Uzlah dalam Konteks Kekinian

0
1045

BincangSyariah.Com – Para ulama sufi menganjurkan untuk bersegera melakukan uzlah. Sayangnya kemudian pemahaman terhadap uzlah ialah mengasingkan diri dari kehidupan sosial, menarik diri dari keramaian dan menghindari hal-hal yang dianggap memiliki dimensi duniawi yang dapat menjerumuskan manusia. Pemahaman semacam ini yang kemudian membuat tasawuf dianggap telah gagal mengajak umat Islam untuk optimis menyapa dan menghadapi tantangan zaman.

Lantas bagaimana semestinya konsep uzlah difahami? Tentu memahami uzlah harus berangkat dari faktor yang mengharuskan seseorang ber-uzlah. Di dalam Minhaj al-Atqiya’ kiai Sholeh Darat memberi rambu-rambu kapan seseorang dianjurkan untuk melakukannya. Yaitu tatkala datang fasaduz zaman (kerusakan zaman) dengan nampaknya kemungkaran, maksiat, dan fitnah yang menyebabkan rusaknya agama.

Lebih spesifik lagi, kiai Sholeh Darat memperinci situasi yang mendorong kita untuk ber-uzlah. Di antaranya seperti banyaknya perilaku manusia yang ingkar janji, meremehkan amanah, para hakim menerima suap, dan agama menjadi komoditas (politik) yang murah. Dan itu semua telah terjadi pada saat itu di abad XIX hingga sekarang.

Bahkan menurut kiai Sholeh Darat, dengan menyitir Imam Ghazali, “ketika di era imam at-Tsauri hidup uzlah telah dianjurkan maka wajib ber-uzlah di zaman-ku (al-Ghazali)”. Jika al-Ghazali yang hidup di abad XI sudah menyerukan uzlah, apalagi di era kiai Sholeh Darat, dan begitu seterusnya. Sehingga pada dasarnya uzlah bukanlah sikap responsif-tentatif atas kondisi sosial yang melenceng dari ajaran agama, melainkan perilaku kritik atas realitas sosial secara terus menerus dalam kehidupan.

Uzlah bukan sebuah sikap situasional karena sebuah waktu. Karena pada kenyataanya, para ulama menganggap setiap zaman selalu terwujud fenomena-fenomena dan situasi-situasi yang dianggap mengharuskan kita uzlah. Sehingga uzlah bersifat konsisten dan terus menerus dilakukan dalam kehidupan manusia sebagai kritik atas realitas kehidupan sebagaimana yang digambarkan.

Baca Juga :  Mata Rantai Penulisan Kitab Fikih Syafi’i

Kritik ini tentu bukan berupa penarikan diri dari kehidupan sosial itu sendiri, tetapi menghadapinya dengan cara-cara tertentu. Cara-cara inilah yang kemudian harus dikontekstualisasi di setiap zaman sehingga dapat dipahamai sebagai manifestasi uzlah seseorang. Lantas, apa dan bagaimana bentuk manifestasi itu? Kiai Sholeh Darat memaparkan dengan argumen yang bernas.

Secara jelas, kiai Sholeh menganjurkan upaya penyelamatan diri dari fasaduz zaman. Tanda kerusakan zaman ini ditengarai dengan banyaknya para dai tetapi sedikit orang alim, banyak pengemis tetapi sedikit orang yang memberi dan hawa nafsu lebih dianut ketimbang ilmu.

Dalam konteks saat ini, tanda-tanda yang dikemukakan kiai Sholeh Darat bukan sesuatu yang tidak ada. Di tengah derasnya arus informasi dan teknologi misalnya, kita bisa menyaksikan bagaimana sumber informasi di kehidupan kita lebih banyak –untuk tidak menyebutkan semuanya – dengan para mubalig, orator politik, dai-dai dibanding sumber dari para alim, intelektual dan cendekiawan.

Asupan pengetahuan dengan demikian lebih banyak dikendalikan oleh mereka yang sering muncul di jagad televisi atau dunia maya. Sialnya, sumber-sumber itu justru dipenuhi oleh politisi, demagog, dan ustadz-ustadz yang tidak jelas sanad keilmuannya. Dampaknya kemudian, narasi kehidupan manusia abad XXI dipenuhi perdebatan politik yang memecah belah, dakwah keagamaan yang tidak santun, dan narasi-narasi kebencian lainnya.

Maka, perlu hal-hal yang dilakukan untuk menyelamatkan diri dari fasaduz zaman, di antaranya sebagai berikut:

Pertama, berada di dalam rumah. Pemaknaan berada di dalam rumah tentu tidak dimaknai dengan berdiamnya seseorang di rumah. Berada di dalam rumah merupakan simbol bagi seseorang untuk tidak beranjak pada situasi yang menyeret kita ke dalam arus situasi fasaduz zaman. “Berada di dalam rumah” dengan demikian, tidak beranjak dari apa yang kita miliki dan kuasai. Kita tidak serta merta turut dan terlibat dalam narasi dan perdebatan yang berujung pada kebencian dan perpecahan misalnya.

Baca Juga :  Membincang Filosofi Ketupat

Sehingga, “berada di dalam rumah” ialah bentuk kesadaran akan bahaya –perpecahan, kebencian, dan lainnya – dan sikap menarik diri atas sesuatu yang kita tidak memiliki kemampuan di dalamnya. Maka kalau sikap “berada di dalam rumah” ini benar-benar dipraktekan, maka tidak ada lagi orang awam tentang agama membahas agama sehingga menimbulkan polemik agama, orang awam tentang politik membahas politik, dan begitu seterusnya. Karena sadar atas apa yang ia miliki.

Kedua, menjaga lisan. Dalam konteks era digital, tidak hanya menjaga lisan, kita juga dituntut secara seksama untuk berhati-hati mengendalikan perilaku kita. Fasaduz zaman di era saat ini bisa terjadi melalui tangan kita. Ketikan tulisan kita di Twitter, Instagram, Facebook, whatsApp dan lain-lain adalah tantangan tersendiri. Maka menjaga lisan bisa dipahami secara luas sebagai upaya menahan diri dari perilaku yang justru menambah fasaduz zaman.

Ketiga, melakukan kebaikan dan menjauhi kemungkaran. Dalam poin ini, tentu yang lebih ditekankan bukan pada melakukan ma’ruf dan menjauhi munkar. Melainkan kesadaran mana yang dianggap perilaku baik dan buruk. Seseorang di era yang disebut dengan fasaduz zaman harus secara cermat dan jernih memastikan bahwa sesuatu itu ma’ruf dan munkar. Karena seringkali bungkus politik kekuasaan dan motif ekonomi menutupi keduanya. Maka, yang perlu dilakukan jika kita mendaku sebagai seorang awam yaitu poin keempat.

Keempat, mengikuti perilaku ulama yang ikhlas. Sebagai pewaris nabi, para ulama ini adalah lentera kehidupan umat. Mereka tidak silau dari gemerlapnya kekuasaan duniawi. dalam konteks kekinian, mereka ini ialah ynag dengan ikhlas menghabiskan waktunya di pesantren-pesantren untuk mentransmisikan ajaran Islam yang rahmatal lil ‘alamin. Jika tidak dapat meniru perilaku nabi, tirulah para pewarisnya, yaitu ulama. Dan jika tidak dapat meniru pewarisnya, dekatlah dengan mereka.

Baca Juga :  Sahabat Nabi yang Kaya namun Tetap Zuhud

Seringkali terjerumusnya seseorang dalam cara beragama yang keliru lebih dikarenakan sumber yang tidak kredibel. Mereka lebih memilih jalur instan dengan menonton televisi, youtube dan media sosial lainnya. Sedangkan sumber ilmu agama ada pada diri kiai yang berada di bilik-bilik pesantren.

Kelima, meninggalkan kebiasaan orang pada zaman tersebut. Kebiasaan yang dimaksud disini tentu kebiasaan yang menyebabkan fasaduz zaman. Ini bisa dilihat dari tanda-tanda fasaduz zaman. Orang-orang lebih banyak suka meminta, mungkin kalau sekarang memperebutkan proyek dalam proposal dibanding memberi bantuan dalam bentuk apapun terhadap sesama.

Selain itu, banyak orang lebih senang berkomentar, bicara tentang apapun, dibanding diam menyaksikan secara seksama orang yang tahu ilmunya dan belajar darinya. Sehingga ilmu melalui pemiliknya (orang berilmu) tidak dihargai hanya karena berbeda orientasi politik atau pandangan keagamannya. Sungguh, kita dituntut untuk meninggalkan kebiasaan-kebiasaan itu dalam diri kita.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here