Wasiat Ali bin Abi Thalib pada Orang yang Membunuhnya

1
565

BincangSyariah.Com – Tanggal 19 Ramadhan, tahun 40 Hijriyah mengingatkan kita kepada sebuah peristiwa duka cita yang dalam, yaitu penikaman yang dilakukan terhadap Sayyidina Ali bin Abi Thalib oleh seseorang yang malahan bukan dari kalangan kaum musyrikin, tetapi dari kalangan Muslim sendiri yaitu Abdurrahman ibnu Muljam.

Abdurrahman bin Muljam adalah seorang yang dikenal rajin beribadah, siang hari puasa dan malam harinya selalu mendirikan qiyamul lail, bahkan dia juga disebut sebagai salah seorang yang hafal akan Al Qur’an. Tetapi apa daya, semua itu tidak bisa mengahalanginya dalam melakukan niat jahatnya untuk membunuh Sayyidina Ali Karramallahu Wajhah. Sayyidina Ali diangap sebagai pemimpin kafir dan munafik karena telah menyetujui untuk melakukan gencatan senjata dengan kelompok Mu’awiyah bin Abi Sufyan.

Niat atas pembunuhan tersebut berhasil dilakukan oleh Abdurrahman bin Muljam terhadap Sayyidina Ali ketika beliau sedang mengimami shalat subuh di Masjid Kufah pada tanggal 19 Ramadan tahun 40 H. Sayyidina Ali pun meninggal dua hari setelahnya, 21 Ramadhan tahun 40 H. Sikap Sayyidina ‘Ali yang pemaaf terlihat ketika beliau dalam keadaan kritis, beliau tidak menunjukkan kebencian dan dendam kepada Abdurrahman bin Muljam.

Bahkan beliau berpesan seandainya orang yang membunuhnya berhasil ditanggakap untuk tetap diperlakukan dengan cara yang baik. Karena Sayyidina Ali mengetahui bahwasannya Abdurrahman bin Muljam adalah seorang Muslim yang ta’at beribadah, tapi sayangnya dia mudah termakan hasutan kelompok khawarij lainnya sehingga nekat melakukan pembunuhan tersebut kepada Sayyidina ‘Ali.

Wasiat Ali bin Abi Thalib pada orang yang membunuhnya itu dikutip dalam kitab Alfu Qishah wa Qishah Min Qishashi Al Shāliḥīna Wa Al Shāliḥāti karangan Hānī Al Hāji. Dalam kitab tersebut disebutkan bahwa ketika Sayyidina ‘Ali dalam keadaan kritis akibat tikaman ‘Abdurrahman bin Muljam, beliau bertanya kepada orang-orang yang hadir pada waktu itu:

Baca Juga :  Kisah Nabi Musa dan Orang Fasik yang Diangkat Menjadi Wali Allah

“Bagaimana dengan keadan orang yang telah menikamku ?”

Orang yang hadir pada waktu itu menjawab “Kami telah berhasil menangkapnya.”

Sayyidina Ali pun lanjut berkata, “kalau begitu, berilah dia (Ibnu Muljam) makanan yang diambil dari makananku, dan beri jugalah dia minuman yang juga diambil dari minuman ku. Jika aku sembuh dari bekas tikaman ini, maka aku akan melakukan pertimbangan terhadapnya. Tetapi jika aku mati karena tikaman ini, maka pukullah Ibnu Muljam satu kali pukulan saja dan jangan kalian lebihkan dari itu.”

Wasiat seperti wasiat Sayyidina ‘Ali bin Abi Thalib ini adalah wasiat yang sangat menggetarkan dan hanya bisa disampaikan oleh orang yang punya jiwa pemaaf seperti beliau. Beliau tidak mau langsung menghukum pembunuhnya itu sebagaimana hukuman yang seharusnya diterima oleh seorang pembunuh. Tetapi beliau malah berpesan sebaliknya untuk tetap memperlakukan Abdurrahman bin Muljam dengan perlakuan yang baik.

Bahkan, beliau memerintahkan untuk memberikan makanan dan minuman kepada Aburrahman bin Muljam adalah makanan dan minuman beliau sendiri. Beliau tidak mau orang yang sedang berada dalam tawanan menderita kelaparan dan tetap harus mendapatkan makanan dan minuman yang layak meskipun terhadap orang yang telah mencelakainya sendiri. Itulah diantara sifat Sayyiduna Ali yang sangat terpuji, dan semoga kita bisa meneladani sifat baik dari menantu Rasulullah SAW tersebut. Amin yaa Rabbal ‘Alamiin. Allahu A’lam bi Al Shawaab.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here