Wakaf Sejak Zaman Rasulullah Hingga Saat Ini

0
256

BincangSyariah.Com – Wakaf perdana dilakukan oleh Umar bin Khattab pada saat Rasulullah masih hidup. Bahwa sahabat Umar, memperoleh sebidang tanah di Khaibar kemudian Umar menghadap Rasulullah meminta petunjuk Umar berkata, “Hai Rasulullah saya belum pernah mendapat harta sebaik itu maka apakah yang engkau perintahkan kepadaku.”

Rasulullah bersabda, “Bila engkau suka kau tahan tanah itu dan engkau sedekahkan hasilnya manfaatnya tidak dijual tidak dihibahkan dan tidak diwariskan.”

Lalu menurut Ibnu Umar, Umar menyedekahkan hasil pengelolaan tanah kepada orang orang fakir, kaum kerabat hamba sahaya, Ibnu Sabil dan tamu serta tidak dilarang bagi yang mengelola waqaf makan dari hasilnya dengan cara yang baik sepantasnya atau memberi makan orang lain dengan maksud tidak menumpuk harta. (HR Imam Bukhari).

Berdasarkan riwayat hadis di atas, menurut Imam T Saptono, Wakil Ketua Pelaksana Badan Wakaf Indonesia mengatakan bahwa karena sebab keterbatasan dalil yang dijumpai, para ulama sebenarnya sepakat bahwa fikih wakaf masuk ke dalam area ijtihad.

“Hal ini bukanlah menjadi sebuah penghalang, justru harus dipandang sebagai sebuah khazanah pengembangan bagi kemaslahatan umat sesuai dengan maqashid syariah,” jelas Imam dalam acara Halal Bihalal dan Bincang Wakaf bersama media di Hotel Aone, Jakarta Pusat, pada Selasa (09/07/19).

Namun di luar permasalahan hukum wakaf, Imam Saptono berharap umat Islam tidak menutup mata bahwa berdasarkan sejarah sesungguhnya wakaf merupakan pilar ekonomi umat jika wakaf tersebut dikelola menjadi wakaf produktif. Yusuf Qarhdawi dalam Musykilah al-Faqr wa Kaifa Alajaha al-Islam menyebutkan bahwa pada masa kepemimpinan khalifah Umar bin Abdul Aziz tidak ada penduduk yang memenuhi kriteria mustahiq dari zakat dan wakaf yang terkumpul.

Baca Juga :  Ini Bahaya Ujub Menurut Para Ulama

Tak hanya di masa lalu, wakaf pernah menjadi kekuatan ekonomi bagi beberapa negara Islam modern. Menurut data yang dipaparkan BWI, pada abad ke 19 hampir 75% seluruh lahan yang dapat ditanami daulah Khilafah Turki merupakan tanah wakaf. Setengah atau 50 persen dari lahan Aljazair, pada masa penjajahan Perancis pada pertengahan abad ke 19 merupakan tanah wakaf.

Pada periode yang sama, 33 persen tanah di Tunisia merupakan tanah wakaf. Di Mesir hingga tahun 1949, sebanyak 12,5 persen lahan pertanian adalah lahan wakaf. Juga di Iran pada 1930, sekitar 30 persen dari lahan yang ditanami adalah lahan wakaf.

Pada abad 15-16, di Palestina tercatat 233 sertifikat tanah wakaf dengan 890 bangunan di atasnya dan hanya ada 92 sertifikat tanah privat dengan 108 bangunan di atasnya. Tercatat 64 sekolah yang dikelola lembaga wakaf dan jumlahnya lebih banyak dibandingkan masjid.

Peninggalan wakaf yang terkenal lainnya adalah tranportasi publik Hejaz Railway. kereta yang menghubungkan Istanbul, Damaskus dan Madinah. Ini merupakan salah satu pengembangan wakaf terbesar pada masa pemerintahan Turki Utsmani yang selesai dibangun pada tahun 1908 dari dana wakaf yang diperoleh dari umat muslim di seluruh dunia. Kereta ini masih bekerja hingga terjadi perang dunia I menghancurkan sehingga sekarang sudah tidak bisa beroperasi lagi.

Begitu juga Hotel Bintang Lima Utsman bin Affan yang saat ini berdiri berkat dengan aset yang berkembang dari wakaf sumur yang dulu beliau beli dari seorang yahudi. Sumur tersebut asetnya terus berkembang sejak 1400 tahun yang lalu dan keseluruhan aset menggunakan rekening atas nama Utsman bin Affan.

Wakaf tunai juga sangat berperan saat defisit negara, seperti yang dialami oleh Mesir pada tahun 2013 yang memaksa pemerintah meminjam aset wakaf Al-Azhar. Al-Azhar Mesir merupakan contoh bentuk wakaf umat.

Baca Juga :  Ketika Memperbanyak Zikir Adalah Godaan Setan

Beberapa negara saat ini juga mengembangkan model wakaf modern, yaitu wakaf korporat. Konsep wakaf korporat pertama kali dilakukan oleh Johor Corporation Malaysia, perusahaan yang bergerak di bidang kesehatan, peralatan medis dan makanan.

Kemudian ada WAREES atau Wakaf Real Estate Singapura. WAREES merupakan perusahaan kontraktor guna memaksimalkan asset wakaf. WAREES mengubah kedai wakaf menjadi hotel bintang lima dengan 12 lantai di Singapura.

Contoh wakaf korporat lainnya seperti, Social Islamic Bank Bangladesh (SIBL), Al Rajhi Group Saudi, Zam-zam Tower, Aywalik and Ayden Olive Oil Corp Turkey dan Vakit Bank Turkey.

“Semua bentuk wakaf tersebut bisa menjadi pilar ekonomi sebuah negara jika wakaf tersebut dikelola menjadi wakaf produktif seperti yang telah dicontohkan beberapa negara tadi” tandas Imam Saptono.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here