Wejangan Pengarang Kifayatul Akhyar tentang Pemimpin Koruptor

0
395

BincangSyariah.Com – Pengarang kitab Kifayatul Akhyar memiliki nama panjang Abu Bakar bin Muhammad bin Abdul Mu’min. Nasab beliau tersambung hingga ke sayidina Husein, putra Sahabat Ali. Penganut teologi Asy’ariyah ini merupakan ulama mazhab Syafi’i asal Damaskus, ibu kota Suriah, yang lahir pada tahun 752 H/1349 M. Syekh Abu Bakar ini dikenal dengan julukan Taqiyuddin’ (orang yang apik dalam beragama).

Ada dua julukan Taqiyuddin yang sering didengar di Pesantren Salaf. Pertama Syekh Abu Bakar ini, dan yang kedua Syekh Ali Abdul Kafi, atau sering disebut dengan Taqiyuddin as-SubkiUlama yang kedua ini adalah ayah Tajuddin as-Subki, penulis kitab babon Usul Fikih yang biasa dikaji di Pesantren Salaf, yaitu Jam’ul Jawami’. 

Syekh Abu Bakar ini ulama yang lahir di salah satu daerah di Suriah yang bernama Hishn, salah satu desa yang berada di kota Hauran, Suriah Selatan. Karenanya, nama Taqiyuddin selalu bersamaan dengan al-Hishni, penisbatan pada daerah kelahirannya. Sementara itu, as-Subki adalah nama salah satu desa di Menoufia, Mesir.

Kitab Kifayatul Akhyar yang ditulisnya tidak terlalu menekankan pada masalah kebahasaan, tapi lebih menghadirkan perbedaan pendapat di kalangan ulama mazhab Syafi’i, serta menyebutkan masing-masing kitab fikih yang dijadikan sumber rujukan, seperti al-Muharrar karya ar-Rafi’i, Raudhatut Thalibin wa ‘Umadatul Muftin karya an-Nawawi, dan lain sebagainya. Selain itu, Syekh Taqiyuddin al-Hishni juga berusaha menyodorkan dalil Alquran ataupun Hadis dalam setiap permasalahannya.

Ternyata pada masa Syekh al-Hishni di Suriah juga sedang terjadi peperangan saudara seperti saat ini. Beliau ulama yang hidup pada masa Dinasti Timuriyah atau Dinasti Timurlenk. Beliau memiliki istri lebih dari satu. Namun semakin hari, beliau menunjukkan kezuhudannya dengan tidak bergaul dengan manusia, sehingga pada akhirnya beliau melakukan uzlah layaknya sufi pada masa itu.

Baca Juga :  Kisah Rasulullah Berolahraga Gulat

Dalam bab as-Shaum, bab puasa, Syekh al-Hishni mengkritik pedas ulama-ulama di masanya. Kritikan pedas itu tertuju pada hakim yang lacur dan ulama penjilat. Berikut petikannya:

Musibah besar yang terjadi saat ini adalah perlakuan pemimpin koruptor yang menyedekahkan uang haramnya untuk meracuni orang-orang fakir dan miskin. Yang lebih parah dari itu adalah diamnya ulama-ulama penjilat yang tidak berani mengkritik kezaliman yang dilakukan pemerintah. 

Nah, kritikan pedas Syekh al-Hishni bisa dijadikan cambuk ulama saat ini. Ulama itu merupakan tameng negara yang seharusnya terus menyerukan keadilan yang harus ditegakkan pemerintah. Jadi, ketika ada ulama yang tidak berani mengkritik kebijakan pemerintah yang menyeleweng, berarti dia adalah ulama penjilat. Dan, tidak ada salahnya juga ada kalangan ulama yang duduk di pemerintahan bila kapasitasnya dalam dunia politik sudah memadai. Wallahu a’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here