Yahya bin Ibrahim al-Judali: Pendiri Dinasti al-Murabithun

0
629

BincangSyariah.Com – Pemimpin dan penggagas pertama kaum al-Murabitihin yang berakhir dengan mati syahid dalam sebuah peperangan, adalah Yahya bin Ibrahim al-Judali. Beliau merupakan salah satu dari 7 orang yang terusir dari wilayahnya Bersama Abdullah bin Yasin. Peran Yahya bin Ibrahim dalam terbentuknya Dinasti al-Murabithun sungguh besar.

Perjalanan menuju titik ini tidaklah mudah. Semua bermula dari perjalanannya menuju Mekkah untuk menunaikan ibadah haji lalu melanjutkan pengembaraannya mencari ilmu. Ia meninggalkan wilayahnya yang dihuni oleh penduduknya yang senantiasa berbuat tercela. Kepergiannya untuk pertama kali dari wilayahnya memiliki visi yang besar. Meski pada mulanya dakwahnya Bersama Abdullah bin Yasin ditolak, tetapi pada akhirnya ia mampu menggaet orang-orang dari suku Shanhaja termasuk Judalah dan Lamtuni untuk bergabung, mencari ilmu, mempelajari Islam lebih dalam dan memperbaiki perilaku hidup.

Semenjak kewafatan Yahya bin Ibrahim, Abdullah bin Yasin menawarkan jabatan kepemimpinan untuk kaum al-Murabithun kepada Jauhar al-Judali akan tetapi ia menolaknya. Tetapi Abdullah bin Yasin harus segera menentukan pemimpin bagi kaum al-Murabithun. Maka ia menawarkannya kepada Yahya bin Umar al-Lamtuny. Ia dan adiknya sajalah yang berasal dari suku Lamtuni, suku terbesar kedua setelah suku Judalah di wilayahnya. Sebenarnya Abdullah bin Yasin dan Jauhar al-Judali juga tidak mempermasalahkan sejak awal untuk menyerahkan kepemimpinan kepada Umar. Hal tersebut untuk menghindari konflik atau kesalahpahaman atau bahkan anggap sikap fanatic dan rasis karena orang-orang al-Murabithun mayoritas berasal dari suku Judalah.

Pada mulanya Yahya bin Umar al-Lamtuni dan adiknya, Abu Bakar bin Umar al-Lamtuni yang ditawarkan untuk memegang kepemimpinan. Tetapi keduanya menolak karena masih menaruh hormat dan percaya kepada guru mereka, Abdullah bin Yasin. Hal ini memang menjadi siasat dari Abdullah bin Yasin untuk mewujudkan musywarah dan menghindari anggapan rasisme seperti yang telah disebutkan. Tetapi pada akhirnya Yahya bin Umar al-Lamtuny lah yang menjadi pemimpin al-Murabithun meggantikan Yahya bin Ibrahim al-Judaly. Peristiwa tersebut terjadi pada tahun 1053 M.

Baca Juga :  Kerajaan Islam di Zaragoza: Dari Banu Tajib sampai Bani Hud

Ketika jumlah anggota kaum al-Murabithun sudah mencapai ribuan, Abdullah bin Yasin membagi mereka dalam beberapa kelompok. Hal tersebut dimaksudkan untuk memudahkan pengajaran dan dakwah yang juga menjadi misi kaum al-Murabithun. Selama pembelajaran, Abdullah bin Yasin mengajarkan kepada murid-muridnya akan nikmatnya surga dan pedihnya neraka. Mereka diajarkan bahwa pentingnya melakukan amar ma’ruf dan nahi mungkar kepada orang-orang yang masih berada di jalan kesesatan.

Doktrin-doktrin dan ajaran yang demikian akhirnya membuat kaum al-Murabithun sangat semangat untuk melakukan dakwah ke wilayah-wilayah yang masih dihuni oleh kaum yang zolim. Terutama wilayah mereka tinggal sebelumnya, pedalaman Moretania. Beberapa kelompok yang terbentuk menyebar untuk melakukan dakwah. Dalam ajarannya, Abdullah bin Yasin menerangkan kepada murid-muridnya untuk menempuh jalur perang jika kaum yang didakwahi tidak mau menuruti jalan kebenaran yang mereka yakini. Sehingga konsep amar ma’ruf dan nahi mungkar yang mereka pahami adalah dengan jalur pemaksaan.

Abu Bakar bin Umar al-Lamtuny Bersama Abdullah bin Yasin mulai menapaki wilayah-wilayah baru untuk dijadikan objek dakwah. Mereka tampil dengan sangat berani. Jumlah pengikut al-Murabithun yang meningkat hingga belasan ribu itu membuat mereka makin percaya diri. Kemudian pengembarannya mulai menapaki wilayah Utara Senegal sampai ke perbatasannya dan menuju wilayah Selatan Moretania. Di sini suku Judalah dan Lamtuni akhirnya Bersatu dan bergabung dengan kaum al-Murabithun di wilayah Selatan Moretania tersebut.

Kemudian kesedihan menimpa mereka karena sang guru, Abdullah bin Yasin gugur dalam peperangan melawan pasukan Barghowatah, konfederasi suku Berber yang bermukim di pantai Atlantik Maroko dan menurut para sejarawan tidak masuk Islam. Kewafatannya terjadi pada tahun 1059 M. Perjalanannya yang mencapai 11 tahun dianggap berhasil dan sukses dalam melakukan dakwah dan mengkader para mujahid.

Baca Juga :  Ketentuan Pendirian Koperasi Modal Usaha Menurut Hukum Islam

 *dikelola dari kitab Qisshoh al-Andalus min al-Fath ila as-Suquth karya Dr. Raghib as-Sirjani

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here