Urgensi Bahasa Arab Menurut Syaikh Ali Jum’ah

0
272

BincangSyariah.Com – Kebangkitan al-Azhar al-Syarif tak bisa dipungkiri, salah satu indikatornya adalah peran dari sosok pembaharu abad 21, syaikh Ali Jum’ah. Sebagaimana yang diungkapkan syaikh Usamah al-Azhari, dalam kurun enam tahun (1998-2004), ulama kelahiran Bani Suef itu mengajar kitab-kitab Shahih Bukhari, Muslim, Sunan Abī Daūd, Sunan al-Tirmidzī, Sunan al-Nasāi. Al-Muwatha’, al-Asybāh wa al-Nazhāir, Jam’ al-Jawāmi’, Tasynīf al-Masāmi’, Minhāj al-Wushūl, al-Tamhīd li al-Isnāwī, al-Sulam al-Munawraq, Kharīdah al-Bahiyyah, Jawharah al-Tawhīd, Tafsīr al-Kasysyāf, Matn Abī Syujā’, Matn al-Zubad, al-Hikam al-‘Athāiyyah, Manāzil al-Sāirīn, Mukhtashar Ihyā’ ‘Ulūm al-Dīn.

Salah satu faktor keberhasilan syaikh Ali dalam membangkitkan al-Azhar tak lepas dari kegigihannya menanamkan pentingnya peran bahasa membangun peradaban dan pemikiran. Beliau sendiri alumni fakultas Dirasat Islamiyah wa Arabiyah, sebuah fakultas yang mata kuliahnya paling banyak dipelajari adalah sastra dan syair Arab, baik Jahili ataupun Islami. Ia juga menggaet syaikh Hasan Usman, pakar bahasa yang kapabilitasnya sudah tidak perlu diragukan lagi. Cukuplah karya beliau, I’rab Alquran sebanyak 10 jilid menjadi bukti. Bahkan sekaliber syaikh Yusri Gabr belajar di hadapan beliau dan menaruh rasa hormat kepadanya.

Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Sidi Zaeimuddin, bahwasanya syaikh Ali Jum’ah berpesan, “Pelajarilah sastra Arab dengan tekun agar kalian memahami Islam dengan baik.
Ilmu adalah cahaya di hati, maka perbanyaklah zikir dan sucikan hati.”

Mari kita diskusikan bersama pesan beliau yang pertama. Bahasa Arab adalah jalan untuk memahami Agama ini. Imam Syathibi dalam Muwafaqat berkata:

المبتدئُ في العربيةِ مبتدئٌ في الشريعة

“Seseorang yang pemula dalam bahasa Arabnya, dalam syariat ia juga pemula”

Jika kita telisik lebih dalam, keberhasilan para imam-imam terdahulu di berbagai bidang tak lepas dari peran bahasa. Sebagian masyaikh pernah mengatakan bahwa Imam Syafi’i hafal 10000 syair Arab! Baik Jahili maupun Islami. Beliau pun mempelajari bahasa Arab selama 20 tahun. Padahal beliau orang Arab asli, hidup di sebuah lingkungan Arab, dan bernasab Arab. Atas kemampuan bahasa yang luar biasa itulah, beliau mampu mengkodifikasi Ushul Fiqh, yang salah satu sumbernya adalah pemahaman bahasa.

Baca Juga :  Jihad: Antara Salah Paham dan Paham Salah

Imam Nawawi, ulama kenamaan madzhab Syafi’iyah. Kemampuan beliau mengarang Minhaj Syarah Muslim, Minhaj al-Thalibin, dan kitab-kitab yang lain, tak lepas dari peran seorang ulama besar Andalusia, yang ditahbiskan sebagai Imam dalam bidang Nahwu, Imam Ibnu Malik, yang merupakan gurunya. Sebagaimana yang disebutkan Imam Ibnu Malik dalam Alfiyahnya di bab Mubtada. Wa Rajulun Min al-Kirami Indana, Dan seorang yang mulia berada di sisi kami. Rajul yang dimaksud di situ adalah Imam Nawawi. Sebagaimana pula Imam Nawawi memuji Imam Ibnu Malik. “Guru kami, yang telah mencapai derajat Imam dalam bahasa Arab abad ini.”

Demikian pula Ibnu Hajar, sosok ulama Azhar abad delapan yang acapkali memberi khutbah di masjid Azhar. Pengarang Fathul Bari Syarh Shahih Bukhari itu juga belajar kepada seorang pakar bahasa kenamaan, syaikh Fairuzzabadi, pengarang kamus Muhith, Bashair Zawi Tamyiz Min Lathaif Kitab al-Aziz, dan lain-lain.

Karena urgensi bahasa itulah, syaikh Ali menekankan untuk mempelajari bahasa dan sastra Arab lebih dalam.

Dalam al-Nibras fi Tafsir Alquran, karya syaikh beliau, dijelaskan salah satu keunikan bahasa Arab. Yaitu pada kata Allah. Kata Allah kalau dibuang alif-nya menjadi lillahi yang bermakna milik Allah, kalau fungsi Lam-nya lil Milki (kepemilikan). Terus kalau dibuang Alif dan Lam-nya menjadi lahu yang bermakna bagi-Nya. Kalau Alif, dan dua Lam-nya dibuang tinggal huruf ha yang berfungsi sebagai Dhamir Muzakkar Ghâib, yang berarti Dia. Coba bahasa Inggris. God. Ketika salah satu hurufnya diambil, tak akan memiliki makna lagi.

Kegigihan syaikh Ali Jum’ah juga mengajak para kibar ulama Azhar turun gunung mengajari santri-santrinya. Para ulama Azhar yang sebelumnya hanya diketahui dalam kitab, sebab beliau, bisa mengajar dan menjelaskan hal-hal terperinci dan mengeluarkan mutiara dalam turats-turats ulama terdahulu.

Baca Juga :  Tradisi Tujuh Bulanan Kehamilan Ibu dalam Islam

Bahkan beliau meminta syaikh Azhar, Ahmad Thayyib untuk mengajar Mushtasfa karya Imam Ghazali. Dari sini, kita bisa melihat peran besar beliau dalam mempersiapkan kaderisasi untuk al-Azhar Syarif.

Salah satu pesan berharga beliau, “Salah satu komponen terpenting dari sebuah ilmu adalah validasi (penguatan) dan upaya menetaskan validasi terhadap sebuah ilmu hingga tidak lenyap, dan menyempurnakan dengan catatan kaki dan catatan pinggir terhadap sesuatu yang belum diketahui. Yang dimaksud upaya menetaskan validasi terhadap sebuah ilmu yaitu tidak mencukupkan diri dengan apa yang dijelaskan oleh pengarang/penulis, dan menambahkan permasalahan-permasalahan baru, lalu menjelaskan hasil yang disimpulkan dari kaidah Fiqh dan bahasa.”

Dengan kaidah seperti inilah, ungkap syaikh Ali Jum’ah, para ulama terbentuk hingga kita mampu mewarisi keilmuan dan turats mereka. Dan inilah rahasia eksistensi Al-Azhar. Kaidah ini tidak berhenti pada ilmu syariah saja, tapi juga berlaku terhadap beberapa macam ilmu yang berbeda. Dan tiap-tiap ilmuwan datang untuk menyempurnakan apa yang belum disempurnakan oleh orang sebelumnya dan menghasilkan pemikiran yang baru. Dan ilmu tidak pernah mengenal kata akhir.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here