Tafsir Surah Al-Muddatstsir Ayat 11-17: Walid bin Mughirah yang Meremehkan Al-Qur’an

2
1122

BincangSyariah.Com – Rezeki yang tak pernah habis dan nikmat yang tak pernah usai itu cukuplah sebagai bukti bahwa Allah ialah Maha Pemberi Rezeki (Ar-Razzaq) dan Maha Pemberi Nikmat (Al-Mun’im). Tak satu pun makhluk yang telah Allah ciptakan bisa tetap hidup, jikalau tak mendapatkan karunia dan nikmat-Nya.

Karunia dan kenikmatan yang diberikan Allah memang tak selalu mulus berbalas dengan keimanan. Masih ada saja yang justru membalas dengan kekufuran, yakni tidak bersyukur bahkan menutup hatinya untuk beriman kepada Allah. Meski pun sebenarnya beriman atau tidaknya seorang hamba, tidak berpengaruh terhadap kerajaan Allah Swt.

Kekufuran terhadap nikmat Allah itu yang juga dilakukan oleh Walid bin Mughirah. Bukan hanya mengufurinya semata, bahkan Walid mengingkari kebenaran Al-Qur’an. Ia meremehkan Al-Qur’an, dengan menganggap bahwa ayat-ayat Al-Qur’an yang disabdakan Nabi Muhammad tak lebih hanya sekadar perkataan manusia. Lantaran kekufuran yang dilakukannya, Allah pun memberikan ancaman kepada orang yang amat keji itu, sebagimana disebutkan dalam surah Al-Muddatstsir ayat 11 dan seterusnya.

Allah Swt. berfirman dalam surah Al-Muddatstsir ayat 11-17;

ذَرۡنِی وَمَنۡ خَلَقۡتُ وَحِیدࣰا ۝  وَجَعَلۡتُ لَهُۥ مَالࣰا مَّمۡدُودࣰا ۝  وَبَنِینَ شُهُودࣰا ۝  وَمَهَّدتُّ لَهُۥ تَمۡهِیدࣰا ۝  ثُمَّ یَطۡمَعُ أَنۡ أَزِیدَ ۝  كَلَّاۤۖ إِنَّهُۥ كَانَ لِـَٔایَـٰتِنَا عَنِیدࣰا ۝  سَأُرۡهِقُهُۥ صَعُودًا ۝

Dzarni wa man khalaqtu wahidan (11) Wa ja’altu lahu malan mamdudan (12) Wa banina syuhudan (13) Wa mahhadtu lahu tamhidan (14) Tsumma yathma’u an azida (15) Kalla, innahu kana li ayatina ‘anidan (16) Saurhiquhu sha’udan (17) (Baca: Tafsir Surah Al-Muddatstsir Ayat 8-10: Hari Ditiupnya Sangkakala yang Kedua)

Artinya:

“Biarkanlah Aku (yang bertindak) terhadap orang yang telah Aku menciptakannya (11) Dan Aku berikan padanya kekayaan yang melimpah (12) Dan anak-anak yang selalu bersamanya (13) Dan Aku berikan padanya kelapangan (hidup) seluas-luasnya (14) Kemudian dia ingin sekali agar Aku menambahnya (15) Tidak bisa! Sesungguhnya dia telah menentang ayat-ayat (Al-Qur’an) Kami (16) Aku akan membebaninya dengan pendakian yang memayahkan (17)” [Q.S. Al-Muddatstsir (74): 11-17]

Baca Juga :  Haji Berkali-kali, Apakah Dianjurkan dalam Islam?

Surah Al-Muddatstsir ayat 11-17 secara gamblang menjelaskan tentang seorang pimpinan kaum Quraisy yang bernama Walid bin Mughirah. Adapun sebab turun ayat tersebut ialah sebagaimana hadis yang ceritakan oleh Al-Hakim dan Ibnu Jarir.

Suatu hari, Walid bin Mughirah sengaja mendatangi Rasulullah Saw. Kemudian Nabi membacakan Al-Qur’an, sehingga membuat Walid tertarik. Tatkala kabar kejadian ini sampai kepada Abu Jahl, ia pun mendatangi Walid, hanya untuk mengatakan, “Wahai paman, sesungguhnya kaummu hendak mengumpulkan harta mereka untuk diberikan kepadamu, dengan maksud supaya engkau mendatangi Muhammad untuk mempermalukannya.” Walid bin Mughirah berkata, “Kaum Quraisy kan sudah tahu, bahwasanya aku adalah orang yang memiliki harta paling banyak di golongan mereka?”

Abu Jahl pun kembali berkata, “Kalau begitu, ucapkanlah seutas perkataan untuk menunjukkan kepada umatmu, bahwasanya engkau mengingkari dan membenci Muhammad.” Walid bertanya, “Apa yang bisa kukatakan? Demi Tuhan, tiada seorang pun di antara kalian yang lebih pandai tentang syair, sajak, dan kasidah daripada aku, bahkan syair-syair jin sekali pun. Demi Tuhan, tiada seorang pun yang mampu berkata serupa dengan perkataan ini (Al-Qur’an). Demi Tuhan, ucapannya (Muhammad) sungguh sangat elok, indah, gemilang, dan cemerlang. Juga tak ada yang lebih tinggi dari perkatannya, serta mampu merobohkan yang ada di bawahnya.”

Abu Jahl pun menimpalinya, “Kaummu tak akan rela hingga engkau menampakkan (kebencianmu).” Walid menjawab, “Biarkan aku berfikir.” Setelah ia memikirkannya, Walid berkata, “Ucapan ini adalah sebuah sihir yang berkesan dan dapat membekas terhadap yang lainnya.” Lantas turunlah surah Al-Muddatstsir ayat 11 dan selanjutnya, “dzarni wa man khalaqtu wahidan”.

Dalam surah Al-Muddatstsir ayat 11, “dzarni wa man khalaqtu wahidan”, terdapat sebuah imbauan bagi Nabi Muhammad supaya membiarkan orang yang tak mau beriman itu. Karena Allah sendiri kelak yang akan menindak orang yang telah diciptakan-Nya dalam keadaan sendirian, tanpa ibu dan tanda harta. Dalam Tafsir Al-Jalalain, Imam Jalaluddin Al-Mahalli secara tegas menyebutkan bahwa orang yang dimaksudkan dalam ayat tersebut ialah Walid bin Mughirah Al-Makhzumi.

Baca Juga :  Brunei Darussalam: Kesultanan Islam yang Bertahan Menjadi Negara di Asia Tenggara

Orang yang diciptakan Allah tanpa harta benda itu, kemudian dilingkupi dengan harta yang sangat banyak. Harta yang seakan-akan ia dapat hanya dari usahanya bercocok tanam, beternak dan berdagang, ternyata dapat membuatnya tidak sadar bahwa semua itu berasal dari Allah Swt. Menurut Imam Ahmad Ash-Shawi, kekayaan Walid bin Mughirah itu memang dibuktikan dengan kepemilikannya atas sebuah kebun di Thaif, yang tak sekalipun pernah putus panen, baik di musim dingin maupun musim panas.

Allah juga memberikan karunia kepadanya berupa sejumlah anak yang tak pernah jauh darinya. Imam Ibnu Katsir menuturkan bahwa anak-anak Walid selalu berada di dekatnya, karena seluruh pekerjaan dan usahanya telah dibereskan oleh para budaknya. Walid pun merasa amat gembira karena hal tersebut. Anak walid yang laki-laki memang banyak, dan menurut pendapat yang paling masyhur, ia memiliki anak laki-laki sebanyak sepuluh orang. Tiga di antaranya masuk Islam, yaitu Khalid, Hisyam dan Walid.

Karena keluasan yang diberikan Allah kepadanya, ia pun selalu berharap untuk mendapatkan lebih. Keluasan yang didapatkan Walid, sebagaimana disebutkan dalam Tafsir Al-Jalalain ialah keluasan dalam hal rezeki, umur, dan keturunan. Sedangkan Imam Ahmad Ash-Shawi menambahkan bahwa dimutlakkannya lafal “wa mahhadtu lahu tamhidan” menunjukkan pada keluasan harta dan tahta. Penafsiran Ash-Shawi ini senada dengan yang diungkapkan oleh Imam Ibnu Katsir.

Tatkala ia telah benar-benar berharap untuk mendapatkan keluasan berlebih dan terus bertambah, Allah justru menolak dan tak mengabulkan keinginannya. Ini termasuk siksaan dunia yang begitu berat bagi Walid bin Mughirah. Apabila seseorang telah mendapatkan yang diinginkan, maka ia akan berharap untuk mendapatkan keinginan yang lain, dan yang lebih banyak. Kemudian saat ia semakin ingin dan semakin berharap, tetapi tidak dikabulkan, maka ia akan merasakan kekecewaan yang amat mendalam. Dan itu bisa jadi sangat menyiksa dirinya sendiri.

Baca Juga :  Tafsir Surah Al-Muddatstsir Ayat 38-47: Siapa yang Termasuk Ashabul Yamin?

Adapun alasan ditolaknya keinginan itu sebagimana disebutkan dalam ayat 16, “innahu li ayatina ‘anidan”, ialah karena Walid bin Mughirah telah menentang ayat-ayat yang diturunkan Allah Swt., dengan menganggapnya sebagai perkataan manusia. Padahal ia sendiri sebenarnya telah menyadari bahwa sejatinya ungkapan seindah itu tak mungkin diciptakan oleh manusia.

Oleh karenanya, Allah pun membalik kenyataan dari keinginannya. Disertai janji bahwa Allah kelak akan membebaninya dengan “shu’ud”, yaitu sebuah azab yang amat besar. “Shu’udan” ditafsirkan oleh Qatadah dan diikuti Ibnu Jarir, sebagai azab yang tiada henti, tiada waktu dan tempat untuk beristirahat. Sedangkan oleh Imam Jalaluddin Al-Mahalli, “shu’udan” juga beliau tafsirkan sebagai sebuah bukit yang amat tinggi dan berada di dalam neraka. Bukit itu akan ia daki dan dituruninya kembali.

Dalam Hasyiyah Ash-Shawi dijelaskan, membutuhkan waktu tujuh puluh tahun untuk mendakinya, serta tujuh puluh tahun lagi untuk menuruninya. Apabila tangannya diletakkan ke dinding bukit, maka akan lebur, ketika diangkat akan kembali seperti semula. Begitu juga kakinya, apabila diletakkan akan lebur dan apabila ditarik akan kembali seperti semula.

Wallahu a’lam bis shawab.

2 KOMENTAR

  1. […] Walid bin Mughirah memang sempat tak terima ketika ia disebut Al-Qur’an sebagai orang yang mengaku-ngaku nasab (zanim), karena ia berasal dari keluarga terhormat di suku Quraisy. Dijabarkan oleh Gus Baha dalam kajian tafsirnya, bahwa sebenarnya ayah dari Walid tidak bisa membuahi ibunya. Sehingga ibu Walid akhirnya dihamili oleh seorang penggembala, supaya mendapatkan keturunan. Karena tidak mungkin jika keluarga yang terhormat tidak memiliki keturunan. (Baca: Tafsir Surah Al-Muddatstsir Ayat 11-17: Walid bin Mughirah yang Meremehkan Al-Qur’an) […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here