Ummu Sulaim binti Milhan: Ibunda Sahabat Anas bin Malik

1
798

BincangSyariah.Com –  Perempuan memegang peranan penting dalam tatanan kehidupan manusia. Dalam Islam, hal ini telah ada sejak era Rasulullah Saw. Di masa itu telah banyak bermunculan wanita -wanita tangguh salah satunya adalah Ummu Sulaim binti Milhan.

Perempuan asal Bani Najjar ini diberi gelar Ghumaisha atau Rumaisha. Konon, gelar tersebut disematkan kepadanya karena beliau berhasil menyembuhkan penyakit yang menjangkiti kedua bola matanya.

Selain sebagai seorang periwayat hadis, Ummu Sulaim dikenal juga sebagai perawat di masa itu. Beliau sering kali bertempur bersama Rasulullah Saw dan ditugasi untuk merawat para prajurit yang terluka.

Ummu Sulaim termasuk dalam golongan Anshar. Tepatnya beliau berasal dari suku Khazraj, sebuah suku yang menetap di Madinah. Beliau dikelilingi oleh keluarga muslim. Imam Ahmad dan Bukhari mencatat bahwa ibunya yang bernama Mulikah pernah memberikan makanan hasil masakannya sendiri kepada Rasulullah Saw.

Sementara saudari kandungnya yakni Ummu Haram binti Milhan adalah istri dari seorang Sahabat ternama, Ubadah bin Shamit. Adapun kedua saudaranya, Haram dan Sulaim sama – sama mujahid. Mereka berdua meninggal di pertempuran Bir Mauna.

Di kalangan masyarakat Madinah, keislaman Ummu Sualim termasuk yang paling awal. Beliau berislam tatkala mendengar kabar bahwa Rasulullah Saw akan berhijrah ke Madinah.

Beliaupun mulai mencari tau siapa itu Rasulullah dan ajaran apa yang beliau bawa. Sampai pada akhirnya Ummu Sulaim mantap bersyahadat dan mendedikasikan dirinya untuk membantu dakwah Nabi Muhammad Saw.

Amin Umar dalam karyanya Ummu Sulaim binti Milhan Da’iyah mengisahkan bahwa semasa hidupnya, Ummu Sulaim pernah menikah dua kali. Suami pertamanya adalah Malik bin Nadhr. Sang suami tidak pernah menyetujui jika istrinya mengikuti agama Nabi Muhammad Saw.

Baca Juga :  Tafsir Surah al-'Ashr; Belajar Menghargai Waktu Cerminan Mukmin Sejati

Kendati kerap kali mendapat penolakan, Ummu Sulaim tetap berupaya mengenalkan suaminya tentang betapa indahnya ajaran agama Islam. Namun, ajakannya itu tidak pernah membuahkan hasil. Malik tetap menganut kepercayaan lamanya hingga ia wafat saat bepergian menuju Syam.

Pernikahannya dengan Malik dianugerahi seorang putra yang begitu cerdas. Dia adalah Anas bin Malik. Tidak seperti ayahnya, Anas kecil menuruti ajakan ibunya untuk mengucap syahadat. Sang ibu pula lah yang mengenalkan Anas kepada Rasulullah Saw. (Baca: Ini Doa Anas bin Malik Ketika dalam Kesulitan)

Anas bin Malik sangat istimewa. Selain pernah mengabdikan diri sebagai pelayan Rasulullah selama sepuluh tahun, beliau juga pernah didoakan Rasulullah atas permintaan ibunya. Rasul berdoa “Ya Allah berikanlah ia harta yang melimpah, keturunan yang banyak dan masukanlah ia ke dalam surga”.

Ummu Sulaim adalah figur wanita yang sangat perhatian dan peduli terhadap pertumbuhan anaknya. Itulah alasan kenapa pasca suaminya wafat, ia memutuskan untuk tidak menikah lagi sampai anaknya tumbuh besar.

Beberapa tahun kemudian setelah Anas beranjak dewasa, datanglah seorang saudagar kaya Madinah bernama Abu Thalhah. Ia berniat untuk meminang Ummu Sulaim. Ummu Sulaim menolak lamarannya tersebut, alasannya simpel. Karena kala itu Abu Thalhah adalah seorang musyrik.

Ia mengatakan bahwa dirinya akan menerima pinangannya jika Abu Thalhah bersedia masuk Islam. Ia pun menegaskan bahwa ia tidak menginginkan apapun selain keislamannya tersebut.

Mendengar penjelasan Ummu Sulaim, seketika Abu Thalhah terpesona. Wanita ini begitu mulia. Tidak gelap harta dan jabatan padahal yang hendak menikahinya adalah seorang bangsawan terhormat nan kaya raya.

Dalam Hayat As Sahabat dikisahkan setelah pertemuan itu, Abu Thalhah bergegas menemui Rasulullah Saw. Ketika ia hampir mendekati Rasul, Rasulullah berkata “Ini adalah Abu Thalhah, nampak di antara kedua bola matanya keagungan Islam”.

Setelah itu Abu Thalhah mengucap salam diiringi ucapan kalimat dua syahadat. Rasulullah lalu menikahkan Abu Thalhah dengan Ummu Sulaim. Dari kisah tersebut kemudian muncul suatu riwayat berbunyi : “Tidak ada mahar yang paling mulia dibanding maharnya Ummu Sulaim yakni berupa keislaman seseorang”.

Sampai akhir hayatnya keduanya konsisten saling bahu membahu dalam menyebarkan nilai – nilai ajaran agama Islam. Abu Thalhah meninggal di tahun 34 H saat bertempur melawan Romawi di lautan namun pendapat lain mengatakan beliau wafat di Madinah. Sementara Ummu Sulaim menurut Az Zirikli wafat di sekitaran tahun 30 H.

Baca Juga :  Ummu Sulaim dan Lika-Liku Hidupnya

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here