Uqbah bin Nafi; Sahabat Nabi Penakluk Benua Afrika

2
1192

BincangSyariah.Com – Uqbah bin Nafi bin Qais al-Fihri merupakan seorang panglima besar Islam yang berhasil menaklukan seluruh daratan Arab Magribi (Tunisia, Al-Jazair, dan Maroko). Bakat militernya sudah tampak saat ia ikut bergabung dalam pasukan Muslim di bawah pimpinan Amr bin Ash ketika hendak menaklukan Mesir. Kepiawaiannya tersebut membuat Amr bin Ash menunjuknya sebagai panglima pasukan Muslim yang diutus ke Afrika untuk mencari informasi mengenai kondisi geografis dan kekuatan pasukan musuh.

Selain itu, ia juga ditugaskan untuk membuat strategi perang. Pada tahun 50 H, ia datang kembali ke Afrika dengan pasukan yang lebih banyak dan berhasil mengalahkan pasukan musuh terdiri dari suku Barbar yang bekerjasama dengan pasukan Romawi. Agar dapat menguasai wilayah Magribi yang begitu luas, ia mendirikan pos pusat berupa sebuah kota yang kemudian diberi nama Kairouan. (Arsitektur Masjid Agung Uqbah bin Nafi)

Kairouan terletak di daratan yang sangat strategis. Jauh dari pesisir pantai sehingga terhindar dari serangan armada laut Byzantium dan jauh dari pegunungan yang merupakan markas besar pasukan Barbar. Namun, di sana terdapat banyak pepohonan rimbun yang dihuni oleh banyak binatang buas. Beberapa orang menghawatirkan kondisi tersebut karena hawatir akan membahayakan keamanan pasukan Muslim.

Uqbah bin Nafi meyakinkan mereka bahwa Kairouan adalah tempat yang paling strategis untuk menghadapi musuh dengan kondisi ekonomi dan politik yang cukup stabil. Dan untuk binatang buas, ia yakin mereka tidak akan mengganggu. Pada saat itu pasukan Muslim terdiri atas 18 orang sahabat dan para tabiin.  Mereka melakukan doa bersama yang dipimpin oleh Uqbah bin Nafi. Uqbah menuju ke satu tempat sambil menyeru kepada binatang – binatang buas agar pergi dan tidak mengganggu pasukannya.

Baca Juga :  Tafsir Surah al-'Ashr; Belajar Menghargai Waktu Cerminan Mukmin Sejati

Tiba – tiba, binatang binatang buas tersebut keluar dari sarangnya dan pergi sambil membawa anak – anaknya. Sontak hal itu membuat kagum orang – orang yang melihatnya. Tidak sedikit dari kalangan suku Barbar yang melihat kejadian itu kemudian masuk Islam. Doa Uqbah bin Nafi dikenal dengan doa yang mudah dikabulkan oleh Allah swt. Selain mengusir hewan buas, Uqbah juga pernah berdoa agar diberi kekuatan dan kesabaran saat ia diberhentikan dari jabatannya sebagi pemimpin Afrika.

Saat itu posisinya digantikan oleh Abu Muhajir Dinar. Selang beberapa tahun kemudian tepatnya pada tahun 62 H, Allah Swt. mengabulkan doanya, ia kembali memimpin Ifriqiya untuk kedua kalinya. Uqbah bin Nafi meninggal dunia pada tahun 64 H, saat perjalanan pulang setelah  berhasil menaklukan seluruh wilayah Arab Magribi sampai ke Samudra Atlantik.

Di tengah perjalanan, Uqbah yang saat itu hanya bersama dengan sedikit pasukannya, dikepung dan terbunuh oleh pasukan musuh yang pimpin Kusaila. Ia dan pasukannya dimakamkan di wilayah Zab, yang sekarang dikenal dengan Sidi Uqbah. Keberadaan makam para sahabat dan tabiin, membuat tempat tersebut banyak di kunjungi oleh para peziarah.

Misteri Pencopotan Uqbah bin Nafi dari Kursi Kemimpinan Afrika

Islam tersebar dengan begitu cepat. Hanya dalam kurun waktu kurang dari dua abad pasukan Muslim telah berhasil menguasai berbagai wilayah dari Barat hingga ke Timur. Hal tersebut tidak terlepas dari terlahirnya banyak tokoh hebat di kalangan Muslimin. Salah satu yang paling terkenal adalah Uqbah bin Nafi, seorang panglima besar yang berhasil menaklukan Arab Maghribi (Tunisia, Al Jazair dan Maroko). Uqbah bin Nafi merupakan putra dari pejuang Islam, Nafi’ bin Qais al Fihri.

Baca Juga :  Menengok Olahraga pada Masa Nabi Saw.

Sejak kecil ia tumbuh di lingkungan Islam dan banyak belajar mengenai ajaran Islam dari ayahnya.  Ia merupakan kerabat dekat dari penakluk Mesir, Amr bin Ash. Dari situlah Uqbah mendapatkan bakat kemiliterannya. Para ahli sejarah berbeda pendapat mengenai tahun kelahirannya, tetapi mereka sepakat bahwa ia lahir di masa Nabi Muhammad SAW. Pencapaian umat Islam atas luasnya daerah yang dikuasai, tidak serta merta berjalan mulus.

Banyak tantangan dan rintangan yang dihadapi termasuk mengenai penunjukan kepala wilayah. Uqbah bin Nafi sebagai orang yang sangat berjasa dalam penaklukan Afrika (seluruh Tunisia, sebagian Libya dan sebagian Al Jazair) serta keberhasilannya dalam membangun sebuah pusat peradaban Islam di Afrika Utara nyatanya diberhentikan dari posisinya, lalu digantikan oleh Abu Muhajir Dinar.

Ibn Idhari dalam kitabnya al-Bayan al-Mughrib Fi Akhbar al-Andalus wal Magrib menjelasan bahwa Muawiyah bin Sufyan pada tahun 55 H menunjuk Maslamah bin Makhlad al-Ansari sebagai pemimpin Mesir dan wilayah Afrika lainnya. Maslamah kemudian tiba – tiba mencopot Muawiyah bin Hudaij dari Mesir dan Uqbah bin Nafi dari Afrika. Sebenarnya pada masa pemerintahannya, Uqbah bin Nafi telah meraih banyak pencapaian, di antarnya adalah membangun kota Kairouan sebagai markas besar pasukan Muslim. Keberadaan kota yang dekat dengan pemukiman warga telah berhasil membuat banyak masyarakat dari suku Barbar memeluk agama Islam.

Namun berbeda dengan Maslamah al Ansari, ia melihat bahwa kekuasaan Uqbah bin Nafi hanya mencakup Maghrib al-Adna atau yang dikenal dengan Ifriqiya. Ia tidak melihat adanya perluasan yang begitu signifikan. Oleh karena itu, Abu Muhajir Dinar ditunjuk untuk menggantikan Uqbah bin Nafi. Dengan keluhuran budi perkerti dan kerendahan hatinya, Uqbah bin Nafi menerima dengan lapang dada kabar tentang pemberhentiannya tersebut.

Baca Juga :  Nasab Shafiyyah; Istri Rasulullah Putri Pemimpin Yahudi Bani Quraizhah

Namun nyatanya keadaan justru berbalik, Abu Muhajir Dinar gagal melakukan perluasan ke Maghrib al-Awsath (sebagian Al Jazair selain wilayah di perbatasan Tunisia) maupun Maghrib al-Aqsa (Maroko). Bahkan ia tidak menempati kota di Kairouan yang telah dibangun dengan sangat baik oleh Uqbah justru malah merubuhkannnya dan memindahkan pusat pemerintahan ke Ayat Kairouan yang terletak dua mil dari Kairouan. Hal tersebut tidak sesuai dengan harapan Maslamah al Ansari yang sebelumnya telah mengingatkan Abu Muhajir untuk menggantikan Uqbah dengan cara yang baik karena ia mengetahui bahwa Uqbah merupakan orang yang sangat dihormati masyarakat atas jasa – jasanya dalam merancang kota Kairouan, membangun masjid hingga mendirikan pemukiman – pemukiman warga.

Mengetahui keadaan yang menimpa Uqbah bin Nafi dan kota Kairouan, Muawiyah bin Sufyan berjanji akan mengembalikan posisi Uqbah bin Nafi, namun ia wafat sebelum bisa merealisasikannya. Yazid bin Muawiyah kemudian menunjuknya kembali sebagai pemimpin Ifriqiya dan memintanya untuk memperbaiki apa yang telah terjadi sebelumnya. Tahun 62 H, Uqbah bin Nafi menjabat kembali sebagai pemimpin Ifriqiya. Setelah memperbaiki kota Kairouan, ia melanjutkan perjalannannya ke Barat.

Dalam perjalanannya tersebut Uqbah beserta pasukannya berhasil menaklukan seluruh wilayah Maghribi (Aljazair, Tunisia, Libya dan Maroko). Sebuah pencapaian besar yang belum pernah dilakukan oleh penguasa – penguasa sebelumnya. Dengan begitu, ia telah membuktikan kepiawaiannya sebagai pemimpin Ifriqiya. Sejak saat itulah, Uqbah bin Nafi dijuluki sebagai penakluk Maghribi. Uqbah meninggal tahun 64 H, saat perjalan pulang menuju Kaioruan. Ia bersama pasukannya termasuk Abu Muhajir Dinar terbunuh di Zab, saat terjadi pemberontakan oleh pasukan Barbar dan Romawi yang dipimpin oleh Kusaila.  Wallahu’alam bis showab.

2 KOMENTAR

  1. […] BincangSyariah.Com – Universitas Al-Qarawiyyin di Fes Maroko berawal dari sebuah masjid yang dibangun oleh seorang perempuan bernama Fatimah al- Fihriyyah atau yang dikenal dengan Ummul Banin. Perempuan bernama lengkap Fatimah binti Muhammad bin Abdullah al Fihri ini merupakan  keturunan dari Uqbah bin Nafi al-Fihri seorang panglima Muslim yang berhasil menaklukan Afrika Utara (Al Jazair, Libya, Tunisia dan Maroko). (Biografi Uqbah bin Nafi; Sahabat Nabi Penakluk Benua Afrika) […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here