Akibat Fanatik Kesukuan, Wabah Penyakit Menjangkiti Arab Masa Jahiliah

2
1131

BincangSyariah.Com – Kehidupan masyarakat Arab pra Islam jauh dari kata ideal. Tanah tandus dan tradisi warga pedalaman yang gemar berkelana mendorong mereka tumbuh menjadi komunitas yang memegang teguh prinsip kesukuan ekstrim. Meski sekilas konsep ini berimbas negatif, namun di beberapa sisi ada juga positifnya. Kemudian peran Islam muncul, tetap mempertahankan apa yang baik dan sebaliknya, memperbaiki segala perilaku yang buruk.

Fanatik kesukuan juga timbul akibat masyarakat Arab pra Islam yang belum begitu mengenal sistem kesatuan umat. Mereka cenderung hidup berkelompok sesuai kabilah atau sukunya. Menurut Khalid bin Abdurahman Al-Jirisi dalam Al-‘Ashajiyyah Al-Qabaliyyah Min Al-Mandzur Al-Islami fanatisme kesukuan ini termanifestasikan dalam empat perilaku yang kerap kali dijumpai dalam rutinitas kehidupan sehari – hari masyarakat Arab Jahiliah. Berikut penjelasannya.

Pertama, membanggakan nasab. Saling mengagungkan atau membanggakan – banggakan leluhur beserta peninggalan – peninggalan leluhur mereka, dominan terjadi di masyarakat Arab Jahiliah. Bahkan unsur paling kuat yang menghubungkan seseorang dengan kelompoknya bukanlah kemampuan melainkan nasab. Sehingga bagi mereka, nasab dianggap sebagai puncak dari kemuliaan dan keluhuran. Semakin tinggi nasabnya, maka semakin mulia.

Terkadang tradisi ini membuat mereka bersikap berlebihan. Mengganggap bahwa tidak ada nasab lain yang lebih mulia dari mereka. Mereka tidak rela jika ada seseorang diluar yang mengklaim bahwa nasab dialah yang paling tinggi derajatnya. Tidak jarang terjadi cekcok bahkan perang hanya karena saling klaim soal nasab siapa yang paling luhur.

Sikap ini dikisahkan pernah terjadi di pasar ‘Ukadz. Seorang laki – laki dengan lantang berteriak “Aku adalah orang Arab yang paling mulia, jika ada orang yang menyangka lebih mulia dariku maka pukul lah ia”. Lalu Al-Ahmar bin Mazan menyahuti pernyataan pria tadi, bahwa nasabnya lah yang lebih mulia dari kabilah lain. Kemudian terjadilah pertengkaran diantara keduanya tanpa peduli padahal kejadian tersebut berlangsung di bulan haram.

Kedua, stratifikasi sosial. Menurut KBBI stratifikasi sosial adalah pembedaan penduduk atau masyarakat ke dalam kelas – kelas secara berkelas – kelas atas dasar kekuasaan, hak – hak istimewa dan prestise. Begitulah yang terjadi di Arab pra Islam. Mereka membeda – beda kan masyarakat kedalam beberapa kelas sesuai kedudukan dan derajatnya.

Misalnya, para pimpinan suku, pemuka agama, pedagang, penyair masuk dalam kategori kelas atas. Para elit ini diklaim sebagai yang paling mulia diantara yang lainnya. Kemudian ada kategori kelas bawah, seperti orang fakir, miskin, budak dan pekerja serabutan. Sebagai orang mulia, kelas atas tidak mengerjakan apa yang dikerjakan masyarakat kelas bawah. Bahkan sekelas manasik haji pun para orang di strata atas ini mendapat kekhususan tersendiri.

Ketiga, tradisi balas dendam. Tradisi balas dendam ala Arab Jahiliah terkesan aneh. Jika biasanya balas dendam ditujukan untuk oknum pembunuh atau penganiaya, ini tidak berlaku jika tersangka memiliki nasab luhur atau dianggap tidak sekelas dengan yang dibunuh. Bisa juga balas dendam dialihkan kepada orang kelas bawah padahal orang tersebut tidak melakukan apa – apa. Terkadang alasan pembunuhan pun dilandasi hanya karena korban adalah keluarga kabilah fulan.

Tradisi balas dendam ini cukup mengakar dalam diri masyarakat Arab Jahiliah. Bahkan mereka akan terus memburu tersangka tidak peduli bagaimanapun kondisinya. Bagi mereka, saat warga nya dizalimi balas dendam adalah kehormatan diri yang harus dijaga. Menjaga kehormatan diri sama dengan menjaga hidup itu sendiri. Artinya, sebuah kewajiban. Maut pun rela mereka tempuh jika diperlukan.

Keempat, peperangan. Arab pra Islam lebih memilih menyelesaikan permasalahan dengan berduel fisik di medan perang. Ini tidak terlepas dari tabiat warganya yang dikenal pemberani dan pantang menyerah. Jika satu kabilah telah mendeklarasikan perang, maka baginya tidak ada jalur kembali. Atau bisa saja ia mengurungkan niat yang sudah ia utarakan tapi konsekuensinnya ia telah melucuti adat dan itu dianggap aib.

Meski begitu, menurut Jawwad Ali fanatisme kesukuan memiliki peranan penting dalam ranah sosial politik Arab Jahiliah. Saat itu belum ada pemerintahan yang jelas yang mampu memelindungi setiap warga negaranya. Yang ada hanya lah suku – suku dengan para tetua atau kepala suku sebagai penentu hukum. Adanya fantastisme kesukuan setidaknya mampu melindungi warga dari kebrutalan yang mungkin terjadi. Sehingga, volume kasus perampasan, pencurian atau penganiayaan bisa meredup.

Sebagaimana tradisi pembalasan, menjadi alarm tersendiri untuk para penjahat. Sebab saat mereka melakukan perbuatan buruk terhadap anggota satu kaum, maka ia akan terus diburu selamanya. Dengan adanya hukum alam seperti ini, orang yang hendak berbuat keji akan berfikir ribuan kali. Jika oknum tersebut berani mengusik warga lain, konsekuensi yang ia hadapi bukan hanya terkait dirinya sendiri, namun keluarga atau sukunya pun bisa terancam.

Beberapa dekade kemudian Islam hadir. Tradisi – tradisi ini tidak kemudian dimatikan seluruhnya. Ada nilai esensial yang tetap dipertahankan seperti melindungi warga dari kejahatan, sikap pemberani, dan menjaga kehormatan diri.

Sementara perilaku yang merugikan dan menentang syariat dihapuskan. Seperti fanatisme kesukuan yang kerap kali menjadikan nasab sebagai tolak ukur bersalah atau tidaknya seseorang. Atau stratifikasi sosial membedakan hak antara si miskin dengan si kaya. Islam menghapus semua perilaku buruk ini. Sebagaimana Rasul mencontohkan bahwa sejatinya semua manusia itu sama, mau berkulit hitam atau putih, mau kaya atau miskin. Yang membedakan adalah kadar ketakwaan.

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here