Wahid Hasyim; Pemersatu Agama dan Nasionalisme

0
733

BincangSyariah.Com – Wahid Hasyim lahir di Jombang, 1 Juni 1914. Beliau putra pertama pendiri jam’iyyah Nahdlatul Ulama (NU), KH Hasyim Asy’ari. Nama pertama yang diberikan ketika beliau lahir adalah Muhammad Asy’ari, meniru nama kakeknya. Tetapi karena beliau sering sakit maka namanya diganti dengan Abdul Wahid, meniru nama kakek moyangnya. Selama masa kecilnya beliau dipanggil oleh ibunya dengan naman Mudin, namun santri ayahnya memanggil beliau dengan sebutan Gus Wahid.

Pada tahun 1943, beliau ditunjuk oleh ayahnya sebagai ketua Masyumi (Majelis Syuro Muslimin Indonesia), sebuah organisasi yang mengayomi berbagai ormas Islam di Indonesia. Pada saat itulah beliau membentuk laskar Hizbulah, sebuah pemersatu para pemuda Islam dan kaum santru dari seluruh daerah di Indonesia, guna merengkuh kemerdekaan Tanah Air.

Beliau sudah aktif di medan politik pada masa pra dan awal kemerdekaan. Bahkan menjelang kemerdekaan tahun 1945, beliau menjadi anggota BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) dan PPKI (Panitia Persiapan Kemerdeaan Indonesia). Sosok paling muda yang berperan dalam rumusan lima sila sebagai dasar Negara adalah KH. A. Wahid hasyim. Kehadiran beliau di badan-badan persiapan kemerdekaan dianggap mewarnai kontur Islam dan Nasionalisme di tanah air, hingga tercetus Pancasila pada 1 Juni 1945, kemudian disempurnakan dalam Tim Sembilan beberapa hari setelahnya.

Pemikiran beliau tentang keislaman dan nasionalisme tampak menonjol saat beliat menjadi anggota BPUPKI dan anggota Panitia Sembilan yang menyusun Piagam Jakarta. Beliau menginginkan Islam sebagai dasar dalam menjalankan negara itulah kemudian didukung oleh 15 anggota BPUPKI lainnya. Meskipun pada akhirnya tujuh kata “Dengan kewajiban menjalankan Syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” itu dihapus, sila pertama berbunyi “Ketuhanan Yang Maha Esa” tetap tidak berubah. Hal ini menunjukkan, ide dan gagasan keislaman KH Wahid Hasyim pada saat itu cukup berpengaruh. Dalam sila tersebut bisa menjadi dasar Pancasila yang menjadi saluran aspirasi rakyat Muslimin Indonesia yang menginginkan syariat Islam.

Baca Juga :  Makna dan Fadhilah Bulan Sya'ban

Usai masa revolusi dan Indonesia merebut kedaulatannya, KH. A. Wahid Hasyim diangkat menjadi Menteri Agama, dan bertahan hingga tiga periode. Dalam waktu enam bulan setelah menjabat Menteri Agama, dia mendirikan Pendidikan Guru Agama Negeri (PGAN) dihampir setiap karesidenan, Sekolah Guru dan Hakim Agama Negeri (SGHAN) di Yogyakarta, Bukittinggi, Bandung dan Malang, serta mendirikan Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAIN) di Yogyakarta

Berkah jabatan sebagai Menteri Agama, beliau mewajibkan pendidikan agama di lingkungan sekolah umum, mendirikan sekolah guru agama, pendirian Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri pada 15 Agustus 1951 yang berkembang menjadi 14 lembaga PTAIN di beberapa propinsi. Sebagain diantaranya telah menjadi Universitas Islam Negeri (UIN), beberapa masih Institut Agama Islam negeri (IAIN), dan sekolah tinggi (STAIN). Keberadaan kementerian yang mengurusi soal agama itu sendiri merupakan berkah dari perjuangannya dalam mengawal negara dengan panduan nilai-nilai Agama memaknai kemerdekaannya.

Sosok beliau tak ubahnya seperti kitab klasik yang berjilid-jilid, yang tidak aka nada habis-habisnya untuk ditulis. Terlalu banyak kiprah dan teladan yang ditorehkan dalam usianya yang begitu singkat. Beliau meninggal saat usianya menginjak umur 38 tahun, dalam sebuah insiden kecelakaan saat hendak menghadiri rapat oraganisasi NU di Bandung pada tahun 1953. Namu kejeniusan beliau rupanya tercermin di putra sulungnya juga, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Jika Gus Dur bisa melahap buku berjilid-jilid dengan ingatan yang di atas rata-rata, beliau juga memiliki kemampuan mengetik dangan dua mesin ketik sekaligus dengan tangan kanan dan kirinya. Subhanallah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here