Untuk Jaga Kemurnian Islam, Apakah Kita Harus ke Syam?

0
685

BincangSyariah.Com – Telah banyak hadis-hadis yang mengungkap keberkahan Negeri Syam, salah satunya adalah hadis tentang Islam yang akan senantiasa Berjaya di Negeri Syam. Hadis yang dimaksud adalah hadis yang diriwayatkan oleh ‘Arabadh bin Sariyah, sebagaimana berikut:

أَنَا دَعْوَةُ أَبِي إِبْرَاهِيمَ، وَبِشَارَةُ عِيسَى، وَرُؤْيَا أُمِّي آمِنَةَ الَّتِي رَأَتْ، وَكَذَلِكَ أُمَّهَاتُ النَّبِيِّينَ يَرَيْنَ، وَأَنَّ أُمَّ رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – رَأَتْ حِينَ وَضَعَتْهُ لَهُ نُورًا أَضَاءَتْ لَهَا قُصُورُ الشَّامِ..

“Aku (Muhammad) adalah seruan ayahku, Ibrahim, dan kabar gembira Isa, serta mimpi ibuku ketika ia melihat dalam mimpinya, demikian pula ibu-ibu para nabi sebelumnya, …ketika itu, ibu Rasulullah mengandung beliau, ia menyaksikan cahaya meliputi Muhammad.. Cahaya tersebut membuat istana-istana Syam memancarkan cahayanya…”

Hadis ini dapat dijumpai dalam Mustadrak ‘Ala al-Shahihain, juga dalam Musnad al-Thabrani dan Musnad Ahmad bin Hanbal. Menurut Imam al-Dzahabi, Ibn Hibban dan Imam Hakim, hadis tersebut memiliki kualitas shahih. Dengan demikian, ia memiliki konsekuensi untuk diamalkan atau diyakini.

Dalam riwayat lain terdapat tambahan “bushra” dalam kalimat “Adhaa’at lahaa qushuuru bushra..” secara spesifik bushra adalah nama suatu tempat di Syam, tepatnya di suatu kota yang pernah didatangi oleh Rasulullah bersama Maisarah ketika mereka hendak menjual dagangan Khadijah RA.

Kota ini sendiri sangat dekat dengan Gereja yang ditempati oleh Rahib Buhaira. Juga tidak begitu jauh dengan Damaskus. Karena alasan ini, al-‘Iraqi menyebutnya sebagai kawasan Syam yang pertama kali didatangi oleh cahaya Muhammad (Nur Muhammady), tempat di mana cahaya itu berasal, dan kerajaan yang dilihat oleh Aminah, ibu Rasulullah SAW.

Dalam kitab Dalail al-Nubuwwah, Imam Baihaqi menjelaskan maksud dari riwayat di atas dalam tiga bagian. Pertama,  doa atau seruan Ibrahim yang dimaksud dalam riwayat di atas adalah doa Nabi Ibrahim ketika beliau hendak mendirikan Baitullah di Mekah al-Mukarramah.

Doa tersebut berisi harapannya agar Mekah dijadikan sebagai tempat yang aman, ia juga beroda agar hati orang-orang terpikat untuk datang ke Mekah, serta berdoa agar penduduknya dilimpahi rezeki yang berlimpah. Kemudian ia melanjutkan doanya yang termaktub dalam surah Albaqarah ayat 129, “Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka al-Kitab (Alquran) dan hikmah serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.”

Baca Juga :  Ulama-ulama Beristri Galak

Doa ini kemudian dijawab oleh Allah SWT dengan mengutus seorang Nabi dari bangsa Arab, yakni Nabi Muhammad SAW. Untuk alasan ini Nabi Muhammad kemudian mengatakan, “Aku adalah seruan ayahku, Ibrahim AS..”

Kedua, menurut Imam al-Baihaqi, sabda Nabi, “Aku adalah kabar gembira ‘Isa AS..” dimaksudkan bahwa sebelum kedatangan Nabi Muhammad SAW, jauh-jauh hari Bani Israil telah diberikan kabar bahagia melalui Nabi Isa akan datangnya seorang nabi terakhir, nabi yang dimaksud tidak lain adalah Nabi Muhammad SAW.

Dan yang ketiga, yang dimaksud dengan mimpi Aminah, Ibu Nabi Muhammad yang menyaksikan cahaya yang menyinari istana Syam, adalah sebuah tanda bahwa ia akan melahirkan seorang utusan alam semesta, sayyidul ummah. Diriwayatkan bahwa Aminah memeroleh informasi bahwa ia akan melahirkan seorang Nabi, dan tanda-tandanya adalah ia akan bermimpi tentang cahaya yang akan menyinari Istana Syam. Dan ketika anak tersebut lahir, ia disarankan untuk menamainya Ahmad, sebagaimana yang tertera dalam Taurat dan Injil. Yang memiliki makna bahwa anak tersebut adalah seorang yang akan dipuji baik di bumi maupun di langit.

Oleh beberapa ulama, hadis di atas dianggap hadis tentang kekhususan Negeri Syam sebagai tempat bersemayamnya agama Islam di akhir zaman, hal ini disebabkan karena cahaya tersebut muncul dan bersinar di negeri Syam, dan juga karena Isa akan turun ke negeri tersebut. Inilah alasan mengapa Ibn Katsir menyebut bahwa Syam adalah Ma’qalan li al-Islam wa Ahlih (tempat berlindung agama Islam dan pemeluknya).

Ibn Rajab al-Hanbali mengutip berita dari Ka’b al-Ahbar, seorang sahabat yang dulunya seorang Yahudi. Ia menyebut bahwa dalam kitabnya, Muhammad diceritakan dilahirkan di Mekah, kemudian dihijrahkan ke Yatsrib atau Madinah, dan kerajaannya adalah Syam. Dari Mekah dimulai kenabiaannya, dan kerajaannya berakhir di Syam, karenanya Nabi SAW diisra’kan ke negeri Syam, lebih tepatnya ke masjid al-Aqsha.

Syekh Shalih al-Munajjid dalam Thuba al-Syam, mengutip pendapat yang mengatakan bahwa para nabi terdahulu umumnya dilahirkan di Syam, jika mereka tidak berasal dari Syam, maka mereka akan dihijrahkan ke Syam. Karena itu, agama Islam (ilmu dan keimanan) pada akhirnya akan bersemayam di negeri Syam di akhir zaman.

Baca Juga :  Benarkah Syam Benteng Terkuat untuk Menjaga Keimanan?

Tidak ada riwayat yang bersumber dari Nabi atau pun sahabat yang secara langsung menyebut bahwa Syam adalah tempat bersemayamnya agama dan umat Islam pada akhir zaman. Jika diperhatikan pendapat-pendapat di atas tidak lebih hanya sekedar opini atas hadis yang muncul yang berkenaan dengan Syam. Secara eksplisit Nabi tidak pernah menyebutkan hal itu.

Jika diperhatikan, secara umum hadis tersebut lebih mengungkapkan fakta bahwa Nabi Muhammad SAW adalah Nabi yang memiliki ciri-ciri yang sama persis dengan yang diberitakan baik oleh Nabi Ibrahim AS maupun Nabi Isa AS, atau nabi-nabi sebelumnya. Opini semacam itu juga bertentangan dengan kelanjutan riwayat di atas yang mengutip firman Allah surah al-Ahzab.

يَأَيُّهَا النَّبِيُّ إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا وَدَاعِيًا إِلَى اللَّهِ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيرًا.

“Wahai Nabi! Sesungguhnya kami mengutus engkau sebagai saksi, pemberi kabar gembira, pemberi peringatan, dan sebagai penyeru ke jalan Allah dengan izin Allah. Serta kami utus engkau sebagai lampu yang menerangi.”

Firman di atas tampak menunjukkan bahwa Nabi SAW diutus dan mengemban misi bagi seluruh alam, tidak ada yang mengkhususkannya kepada bangsa Arab, atau hanya orang-orang Syam semata. Umat Islam di dunia saat ini mencapai hampir seperempat jumlah manusia di dunia. Mereka tinggal menyebar di beberapa negara, baik sebagai kelompok mayoritas maupun minoritas.

Sebagai mayoritas mereka singgah di 44 negara seperti negara-negara Timur Tengah dan beberapa negara Asia. Meskipun 90% masyarakat Timur Tengah beragama Islam, namun mereka bukanlah yang terbesar. Empat negara dengan penduduk muslim terbesar adalah Indonesia, Pakistan, Bangladesh, dan India. Bukan Syam atau bangsa Arab lainnya yang merupakan mayoritas Islam.

Namun tidak salah juga apa yang diutarakan oleh Ibn Katsir di atas bahwa memang Syam memiliki sejarah panjang terkait para nabi terdahulu dan ulama-ulama yang menjaga keislaman dan keimanan mereka. Tercatat Ibrahim, Nuh, Luth, Musa, Isa dan banyak lagi yang lainnya pernah singgah di sana, bahkan Habil pun kabarnya dikuburkan di sana, tepatnya di dekat Damaskus.

Baca Juga :  Membincang Hadis 'Syam adalah Rumah Utama Umat Islam'

Sahabat Nabi SAW pun banyak yang pernah tinggal di sana sebut saja Bilal bin Rabah, Sa’d bin ‘Ubadah, Abu Darda’ dan banyak lagi yang lainnya. Sedangkan ulama-ulama dengan karya dan wawasannya yang sangat luas dari berbagai bidang juga banyak dilahir dari Negeri Syam, sebut saja ‘Abdurrahman bin ‘Amr al-Auza’i (w. 157 H), Abu Ishaq al-Fazari (w. 186 H), Abu Zur’ah al-Dimasyqi (w. 280 H), Abu al-Qasim al-Thabrani (w. 360 H), Ibn ‘Asakir (w. 571 H), Ibn Qudamah al-Maqdisi (w. 260 H), Ibn Shalah (w. 643 H), Abu al-Hajjaj al-Mizzi (w. 742 H), al-Dzhabi (w. 748 H), dan banyak lagi yang lainnya.

Terdapat ironi yang muncul ketika pada akhir zaman nanti Islam hanya akan berpusat di Syam, pasalnya riwayat-riwayat akhir zaman yang membawa nama Syam tidak hanya terkait keimanan dan keislaman, tetapi juga terkait kemunculan Dajjal, Yajuj dan Majuj, Perang Besar (Malhamah Kubra) dan munculnya api yang menggiring manusia ke arah Syam.

Al-Imam al-Bukhari dalam Jami’ al-Shahihnya justru memasukkan hadis-hadis tersebut ke dalam hadis fitnah akhir zaman bukan hadis-hadis keutamaan negeri Syam. Tampaknya nomenklatur fitnah akhir zaman berkaitan dengan hadis-hadis yang khusus berkaitan dengan Syam lebih tepat dibandingkan dengan keutamaan Syam di akhir zaman. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah dapatkan keimanan dan keislaman berjalan beriringan dengan bencana besar? Bencana yang kemudian membuat semua orang mengungsi, baik penduduk maupun ulama-ulama kelahiran Syam?

Cahaya yang dipancarkan nabi dan para pewarisnya saat ini sudah dirasakan oleh seluruh umat manusia di dunia, hal ini bisa dinikmati dengan merujuk karya-karya ulama-ulama yang telah banyak menuliskan ilmu mereka. Oleh sebab itu, tidak perlu lagi seseorang -hanya karena mendengar keutamaan Negeri Syam- kemudian melibatkan diri dalam peperangan yang tidak tentu arah. Bukankah keutamaan seseorang bukan dilihat di bumi mana ia berpijak tetapi bagaimana ia berpijak? Wallahu a’lam



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here