktur. Pada masanya ia membangun asrama militer dan menjamin kesejahteraan pasukan tentaranya. Dalam hal lain, ia juga mengintruksikkan rakyatnya untuk membaca basmalah dalam surat al-Fatihah dalam sholat. Sebagian masyarakat ada yang mengikuti, sebagian tidak karena perbedaan pandangan soal bacaan basmalah dalam al-Fatihah.

Selama 15 tahun (1184-1199 M) Yaqub bin Yusuf memegang jabatan Amirul Mukminin, rekam jejaknya cukup baik. Ia diakui sebagai penguasa yang berkepribadian kuat dan pemerintahannya dianggap sebagai masa keemasan. Yaqub bin Yusuf merupakan seorang yang budiman. Ia disamakan seperti Abdurrahman ad-Dakhil, Abdurrahman an-Nashir dan beberapa khalifah di dinasti lainnya yang dianggap menjadi pelopor dan pemimpin Islam terbaik. Sebab di usia mudanya, ia mampu menjadi pemimpin yang menjalankan pemerintahan dengan stabil dan aman. Hal yang paling awal di adalah perubahan terhadap pola-pola pemerintahan yang dilakukan oleh pemimpin sebelumnya. Ia tidak menggunakan jalur kekerasan dalam menegakkan hukum-hukum Islam. Bahkan diceritakan ia mau membantu kebutuhan seorang perempuan atau orang lemah dan membutuhkan bantuan yang ia temui di jalan.

Selain cakap dalam mengurusi urusan politik, ia juga taat beribadah. Ia kerap kali mengimami silat fardu di masjid. Bersikap zuhud karena hanya memakai pakaian yang terbuat dari bulu berkualitas kasar. Dalam mewujudkan amar ma’ruf dan nahi mungkar, ia memerangi praktik mengkonsumsi khamar, dan membakar kitab-kitab filsafat karena ia termasuk pemimpin yang menolak filsafat. Perhatiannya saat itu memang terpusat pada infrastruktur dan medis. Bahkan Ya’qub membangun beberapa rumah sakit dan memperhatikan kesehatan rakyatnya. Ia juga gemar mengunjungi rumah sakit untuk menengok pasien-pasien yang sakit. Kebiasaan itu ia lakukan sampai ia wafat.

Baca Juga :  Salah Paham Negara Agama atas Pernyataan Al-Ghazali

Ya’qub juga terkenal sebagai sosok yang dermawan terutama kepada para ulama. Orang-orang shaleh, sufi, ahli hadis mendapat perhatian khusus. Secara khusus mereka mendapatkan kesejahteraan. Ia rajin mengundang orang-orang alim untuk minta didoakan. Dalam bermazhab ia lebih cenderung kepada mazhab Ibnu Hazm azh-Zahiri, sehingga ia membasmi kitab-kitab yang membahas masalah furu’. Ia meminta rakyatnya untuk berpergang pada Alquran dan hadis-hadis yang shahih.

*dikelola dari kitab Qisshoh al-Andalus min al-Fath ila as-Suquth karya Dr. Raghib as-Sirjani

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here