Ummu Ri’lah Al-Qusyairiyyah; Ahli Diplomasi dan Pejuang Hak Perempuan di Masa Rasulullah

0
60

BincangSyariah.Com – Di masa Rasulullah, hiduplah seorang wanita cerdas, fasih dalam berbahasa dan pandai berdiplomasi. Dia orang yang cukup setia terhadap Rasulullah dan bernyali besar karena berani bertanya soal persamaan hak perempuan di depan Rasulullah Saw. Wanita ini tidak lain adalah Ummu Ri’lah al-Qusyairiyyah.

Ummu Ri’lah merasa gelisah, sebab perempuan cenderung hanya bisa beribadah terbatas di sekitar rumah. Mereka tidak mendapat porsi besar di jajaran militer. Sementara para pria bisa bergerak leluasa, meraih pahala yang begitu besar dengan berjihad di medan perang. Untuk mengobati kegundahan hatinya, Ummu Ri’lah segera menemui Rasulullah.

”Assalamualaika wahai Rasulullah, warahmatullahi wabarakatuhu. Kami para wanita adalah penghuni di balik tirai, tempatnya sarung para suami (menemani tidur suami) dan pendidik anak-anak. Kami tidak memiliki jatah dalam jajaran militer. Maka, ajarilah kami amalan yang dengannya bisa mendekatkan kami kepada Allah Swt”.

Rasulullah menjawab, “Berzikirlah di sepanjang siang dan malam hari, tundukkan pandangan serta rendahkan suara”.

Lalu Ummu Ri’lah berkata, ”Wahai Rasulullah, aku adalah perias wanita, aku merias dan mempercantik mereka untuk suami – suami mereka, apakah itu perbuatan dosa, sehingga aku harus menyudahinya ?” Rasul menjawab, “Wahai Ummu Ri’lah, riaslah mereka dan persolek mereka jika belum mendapat jodoh.”

Setelah itu, Ummu Ri’lah seakan menghilang, sampai Rasulullah wafat. Ummu Ri’lah melaksanakan perintah Rasulullah, dia berzikir setiap saat. Tatkala mendengar kabar meninggalnya utusan Allah, beliau kembali menampakan diri di Madinah. Saat itu umat Islam di bawah komando Khalifah Abu Bakar tengah sibuk memberantas para pembelot dari kalangan murtaddin.

Kepergian Rasul untuk selama-lamanya, membuat Ummu Ri’lah begitu terpukul. Saking sedihnya, beliau mengajak Hasan dan Husein, kedua cucu Rasulullah untuk menyusuri jalan setapak Madinah, beliau menangis sambil melantunkan sebuah syair.

Baca Juga :  Ini Alasan Ibnu Khaldun Tak Percaya Soal Kemunculan Imam Mahdi

“Wahai rumah Fathimah yang makmur halamannya, rumah itu membangkitkan kesedihanku setelah lama aku hidup di dalamnya”. Mendengar gubahan tersebut, kota Madinah bergemuruh. Dikisahkan tidak ada satu rumah pun yang penghuninya tidak menangis.

Dari kisah ini kita bisa belajar bahwa Islam tidak mengucilkan keberadaan perempuan. Justru dalam sejarahnya, Islam telah mengangkat derajat dan martabat mereka. Jika dulu masyarakat Arab Jahiliah tega membunuh bayi perempuan sebab dianggap sial atau beban. Maka Islam hadir untuk melerainya.

Jika dulu, perempuan dianggap lemah, tidak sehebat laki–laki sehingga tidak perlu mendapat pendidikan. Bahkan di peradaban lain, mereka tak lebih dari barang yang boleh diperjualbelikan. Maka Islam hadir untuk menegakkan hak mereka sesuai kodratnya. Islam secara tegas melarang segala tindak kekerasan dan diskriminasi serta mendorong pendidikan bagi perempuan.

Begitu juga dalam hal peribadatan dan perolehan pahala. Laki – laki maupun perempuan memiliki kesempatan yang sama untuk itu.

Allah berfirman dalam Surah An Nahl ayat 97 yang artinya,”Barang siapa yang mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya kami berikan kepadanya kehidupan yang baik. Dan sesungguhnya kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”.

Berkaitan dengan ayat ini, mufassir kontemporer asal Tunisia, Syekh Thahir Ibnu Asyur menegaskan dalam tafsirnya Tahrir wa Tanwir bahwa kalimat min dzakarin wa untsa menunjukkan makna umum. Artinya, hukum Islam berlaku sama terhadap laki – laki maupun perempuan, hanya saja ada kekhususan – kekhususan tertentu terhadap salah satu di antara keduanya.

Kemudian Allah berfirman dalam Surah Al Hadid ayat 12 yang artinya,”(yaitu) pada hari kamu melihat orang mukmin laki – laki dan perempuan, sedang cahaya mereka bersinar di hadapan dan di sebelah kanan mereka. (Dikatakan pada mereka), pada hari ini ada berita gembira untukmu, yaitu surga yang mengalir di bawahnya sungai – sungai, yang kamu kekal di dalamnya. Itulah keberuntungan yang besar”.

Menurut Syekh Ibnu Asyur, penggunaan redaksi mu’minat kepada mu’minin merupakan indikasi bahwasanya bagian perempuan di dalam agama Islam sama dengan bagian laki – laki, kecuali terhadap apa – apa yang dikhususkan kepada perempuan.

Baca Juga :  Tempat Ayah Nabi Muhammad Dimakamkan

Jihad dengan berperang fi sabilillah bernilai pahala besar. Dan memang identik dengan kaum laki – laki yang secara fisik memiliki kekuatan lebih besar. Namun, hal ini tidak berarti bahwa perempuan tidak bisa berjihad dan tidak memiliki kesempatan untuk mendapat pahala yang setara dengan berperang.

Bahkan sejarah mengatakan bahwa perempuan pun ikut andil saat perang. Misalnya bertugas sebagai perawat dan dokter untuk mengobati luka – luka prajurit sebagaimana dilakukan oleh Rufaidhah dkk. Hanya saja jumlah mereka terbatas sebab perlu keahlian khusus.

Lalu bagaimana nasib mereka yang tidak ikut bertempur? Rasulullah dengan bijak mengatakan, berdzikir siang malam, menundukkan pandangan dan merendahkan suara, pahala dan keutamaannya setara dengan jihad.

Tiga amalan ini memang tidak meneteskan darah seperti berperang, tapi untuk istiqamah melakukannya tentu dibutuhkan tenaga dan kesabaran ekstra. Oleh sebab itu ketiganya masuk dalam kategori jihad.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here