Wajah Baru Yahudi yang Islami

2
1532

BincangSyariahCom  – Sedari awal kemunculannya, Islam mengakui keberadaan agama lain dengan konsepnya yang terkenal; ahlulkitab. Muhammad Asad menerjemahkan dengan sangat menarik kata aihlulkitab ini sebagai the followers of the early revelations, pengikut ajaran wahyu terdahulu (apapun jenis wahyunya).

Pengertian ini mengimplikasikan bahwa semua agama sebelum Islam yang mengklaim wahyu ke-Tuhanan diakui keberadaannya oleh Islam dan karenanya wajib dihormati oleh tiap muslim.

Dengan konsep ini, Islam tidak lain merupakan agama kelanjutan dari wahyu-wahyu yang diturunkan kepada utusan-utusan Tuhan sebelumnya. Namun konsep ahlulkitab ini pada tahap selanjutnya digunakan sebagai konsep politik dan sosial, yakni konsep yang dipakai untuk membangun relasi dengan nonmuslim yang implikasinya ialah terjalin kesepakatan bersama untuk membangun peradaban. Kelak di zaman modern, konsep Islam ini disebut sebagai toleransi beragama.

Melalui konsep ini, semua penganut agama selain Islam dianggap sebagai ahlulkitab dan karenanya mendapat perlindungan dan kebebasan berekspresi dan berhak mendapat ayoman dari Islam.

Melalui konsep ini pula, Islam menancapkan sayap-sayap pengaruhnya terhadap agama lain. Dan agama yang paling banyak menggunakan kebebasan tersebut ialah Yahudi. Karena itu, pengaruh Islam terhadap teologi agama ini sangatlah kuat sampai-sampai ada ahli yang mengatakan bahwa Yahudi saat ini dalam pemikiran akidahnya merupakan perpanjangan tangan dari pengaruh kuat pemikiran teolog muslim, terutama Muktazilah.

William Craig Lane dalam The Kalām Cosmological Argument menegaskan bahwa:

Jewish philosophy of religion was the offspring of the Muslim kalam…the ‘Islamic background determined the character of medieval Jewish philosophy from beginning to end.”

“Filsafat agama Yahudi merupakan kelanjutan dari ilmu kalam ulama-ulama Islam. Bentuk penalaran Islam ini sangat memengaruhi filsafat Yahudi di abad pertengahan mulai dari awal sampai akhir (jika ditinjau dari berbagai aspeknya -pen).”

Kalau memang filsafat Agama Yahudi merupakan kelanjutan dari Muktazilah di mana yang terakhir ini memberikan warna terhadap pemikiran-pemikiran keagamaan Yahudi, lantas siapa kira-kira teolog yang bisa menjadi contoh terbaik untuk itu?

Pertanyaan ini mudah sekali dijawab. Kita coba langsung merujuk kepada penjelasan Vajda tentang sosok Saadia (882-942 m) dalam bukunya Introduction à la pensée juive du Moyen Age, yang baginya cukup mewakili tipe Yahudi-Islam.

Dengan mengutip pandangan Abraham bin Ezra yang cukup holistik menggambarkan sosok Saadia bin Yosef al-Fayumi, Vajda mengatakan bahwa Saadia ialah sosok ilmuwan yang menguasai berbagai macam disiplin ilmu (l’initiateur universel) dimulai dari gramatika Ibrani, teologi, tafsir, filsafat, leksikografi, dan lain-lain.

Namun dari semua cabang ilmu ini, yang membuat Saadia terkenal ialah karyanya mengenai teologi. Vajda menyebut karya berpengaruh Saadia ini dengan mengatakan:

La doctrine proprement théologique de Saadia s’exprime principalement dans son livre intitulé: Les Croyances et les Convictions dont la composition littéraire révèle déjà les accointances de l’auteur avec le kalâm mo’tazilite.”

“Ajaran teologis Saadia terartikulasikan dengan sangat baik dalam karyanya yang berjudul Keimanan dan Keyakinan dimana karya ini menunjukkan secara jelas pengaruh para pemikir kalam Muktazilah.”

Sebenarnya apa yang dimaksud dengan judul karya Saadia bin Yosef di atas? Untuk menjawab pertanyaan ini, Vajda dalam Introduction à la Pensée Juive menjelaskan demikian:

En arabe, Kitâb al-amânât wa al-i’tiqàdât, en hébreu, Se’er ha-émounôt we hadé’ôt. Le premier terme se réfère aux croyances religieuses, le second aux connaissances acquises par l’examen rationnel.”

“Dalam bahasa Arab, kitab ini asli judulnya ialah Kitâb al-amânât wa al-i’tiqàdât yang dalam bahasa Ibrani diterjemahkan sebagai Se’er ha-émounôt we hadé’ôt. Maksud dari kata yang pertama dalam judul buku tersebut ialah keyakinan agama (amanat/keimanan) sedangkan maksud dari kata yang kedua ialah pengetahuan yang didapat melalui penalaran rasional.”

Sepanjang penelusuran langsung terhadap kandungan kitab ini, kita akan menemukan penjelasan dengan dua bahasa sekaligus, bahasa Arab dan bahasa Ibrani.

Bahasa Ibrani digunakan ketika mengutip perjanjian lama atau mengutip pandangan beberapa tokoh Yahudi yang disegani.

Meski demikian tampaknya, Saadia tidak sebagus Musa bin Maymun (filosof Yahudi yang banyak terpengaruh oleh Ibnu Rusyd) ketika mengartikulasikan gagasannya dalam bahasa Arab.

Hal demikian dapat dibuktikan dari kata pertama judul bukunya, al-amanat yang ia maksudkan di sini sebagai keimanan keagamaan. Jelas jika dibaca amanat ini dengan arti keimanan sama saja dengan mengarabkan bahasa Ibrani émounôt.

Hal demikian karena dalam bahasa Arab sendiri keimanan atau keyakinan agama diartikulasikan dengan kata ‘iman’. Namun kemungkinan besar, yang dimaksud oleh Saadia ialah īmānāt yang merupakan bentuk plural (Jamak Muannath Salim) dari kata ‘īmān’ bukan al-amânât.

Di sisi lain, kemungkinan lain bisa saja ada, yakni kemungkinan bahwa orientalis yang menyunting karyanya salah membaca dan salah mentranskip ulang judul kitab ini (allahu alam).

Berangkat dari penjelasan Vajda mengenai adanya pengaruh Muktazilah dalam karya Saadia ini, lalu apa ide dan gagasan penting yang terkandung dalam buku yang bersangkutan sampai kemudian dianggap memiliki pengaruh Muktazilah?

Untuk menjawab pertanyaan ini, kita kutipkan contoh sederhana saja dari sekian gagasan-gagasan penting Saadia yang diadopsi dari Kalam Muktazilah. Vajda lanjut membuktikan pengaruh tersebut:

“D’autre part la théologie mo’tazilite est fondée sur cinq « principes » : l’unité de Dieu, la justice (c’est-à-dire la relation entre les actes divins et les actes humains), la promesse et la menace énoncées par la revelation à l’égard du fidèle et de l’infidèle, la situation du pécheur, enfin l’obligation de promouvoir, dans la vie sociale, le bien et empêcher le mal. Cette disposition des problèmes est reflétée par la suite des chapitres du Livre des Croyances.”

Di sisi lain, kalam Muktazilah didasarkan kepada lima prinsip keyakinan (dalam bahasa Arabnya Mabadi Khamsah); keyakinan akan ke-Esa-an Tuhan (tawhid), Keadilan (yakni dalam kaitannya dengan tindakan Tuhan dan tindakan manusia), janji Tuhan dan ancaman yang menurut wahyu masing-masingnya akan diberikan kepada yang beriman dan yang kafir (al-wadu wa al-waid), kewajiban muslim untuk melakukan amar makruf dan nahi munkar dalam kehidupan sosial. Gagasan-gagasan Muktazilah ini pada dasarnya terefleksikan secara apik dalam setiap bab dari kitab al-Amanat wa al-Itiqadat tersebut. ”

Dengan demikian, Vajda menekankan bahwa keyakinan teologis Muktazilah yang didasarkan kepada lima prinsip yang telah disebut di atas diadopsi dengan sangat sempurna oleh teolog Yahudi yang bernama Saadia ini.

Oleh karena itu, dengan kata-kata lain, Saadia merupakan perpanjangan tangan dari Muktazilah dalam konteks Yahudi.

Bagi Saadia, seperti yang ditunjukkan Vajda, akal (reason) harus diberi hak yang tinggi untuk memahami keyakinan agama.Akal harus menjadi sarana untuk bisa menafsirkan agama secara rasional agar dapat membelanya dari serangan luar.

Akal, bagi Saadia, mengajarkan kepada kita tentang kebenaran yang sama-sama diajarkan oleh teks agama (naqal/Vajda menyebutnya texture). Namun tetap, bagi Saadia, teks agama juga penting supaya kita cepat sampai pada pengetahuan mengenai kebenaran tertinggi.

Adapun kalau akal dianggurkan, untuk mencapai kepada kebenaran tertinggi ini butuh waktu lama dan kerja keras yang tinggi.

Saadia juga seperti yang diungkap Vajda turut menjelaskan konsep-konsep Muktazilah seperti keesaan Tuhan, sifat-sifatnya, penciptaan dari tiada, relasi akal dan teks agama, hakikat jiwa manusia dan perilakuanyakonsep-konsep ini, kata Vajda, memang laris manis dibahas di kalangan Muktazilah.

Tak hanya itu, seperti halnya Muktazilah, Saadia juga menafsirkan secara rasional konsep-konsep gaib seperti malaikat, jin dan syaitan.

Lebih dari itu, Saadia mengikut Muktazilah juga dalam hal membela kenabian (vajda menerjemahkannya dengan prophetisme) dan menyerang filosof neo-platonis bernama Muhammad bin Abi Bakar ar-Razi yang tidak mempercayai kenabian.

Di kalangan teolog Muslim sendiri, Muhammad bin Abi Bakar ar-Razi ini menuai banyak kritikan dan hujatan, terutama penalaran filosofisnya yang sampai tidak mempercayai teori kenabian.

Seperti Muktazilah, Saadia juga menyerang kategori-kategori Aritoteles yang sepuluh (substansi, aksiden, kualitas, kuantitas, genus dan lain-lain) dan mengatakan bahwa kategori tersebut tidak tepat digunakan untuk membuktikan adanya Tuhan.

Saadia juga mengatakan bahwa penciptaan alam semesta ini berasal dari ketiadaan. Pandangannya ini jelas menolak filsafat Yunani yang menekankan akan kekekalan materi.

Saadia juga dalam bukunya tersebut menjelaskan kebebasan berkehendak manusia dengan argumen yang mirip sekali dengan argumen-argumen Muktazilah.

Hanya saja dengan catatan, bahwa Saadia menolak doktrin atomisme (al-Jauhar al-Fard) yang diperkenalkan oleh Abu Hudzail al-Allaf dan dikembangkan oleh murid-muridnya.

Pada tahap selanjutnya konsep atomisme ini diadopsi secara kreatif oleh teolog-teolog al-Asyariyyah untuk membuktikan argumen mengenai kebaharuan alam dan keberadaan Tuhan.

Kelak kritik Saadia atas teori atomisme muktazilah ini digaungkan kembali oleh filosof Yahudi yang bernama Musa bin Maymun, sosok filosof yang sekaligus dokter terkenal di masa keemasan Islam, yang menimba inspirasi kritiknya dari karya-karya Ibnu Rusyd.

Tidak hanya Saadia yang terpengaruh oleh pemikir-pemikir rasional islam, namun juga Ishak Israel, Solomon bin Gabirol, Musa bin Maymun dan lain-lain. Namun dalam pemikiran Yahudi sendiri, Saaidia ini dijuluki sebagai filosof Taurat padahal dia tidak lain hanya murid kecilnya Muktazilah.

Contoh Saadia, Ishak Israel, Musa bin Maymun dan lain-lain ini paling tidak menunjukkan bahwa Yahudi di masa itu sedemikian aktifnya berpartisipasi dalam perdebatan teologis sampai mereka meminjam konsep-konsep asing seolah menjadi milik mereka sendiri.

Tidak hanya oleh Georges Vajda, kenyataan demikian juga dipertegas oleh pakar sejarah Yahudi lainnya, misalnya Abraham Halkin dalam tulisannya The Judeo-Islamic Age, The Great Fusion mengatakan:

The vocabulary of the Islamic faith finds its way into Jewish books; The Koran becomes a proof-textall this goes on for long time with no hostility toward foreign learning, no suspicion of its negative or dangerous effects.”

“Kosakata-kosakata mengenai keyakinan Islam seolah sudah menjadi hal biasa ditemukan dalam karya-karya orang Yahudi; bahkan al-Quran menjadi rujukan dalil tersendiri (bagi mereka)semua ini berlangsung lama tanpa adanya rasa antipati terhadap pendidikan dan pengetahuan Islam yang asing, tidak ada kecurigaan terhadap dampak negatif atau dampak bahayanya (bagi akidah mereka).”

Sedemikian dalamnya pengaruh Islam terhadap para pemikir Yahudi, Halkin seperti yang dikutip Frederick Schwetzer dalam A History of The Jews, menamai mereka sebagai Yahudi dengan wajah baru, atau sebut saja Yahudi-Islam; the intellectual and cultural impact of centuries of Moslem domination was as such as to result in the creation of a new type of Jew.

“Pengaruh intelektual dan budaya kekuasaan Islam selama berabad-abad tersebut pada tahap selanjutnya telah menciptakan “Yahudi dengan wajah barunya”.

Sayangnya hubungan manis dengan Islam di masa lalu ini dihancurleburkan oleh sebagian Yahudi dari Zionis yang mendirikan negara Israel di tanah Palestina.

Kenyataan demikian, seperti yang ditegaskan Marshal Hodgson merupakan malapetaka bagi kemanusiaan.

Kenyataan demikian juga, bagi Hodgson, tidak relevan baik secara historis berkenaan dengan pengalaman indah orang-orang Yahudi itu di masa Islam klasik maupun secara geografis mengingat bahwa Palestina telah berabad-abad berada di bawah kekuasaan bangsa Arab-Islam.

Meski demikian, kenyataan sejarah membuktikan bahwa sejarah keyakinan mereka telah mengalami fusi besar dengan teologi Islam.Allahu Alam.

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here