Upah dan Hak Pekerja dalam Islam

0
421

BincangSyariah.Com – Manusia adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri. Setiap orang pasti membutuhkan pihak lain agar hajat atau kebutuhannya terpenuhi dengan lancar. Seperti ketika orang akan membangun rumah, ia butuh tukang untuk merealisasikan rumah impiannya. Atau ia akan menjalankan bisnis usaha, maka ia butuh pegawai atau karyawan untuk menjalankan bisnisnya.

Ketika mempekerjakan orang lain, maka sudah semestinya ia memberikan hak atas pekerjaan yang telah dilakukan oleh orang itu. Hal ini pun telah diajarkan oleh Rasulullah saw. di dalam hadis sebagai berikut.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَعْطُوا الْأَجِيرَ أَجْرَهُ قَبْلَ أَنْ يَجِفَّ عَرَقُهُ. رواه ابن ماجه.

Dari Abdullah bin Umar, ia berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Bayarlah upah pekerja sebelum keringatnya mengering.” (HR. Ibnu Majah)

Berdasarkan hadis tersebut menunjukkan bahwa Rasulullah saw. mengajarkan kepada umat Islam untuk memanusiakan manusia. Memberikan hak kepada para pekerja yang telah menunaikan kewajibannya sebelum kering keringatnya. Dengan demikian maka, para pekerja itu merasa dihargai usahanya dan semakin tambah semangat untuk bekerja.

Jika ia tidak segera atau bahkan tidak memberikan haknya kepada para pekerjanya, maka ia akan menjadi musuh Rasulullah saw. di hari Kiamat kelak.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: “ثَلَاثَةٌ أَنَا خَصْمُهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ كُنْتُ خَصْمَهُ خَصَمْتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ: رَجُلٌ أَعْطَى بِي ثُمَّ غَدَرَ، وَرَجُلٌ بَاعَ حُرًّا فَأَكَلَ ثَمَنَهُ، وَرَجُلٌ اسْتَأْجَرَ أَجِيرًا، فَاسْتَوْفَى مِنْهُ وَلَمْ يُوفِهِ أَجْرَهُ”. رواه ابن ماجه.

Dari Abu Hurairah r.a., ia berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Adatiga orang yang aku menjadi musuhnya di hari Kiamat, dan siapa yang aku menjadi musuhnya, maka akupun memusuhinya di hari Kiamat, yakni orang yang bersumpah atas namaku lalu ia mengingkarinya, seseorang yang menjual orang merdeka lalu ia memakan (uang) dari harganya, dan orang yang mempekerjakan pekerja, kemudian orang itu menyelesaikan pekerjaannya namun tidak dibayar upahnya.” (HR. Ibnu Majah)

Baca Juga :  Hukum Istri Meminta Upah Menyusui kepada Suami

Dengan demikian, upah dan hak pekerja dalam Islam. Rasulullah saw. telah mengajarkan kita agar memanusiakan manusia dengan membayar upah para pekerja yang telah bekerja untuk kita. Bukan sebaliknya mendzaliminya dengan menangguhkan upah atau gaji yang semestinya ia dapatkan. Semoga kita terhindar dari perilaku tidak terpuji tersebut yang dapat menjadikan kita sebagai musuh Rasulullah saw. di hari Kiamat kelak. Wa Allahu A’lam bis Shawab.



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here