Umat Beragama di Era Revolusi Industri 4.0

1
2497

BincangSyariah.com – Budaya modernisasi semakin marak, meluas dan semakin menyebar. Terlebih ketika dunia semakin menyempit dan manusia semakin mudah untuk berinteraksi dengan manusia lain dibelahan dunia lain. Kondisi ini menyebabkan nilai-nilai yang dipegang oleh manusia yang sebelumnya bersifat partikular kini kian universal. Perubahan lainnya dapat terlihat dari pola pikir manusia yang kian rasional dan fungsional.

Perubahan tersebut kemudian menjadi tantangan bagi agama yang dianut manusia modern. Dalam tesis-tesis sekulerisme, manusia modern menyingkirkan agama dari rung publik, dan mengedepankan aspek rasional. Pola pikir ini karena agama dianggap tidak bisa berjalan bersama ilmu pengetahuan serta menghambat laju modernitas. Padahal tesis yang demikian memiliki kekeliruan besar. Selain karena telah pula dibantah oleh teoritis sosial seperti Peter L. Berger. Kekeliruan tersebut juga tidak sesuai dengan ayat Alquran yang justru memuji orang-orang yang berpikir. Allah Swt. memuji mereka diantaranya dalam surah Āli ‘Imrān [3]: 190,

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِّأُولِي الْأَلْبَابِ

Sesungguhnya pada penciptaan langit, bumi, dan perbedaan siang dan malam terdapat tanda-tanda (kekuasaan-Nya) bagi orang-orang berpikir (Ulul al-Albāb).

Menyikapi ayat diatas globalisasi mendorong manusia khususnya umat beragama harus mampu menghadapi percaturan global, harus dapat menangkap peluang dan menghadapi tantangan abad 21. Hal ini karena permasalahan pembangunan peradaban bukan dari ajaran agama, melainkan manusianya. Sebagai contoh, umat Islam pernah memiliki peradaban modern yang ditandai dengan adanya perpustakaan Bait al-Hikmah yang memproduksi pengetahuan.

Melihat dari hal itu, revolusi Industri 4.0 tidak perlu dianggap ancaman bagi agama, pun sebaliknya agama bukanlah ancaman terhadap revolusi Industri 4.0. Dalam kaitan ini perlu ditekankan pentingnya usaha mengharmoniskan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) dengan agama (Imtaq). Iptek harus selalu dilandasi oleh nilai-nilai moral-agama agar tidak bersifat destruktif terhadap nilai-nilai kemanusiaan (dehumanisasi). Sedangkan ajaran agama harus didekatkan dengan konteks modernitas, sehingga dapat bersifat kompatibel dengan segala waktu dan tempat.

Baca Juga :  Abul Husain Nuri Belajar Menjaga Ketenangan dalam Bermeditasi dari Kucing

Hal ini merupakan keniscayaan yang mesti harus dihadapi oleh umat beragama karena revolusi industri 4.0 yang mesti harus dipahami bagi kita semua adalah munculnya inovasi disruptif (disruptive innovation) adalah inovasi yang memunculkan kondisi baru yang kadang tidak banyak yang bisa menduga, mengganggu atau merusak kondisi yang sudah ada.

Fenomena ini setidaknya dipengaruhi oleh beberapa hal seperti adanya kesadaran providensi setiap individu, ketidakberhasilan modernisasi dan industrialisasi dalam mewujudkan kehidupan yang lebih bermakna. Agama tetap akan memegang peranan penting di masa mendatang, terutama dalam memberikan landasan moral bagi perkembangan sains dan teknologi. Maka dari itu, peran agama pada masa modern dirasakan masih sangat penting. Karena agama dapat melengkapi sisi moral, etika dan memberi makna terhadap dunia modern.



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here