Yang Menarik dari Kitab Psikologi Pertama dalam Sejarah Islam

0
117

BincangSyariah.Com – Bisa dikatakan, Mashalih al-Abdan wa al-Anfus karya Abu al-Qasim al-Balkhi adalah kitab psikologi pertama dalam sejarah Islam. Ini terlihat dari pernyataan al-Balkhi sendiri, dalam pengantar kitabnya, bahwa pada awalnya, tema kesehatan jiwa (mashalih al-Anfus) belum dibicarakan sebagai bagian dari kajian kedokteran karena tidak berkaitan dengan persoalan fisik.

Abu Zayd al-Balkhi, seperti dianalisis oleh Dr. Malik Badri, adalah sosok ulama asal kota Balkh yang bernama lengkap Abu Zayd Ahmad bin Sahl al-Balkhi (l. 235 H/849 M). Dahulu beliau tinggal di kota Balkh, sebuah kota kuno yang kini berada di wilayah utara Afganistan. Mengutip Wikipedia, kota ini sejak lama telah dikenal sebagai titik temu antara beberapa agama, yaitu Budha, Islam dan Zoroastrian Sebagaimana diceritakan dalam Mu’jam al-Udaba’ karya Yaqut al-Himwipernah belajar ke berbagai macam ulama. Namun diantara gurunya yang paling tekenal disebut adalah al-Kindi, dan Abu Hayyan At-Tauhidi. Keduanya ditemui al-Balkhi di Irak saat belajar disana selama delapan tahun (h. 5). Keduanya sampai saat ini dikenal luas sebagai seorang filosof atau dahulu disebut juga sebagai kajian al-Hikmah. Namun, kajian ini waktu itu masih mencakup kajian seni, sastra, sampai kedokteran.

Al-Balkhi, karena banyak berinteraksi dengan mazhab-mazhab kalam dan filsafat pada saat itu, karenanya seringkali ia dituduh sebagai seorang ilhaad (menolak eksistensi Tuhan, boleh jadi karena ia dekat dengan para filosog), Syiah Imamiyah, Zaidiyyah, dan terkadang disebut-sebut beraliran Mu’tazilah. Namun, menurut al-Himawi seperti dikutip Malik Badri dalam pengantar ilmiah suntingan kitab Mashalih al-Abdan wa al-Anfus, beliau masih memiliki akidah yang benar. Ada riwayat kalau al-Balkhi dipuji-puji oleh ulama di Balkh, termasuk oleh Abu Bakar al-Bazzar, Mufti di Balkh dan juga seorang ahli hadis yang punya kitab diantaranya adalah Musnad al-Bazzar.

Kenapa Kesehatan Jiwa Penting Menurut al-Balkhi ?

Baca Juga :  Ketika Tuhan Menyuruh Manusia Banyak Melihat Langit

Pada bagian pengantar kitab ini, al-Balkhi memulai dengan penjelasan, bahwa sebenarnya Allah itu memberikan fitrah kepada manusia untuk mengetahui mana hal yang bermanfaat baginya dan yang berbahaya sehingga ia harus menghindarinya. Yang bermanfaat dan yang berbahaya ini tidak hanya untuk fisik, tapi juga untuk jiwa. Saat fisik dan jiwa sudah bisa mencari yang bermanfaat dan menghindari yang buruk maka seseorang bisa siap mengerjakan apa yang harusnya ia kerjakan. Karena itulah, kata al-Balkhi, karena manusia itu tentu terdorong untuk menghindar dari hal-hal yang berdampak buruk baginya termasuk penyakit yang akan menimpanya (baik fisik maupun psikis), maka mempelajari ilmu ini sangat penting untuk mencapai kebaikan tubuh dan jiwa.

Di bagian kedua, al-Balkhi memberikan penjelasan lebih luas lagi kenapa menurutnya menjaga kesehatan jiwa itu sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Kata al-Balkhi, manusia ini jelas terbangun atas dua unsur yang tidak bisa dipisahkan, yaitu tubuh dan jiwa. Keduanya sama-sama bisa sakit dan sehat. Kalau penyebab penyakit fisik dapat menyebabkan seseorang menjadi sakit seperti sakit panas dan pusing, maka penyakit-penyakit jiwa diantaranya berdampak pada sikap takut, gundah, marah, dan panik (h. 114).

Ini yang juga menarik, al-Balkhi menekankan bahwa persoalan penyakit fisik bisa hilang ketika penyakitnya sudah hilang. Sementara, penyebab-penyebab yang berdampak kepada problem jiwa manusia, itu seringkali melekat kepada manusia semakin mudah. Misalnya, orang tentu dalam hidup tidak terlepas dari perasaan khawatir, marah, sedih, dan sebagainya. Hanya saja nanti setiap orang berbeda-beda dampaknya bergantung pada kuat atau tidaknya jiwanya. Yang kuat, ia akan mudah menahan diri misalnya untuk tidak marah. Sementara yang lemah, ia akan mudah menyalurkan kemarahnya.

Baca Juga :  Kontribusi Hafiz Alquran Zaman Now

Bagian dari Ilmu Kedokteran

Meskipun al-Balkhi sangat memberi perhatian yang luas untuk persoalan kesehatan jiwa, kata al-Balkhi, di masanya kesehatan jiwa belum banyak diperbincangkan. Di kalangan para dokter, kesehatan jiwa belum diperbincangkan dalam karya-karya mereka. Dalam karya kedokteran di masa al-Balkhi, penyakit yang diperbincangkan baru penyakit yang sifatnya fisik beserta cara mengobatinya. Ini dikarenakan penyakit-penyakit yang mendera kejiwaan bukan diobati dengan praktik-praktik yang biasa digunakan, misalnya dengan memberikan obat, mengambil darah (al-fashd), dan praktik-praktik lainnya yang dikategorikan sebagai “pengobatan”. (h. 115)

Padahal, menyertakan kajian tentang penyakit-penyakit kejiwaan dalam kajian kedokteran sebenarnya sangat penting. Pasalnya, penyakit-penyakit yang diderita fisik banyak yang berkaitan dengan penyebab penyakit yang sedang diderita oleh jiwa juga (h. 115). Kata al-Balkhi mengilustrasikan, orang yang sedang terkena satu penyakit, apapun itu, maka kekuatan yang ada dalam diri manusia (para ahli filsafat dulu menyatakan kalau kekuatan (arab: quwaa bentuk plural dari quwwah) jiwa manusia itu ada tiga, kekuatan seksual, kekuatan emosi/al-ghodob, dan kekuatan berpikir/al-‘aaqil) tidak bisa diarahkan dengan baik akibat penyakit fisik yang berdampak pada gejala psikologisnya. (h. 115) Karena itu, kata al-Balkhi, apalagi orang yang punya problem dengan gejala-gejala psikis yang membuat seseorang menjadi bertindak tidak seharusnya, mengetahui kajian hal-hal yang memperbaiki kejiwaan ini (mashalih al-anfus) sehingga bisa mengendalikannya di saat menghadapi gejala-gejala yang mengarah kesana. Wallahu A’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here